Kemitraan Kunci Sukses Replanting Sawit Petani

0
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Tahun 2020 ini Asian Agri sukses melakukan program replanting atau peremajaan tanaman sawit bersama petani mitra di Buatan dan Ukui Riau seluas 2.390 ha. Rencananya, awal tahun 2021, Asian Agri merencanakan bakal mereplanting seluas 1.830 ha di Buatan Ukui dan Jambi.

Hal tersebut disampaikan Head of Partnership Asian Agri, Rudy Rismanto saat membuka bincang bersama petani sukses binaan Asian Agri melalui virtual, Kamis,24/9/2020. Menurutnya, Asian Agri merupakan salah satu perusahaan swasta nasional terkemuka di Indonesia yang memproduksi minyak sawit mentah melalui perkebunan yang dikelola secara berkelanjutan.

Berdiri sejak tahun 1979, Asian Agri saat ini telah berkembang menjadi salah satu perusahaan kelapa sawit terbesar di Asia yang mengelola perkebunan kelapa sawit seluas 100.000 hektar di Sumatera Utara, Riau dan Jambi, serta didukung oleh 25.000 orang karyawan yang bergabung dan berkembang bersama perusahaan.

“Bisnis kami meliputi pembibitan, penanaman, hingga pengolahan tandan buah segar (TBS) untuk menghasilkan minyak sawit berkelanjutan di pabrik yang berteknologi tinggi dan ramah lingkungan,” terangnya.

Melalui kebijakan keberlanjutan perusahaan, Asian Agri senantiasa berkomitmen dalam menerapkan praktik terbaik.
Terkait petani binaan Asian Agri yang sudah sukses, Rudy mengatakan bahwa petani di KUD Tulus Rahayu pada tahun 2019 lalu menghasilkan TBS 15 ton per-ha. Tahun 2020 ini ditargetnya bisa menghasilkan 25 ton per-ha. Petani binaan di KUD Bina Usaha Baru Ukui tahun ini target produksi TBS mencapai 21 ton perha.

Rudy menambahkan, untuk program replanting bersama petani mitra, tahun 2020 ini sudah melakukan replanting seluas 2.390 ha di Buatan dan Ukui. Awal tahun 2021 kebun sawit petani mitra yang bakal di replanting seluas 1.830 ha di Buatan Ukui dan Jambi.
“Masih banyak petani lainnya yang akan mengikuti replanting dalam program kemitraan bersama Asian Agri,” terangnya.

Fasilitator madya SKE.MK Provinsi Riau, H Logo Siregar mengatakan bahwa kemitraan merupakan salah satu hal terpenting dalam upaya mereplanting kebun sawit.

Karena dengan kemitraan antara petani dengan Asian Agri mampu menghadapi segala situasi dan kondisi. Menurutnya, kemitraan antara petani dan Asian Agri memberikan banyak hal yang luar biasa kepada petani kelapa sawit karena konsep kemitraan membawa kesuksesan dan kesejahteraan petani.

“Saya bertemu dengan petani baik yang masih berjalan pada konsep kemitraan maupun yang tidak lagi berada di konsep kemitraan. Saya melihat di lapangan kawan kawan yang keluar dari konsep kemitraan mampu menanam apalagi dalam fase kedua. Tapi dalam perawatannya mereka menemui kesulitan. Apalagi saat tanaman terserang hama. Marilah kita kembali pada konsep kemitraan untuk meraih kesuksesan dan kesejahteraan petani,” katanya.

Petani sawit Plasma di Ketua KUD Tulus Rahayu, Pawito Saring mengatakan bahwa replanting pasti datang. Untuk itu program kemitraan sangat membantu petani melakukan replanting.
“Apalagi saat ini bibit sawitnya unggul buatan pang Ang Boom Beng dan mampu memproyeksikan hasil panen yang meningkat dari sebelumnya. Proyeksi tahun ini Hingga September petani tulus Rahayu sudah menghasilkan 16.88 ton per-ha. Optimis menghasilkan 25 ton per-ha akan tercapai,” terangnya.

Antonius Tulus petani Ketua KUD Bina Usaha Baru mengatakan bahwa luas kebun sawit KUD Bina Usaha Baru seluas 616 ha. 472 ha diantaranya sudah ikut program kemitraan dengan Asian Agri.

“Kami sudah 33 tahun bermitra dengan Asian Agri. Dimulai dari orangtua orangtua kita dahulu. Hingga mulai replanting pada 2016 lalu. Motivasi kami bermitra dengan Asian agri adalah meningkatkan kesejahteraan kami para petani sawit,” terangnya.

Terkait program kemitraan bersama Asian Agri, Antonius Tulus mengatakan bahwa selama belum mendapat hasil setelah program replanting, ada bantuan dari perusahaan mitra berupa ternak sapi, ayam, puyuh, lele. Termasuklah berbagai pelatihan dan studi banding di berbagai daerah sebagai bentuk pembinaan dari perusahaan mitra.

Terkait program kemitraan, Senior Breeder Asian Agri, Ang Boon Beng mengatakan bahwa banyaknya pujian bagi topaz menjadi beban berat bagi dirinya. Karena ia harus bisa menciptakan bibit dengan kualitas yang lebih unggul.

“Kita sudah miliki bibit unggui seri 1 seri 2 seri 3 dan kini sudah menuju seri 4. Bibit yang lebih unggul. Perlu ada riset untuk bisa mendapatkan bibit hibrida yang lebih baik dan cocok dengan kondisi tanah dan kebun di Riau,” tutupnya

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini