Kementerian Pertanian (Kementan) menyiapkan bantuan benih gratis bagi petani terdampak gempa di Nusa Tenggara Timur (NTT) untuk mempercepat pemulihan lahan dan mengembalikan aktivitas produksi pertanian. Bantuan tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah memastikan masyarakat tidak hanya terpenuhi kebutuhan pangannya selama masa darurat, tetapi juga dapat kembali bertani dan memperoleh penghasilan.
Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman mengatakan pemerintah akan memperbaiki sawah dan jaringan irigasi tersier yang rusak akibat gempa sekaligus menyediakan benih secara gratis bagi petani terdampak.
“Seluruh sawah yang rusak, irigasi tersier, kita akan perbaiki. Itu ditanggung pemerintah pusat, kami yang jamin. Jadi diperbaiki sawahnya, dikirim alsintan,” kata Mentan Amran saat meninjau langsung penanganan masyarakat terdampak bencana di NTT, Rabu (19/8).
Menurut Amran, pemulihan sektor pertanian menjadi bagian penting dalam penanganan pascabencana. Setelah lahan dan infrastruktur pertanian diperbaiki, petani akan mendapat dukungan benih dan alsintan agar dapat kembali berproduksi.
Pemerintah juga menyiapkan penggantian tanaman perkebunan masyarakat yang rusak akibat gempa, termasuk kopi, kakao, dan kelapa. Langkah tersebut dilakukan agar masyarakat dapat kembali memiliki sumber penghasilan setelah kondisi di wilayah terdampak berangsur pulih.
“Kopi, kakao, kelapa, itu juga kita ganti. Sekarang sudah ada anggarannya. Itu adalah perintah Bapak Presiden,” ujarnya.
Mentan Amran menegaskan proses pemberian bantuan kepada petani akan dipermudah. Pengajuan kebutuhan dapat disampaikan melalui pemerintah daerah maupun penyuluh pertanian lapangan (PPL), sehingga petani tidak perlu menghadapi prosedur yang panjang.
“Cukup PPL. Kita permudah, bypass semua. Itu perintah Bapak Presiden. Jangan persulit rakyat kita yang butuh bantuan,” tegasnya.
Selain dukungan untuk pemulihan produksi, pemerintah memastikan kebutuhan pangan masyarakat terdampak gempa tetap aman selama masa tanggap darurat. Mentan Amran menyebut stok beras nasional mencapai 5,2 juta ton, sementara stok di NTT sekitar 39 ribu ton.
Dengan jumlah pengungsi sekitar 34.600 orang dan kebutuhan sekitar 300 ton beras per bulan, stok yang tersedia di NTT dinilai sangat mencukupi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat terdampak.
“Stok beras nasional kita 5,2 juta ton, stok kita di NTT 39 ribu ton. Jadi ini stok kita sangat banyak, sampai satu tahun ke depan sangat cukup. Jadi jangan khawatir, makan beras itu tidak bisa ditunda,” jelasnya.
Untuk memperkuat penanganan di lapangan, pemerintah menyiapkan 200 ton beras khusus untuk Kabupaten Manggarai. Bantuan tersebut merupakan bagian dari dukungan pemerintah untuk empat kabupaten terdampak gempa di NTT dengan total bantuan beras mencapai 5.386 ton, terdiri atas bantuan bencana dan bantuan pangan reguler senilai sekitar Rp75,4 miliar.
Mentan Amran yang juga menjabat Kepala Badan Panan Nasional meminta pemerintah daerah tidak ragu mengajukan kebutuhan pangan masyarakat. Gudang pangan akan dibuka selama 24 jam sehingga bantuan dapat segera didistribusikan ketika dibutuhkan.
“Pak Bupati, Pak Wakil Bupati, 24 jam kami buka gudang. Yang Bapak minta untuk 59 ribu, saya penuhi sampai tiga bulan ke depan. Kalau nanti belum cukup, tambah. Jadi tidak ada alasan,” ujarnya.
Selain beras, pemerintah menyalurkan bantuan kemanusiaan berupa minyak goreng, gula, dan mi instan. Sebanyak 35 truk bantuan disiapkan untuk menjangkau wilayah terdampak, dengan 10 truk di antaranya diarahkan ke lokasi yang dikunjungi Mentan Amran.
Dia menegaskan seluruh bantuan tersebut merupakan bagian dari arahan Presiden Prabowo Subianto untuk mempercepat penanganan masyarakat terdampak bencana, termasuk memastikan petani dapat segera kembali berproduksi.
“Jadi tenang Bapak-Ibu, kami diperintah Bapak Presiden turun untuk melihat langsung,” ujar pengusaha dari Indonesia Timur itu.
Pemerintah memastikan pemulihan tidak berhenti pada pemenuhan kebutuhan pangan selama masa darurat. Melalui penyediaan benih, perbaikan lahan dan irigasi, bantuan alsintan, serta penggantian tanaman perkebunan, pemerintah mendorong petani terdampak agar dapat segera kembali menggarap lahannya.
“Pangan, beras, kita jamin. Pemerintah jamin,” pungkasnya.






























