
Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman mengatakan ekspor beras ke Malaysia dapat dilakukan karena ketersediaan beras saat ini masih mencukupi. Dia menyebut stok beras di Bulog mencapai 5,2 juta ton.
Mentan Amran menghitung kekuatan beras saat ini sekitar 25-26 juta ton. Perhitungan itu mencakup stok di Bulog sebesar 5,2 juta ton, beras yang berada di (Hotel, Rumah Makan, Kafe (Horeka), serta produksi dari tanaman yang sudah tertanam atau standing crop.
“Kita hitung 3,8 juta, itu produksinya estimasi beras itu 10 juta sampai 10,8, 10,4, 10 juta ton. Oke, kemudian yang ada di Horeka, rumah-rumah, kemudian macam-macam, itu ada 10 juta lebih. Berarti sudah 20 juta, bener nggak? Dihitung kemarin itu di Bulog 5,2, berarti 26 juta. Anggaplah 25 atau 26 juta ton,” kata Mentan Amran.
Sementara itu, lanjut dia, kebutuhan beras masyarakat sekitar 2,5-2,6 juta ton per bulan. Dengan hitungan tersebut, Mentan Amran menyebut ketersediaan beras mencapai sekitar 10 bulan ke depan.
“Kalau 25 juta ton 26 juta ton berarti 10 bulan kan. Clear. 10 bulan berarti mulai Agustus, September, Oktober, November, Desember, Januari, Februari, Maret, April, Mei. Kekuatan beras kita sampai Mei tahun depan,” ujarnya.
Mentan Amran mengatakan perhitungan tersebut belum termasuk tanaman yang ditanam hingga Desember. Dia juga menyebut panen puncak masuk pada Februari. “Ini aman,” kata nya.
Indonesia dalam waktu dekat ini akan mengirim 1.000 ton beras premium ke Malaysia sebagai tahap awal ekspor. Jumlah tersebut merupakan bagian dari potensi ekspor hingga 200.000 ton untuk memenuhi kebutuhan beras di Sarawak.
Mentan Amran menyebut harga yang disepakati sebesar Rp 17.000 per kilogram. Dengan volume 200.000 ton, nilai ekspor tersebut mencapai Rp3,39 triliun.
“Nilainya 3,39 triliun kalau 200.000 ton. Tetapi harapan kita kalau bisa kita rebut yang 1 juta,” katanya.
Mentan Amran mengatakan pengiriman 1.000 ton tersebut diupayakan berlangsung pada pekan ini. Dia menyebut ekspor dilakukan secara bertahap dan perkembangan pengiriman akan dilihat kemudian.
“Bukan rencana, ini sudah. Ini kita sepakat ini potensi yang kita garap, kita lihat nanti ke depan itu 200.000 ton hari ini kalau bisa minggu ini dikirim 1.000 ton,” ujarnya.
Mentan Amran juga mengatakan potensi El Nino menjadi salah satu pertimbangan dalam menentukan ekspor. Namun, berdasarkan hitungan yang disampaikannya, stok beras disebut aman hingga Mei tahun depan.
“Harapan kita kalau bisa kita rebut yang 1 juta. Tapi kita lihat karena ada El Nino, ini ada pertimbangan El Nino juga tapi sesuai hitungan di atas kertas insyaallah stok kita aman sampai bulan Mei tahun depan. Dan bulan Februari sudah panen puncak lagi,” katanya.
Mentan Amran memastikan beras yang diekspor ke Malaysia merupakan beras premium. Ia juga meminta kualitas beras tetap dijaga. “Premium, premium 5 persen. Ya kan rata-rata premium beras kita bagus,” ujarnya.
Pada kesempatan yang sama, Direktur Utama Perum BULOG Ahmad Rizal Ramdhani mengatakan stok beras di Bulog saat ini mencapai 5,25 juta hingga 5,26 juta ton. Menurutnya, ekspor 1.000 ton sebagai tahap awal hingga potensi 200.000 ton ke Sarawak masih dapat dilakukan dengan tetap memprioritaskan kebutuhan dalam negeri.
“Namun kita sudah menghitung dengan potensi kalau hanya 1.000 pendahuluan ini bahkan sampai dengan 200.000 stok kita masih banyak karena stok Bulog bisa mencapai saat ini adalah 5,25 juta ton bahkan 5,26 juta ton sampai dengan hari ini jadi tidak ada masalah,” kata Rizal.
Untuk pengiriman awal, beras senilai sekitar Rp 17 miliar tersebut akan dikirim secara bertahap. Sebagian akan melalui perbatasan Entikong, sedangkan sekitar 950 ton lainnya direncanakan dikirim melalui laut dari Pelabuhan Tanjung Priok menuju Pelabuhan Kuching.
Rizal mengatakan realisasi pengiriman masih menunggu permit atau izin dari pemerintah Malaysia. Saat ini kerja sama tersebut masih dalam skema bisnis ke bisnis (B2B), sementara pembicaraan antarpemerintah (G2G) baru dilakukan melalui komunikasi antara Menteri Pertanian Indonesia dan Malaysia.
“Kita nunggu permit dulu dari pemerintah Malaysia. Kan ini baru B2B belum G2G,” ujarnya.





























