
Pelaku industri benih dan produk perlindungan tanaman (Prolintan) menilai lonjakan harga minyak dunia dan pelemahan rupiah terhadap dolar AS meningkatkan biaya produksi berbagai agroinput yang digunakan sektor pertanian.
Ketua Umum Asosiasi Benih Indonesia (Asbenindo), Ayub Darmanto mengatakan kenaikan harga minyak yang terjadi sejak memanasnya konflik di Timur Tengah memengaruhi berbagai komponen biaya produksi benih di dalam negeri.
“Kalau kita bicara produksi benih di dalam negeri, ternyata dengan adanya kenaikan minyak yang luar biasa itu sangat mempengaruhi komponen input daripada biaya-biaya yang dilakukan oleh produsen benih di dalam negeri,” kata Ayub dalam media briefing bertema Harga Agroinput dan Beban Produksi Meningkat: Apa Solusi Industri? di Jakarta, Senin (8/6).
Menurut dia, dampak kenaikan biaya tidak hanya dirasakan pada produksi benih dalam negeri, tetapi juga pada benih impor. Harga mulsa plastik, pupuk impor, pestisida, hingga bahan kemasan mengalami kenaikan seiring melonjaknya harga minyak dunia.
Ayub menambahkan, tekanan semakin besar karena sebagian benih hortikultura masih harus diimpor, seperti kubis, sawi putih, pakcoy, kembang kol, dan brokoli. Di sisi lain, transaksi pembelian dilakukan menggunakan dolar AS maupun euro, sementara penjualan di dalam negeri menggunakan rupiah.
“Jadi dengan adanya perubahan harga, terus terang saja sangat memukul kami sebagai salah satu pelaku di perbenihan ini. Kenapa? Karena kita menjualnya dengan Rupiah, tapi kita belinya dalam bentuk Dolar maupun Euro,” ujarnya.
Dia menjelaskan kondisi tersebut membuat pelaku usaha harus berhati-hati dalam menentukan harga. Pasalnya, pelemahan rupiah dapat meningkatkan biaya pembayaran kepada pemasok luar negeri, terutama bagi perusahaan yang memperoleh fasilitas pembayaran tempo.
Sementara itu, Dewan Pembina Alishter, Midzon Johanis mengatakan industri Prolintan juga menghadapi tekanan akibat kenaikan harga minyak dan pelemahan nilai tukar rupiah.
Menurut Midzon, sekitar 85-90 persen bahan aktif pestisida masih diimpor, terutama dari Tiongkok. Selain bahan aktif, bahan tambahan dan kemasan yang digunakan industri juga banyak berbasis minyak bumi sehingga sangat sensitif terhadap pergerakan harga energi global.
“Kalau kita lihat jika harga minyak naik maka otomatis harga-harga active ingredient dan juga bahan-bahan inert juga pasti akan naik. Diperparah dengan keadaan dolar karena sekitar 85 sampai 90 persen kita masih impor bahan aktifnya,” kata Midzon.
Dia menambahkan struktur biaya produksi pestisida didominasi bahan aktif, bahan tambahan, dan kemasan yang sebagian besar masih bergantung pada impor. Kenaikan harga bahan baku plastik juga berdampak pada kemasan pestisida yang umumnya menggunakan HDPE dan PET.
“Kalau ini meningkat maka sangat menggerus marjin dari industri, itu pasti, enggak bisa tidak,” ujarnya.
Midzon mengatakan industri saat ini masih berupaya menahan kenaikan harga agar tidak semakin membebani petani. Namun, kondisi tersebut tidak dapat berlangsung terus-menerus apabila tekanan biaya produksi terus meningkat.
Karena itu, dia berharap pemerintah dapat mempertimbangkan pemberian insentif fiskal maupun dukungan lainnya untuk membantu industri menjaga pasokan agroinput bagi sektor pertanian.
“Semestinya pemerintah hadir juga di sini untuk bisa membantu industri dan pada akhirnya untuk membantu para petani kita semua,” katanya.




























