Mentorship FPSI 2026 Gelar “Sawit Mengajar”, Kenalkan Beasiswa Sawit ke Pelajar Labuhanbatu

0

Upaya memperkenalkan sektor kelapa sawit sebagai ruang masa depan generasi muda terus dilakukan dari ruang-ruang kelas. Program Mentorship FPSI 2026 menggelar kegiatan “Sawit Mengajar” di SMA Negeri 2 Bilah Hulu, Pematang Seleng, Senin, 30 Maret 2026. Kegiatan ini menjadi pintu awal bagi siswa mengenal peluang pendidikan tinggi melalui beasiswa yang selama ini belum banyak tersosialisasikan.

Sekitar 90 siswa kelas XII mengikuti kegiatan yang berlangsung dari pukul 09.00 hingga 12.00 WIB itu. Mereka tampak memenuhi ruang aula sekolah, sebagian membawa catatan, sebagian lainnya aktif mengajukan pertanyaan. Fokus utama kegiatan adalah sosialisasi Beasiswa SDMPKS yang dikelola oleh Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDP) untuk tahun 2026.

Ketua Pelaksana Mentorship FPSI 2026, Goklas Sitanggang, menjadi pemateri utama dalam sesi berbagi. Ia menjelaskan bahwa beasiswa SDMPKS bukan sekadar bantuan biaya pendidikan, melainkan bagian dari strategi pemerintah membangun fondasi sumber daya manusia di sektor sawit.

“Selama ini banyak yang melihat sawit hanya dari sisi kebun dan produksi. Padahal, industri ini membutuhkan tenaga terampil dari hulu sampai hilir—mulai dari agronomi, teknik, hingga manajemen,” kata Goklas di hadapan siswa.

Menurut dia, program beasiswa tersebut terbuka bagi lulusan SMA sederajat yang memiliki keterkaitan dengan sektor sawit, baik dari latar belakang keluarga petani maupun minat untuk terjun ke industri. Pembiayaan yang diberikan mencakup biaya kuliah hingga kebutuhan penunjang pendidikan lainnya.

Program SDMPKS sendiri telah menjadi salah satu instrumen pemerintah untuk memperkuat daya saing industri sawit nasional. Dalam beberapa tahun terakhir, sektor ini menghadapi tekanan dari berbagai arah—mulai dari tuntutan keberlanjutan hingga kompetisi global. Dalam konteks itu, investasi pada manusia menjadi kunci.

Goklas menekankan, kesempatan ini masih belum dimanfaatkan secara optimal oleh pelajar di daerah. “Masih banyak yang belum tahu bahwa kuliah bisa dibiayai penuh melalui jalur ini. Karena itu, kami hadir langsung ke sekolah-sekolah,” ujarnya.

Selain sesi pemaparan, kegiatan juga diisi dengan diskusi interaktif. Sejumlah siswa menanyakan proses pendaftaran, jurusan yang tersedia, hingga peluang kerja setelah lulus. Pertanyaan-pertanyaan itu menunjukkan meningkatnya ketertarikan terhadap jalur pendidikan berbasis industri sawit.

Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum, Titin, dalam sambutannya mengapresiasi kegiatan tersebut. Ia mengatakan, informasi mengenai beasiswa menjadi sangat penting bagi siswa, terutama di daerah yang akses informasinya masih terbatas.

“Harus semangat dalam menggapai cita-cita, karena banyak cara dan peluang beasiswa yang bisa didapatkan,” kata Titin.

Ia berharap kegiatan serupa dapat terus dilakukan secara berkelanjutan, sehingga siswa memiliki gambaran yang lebih luas tentang pilihan pendidikan setelah lulus.

Dukungan juga datang dari Ketua Umum FPSI, Muhammad Ridho Octozidan, meski tidak hadir secara langsung. Dalam pernyataannya, ia menegaskan bahwa Mentorship FPSI dirancang sebagai ruang pendampingan bagi generasi muda yang ingin melanjutkan pendidikan.

“Program Mentorship FPSI ini bertujuan membantu adik-adik yang ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi secara bersama-sama, dan dapat diikuti secara gratis tanpa dipungut biaya,” ujarnya.

Program mentorship tersebut tidak hanya memberikan informasi, tetapi juga pendampingan teknis, seperti persiapan berkas, simulasi seleksi, hingga pembekalan wawancara. Pendekatan ini dinilai penting untuk meningkatkan peluang siswa diterima dalam program beasiswa yang kompetitif.

Bagi sebagian siswa, kegiatan ini menjadi pengalaman pertama mengenal secara detail jalur pendidikan berbasis industri. Seorang peserta, misalnya, mengaku baru mengetahui bahwa sektor sawit memiliki banyak cabang keilmuan yang bisa dipelajari di perguruan tinggi.

“Selama ini saya pikir sawit hanya soal kebun. Ternyata ada banyak jurusan dan peluang kerja,” ujar salah satu siswa.

Kegiatan “Sawit Mengajar” ini juga mencerminkan upaya membangun citra baru sektor kelapa sawit di kalangan generasi muda. Selama ini, sawit kerap dipersepsikan secara sempit, padahal kontribusinya terhadap perekonomian nasional sangat besar, baik dari sisi ekspor maupun penyerapan tenaga kerja.

Melalui pendekatan edukatif seperti ini, FPSI berupaya menjembatani kesenjangan informasi sekaligus menumbuhkan minat generasi muda untuk terlibat dalam industri strategis tersebut.

Program ini menjadi bagian dari agenda lebih luas Mentorship FPSI 2026 yang menargetkan sejumlah sekolah di berbagai daerah sentra sawit. Dengan menyasar siswa kelas akhir, program ini diharapkan dapat memberikan dampak langsung terhadap pilihan pendidikan mereka.

Di tengah tantangan global yang dihadapi industri sawit, kebutuhan akan sumber daya manusia yang kompeten menjadi semakin mendesak. Pendidikan, dalam hal ini, tidak hanya menjadi jalan individu untuk meningkatkan taraf hidup, tetapi juga instrumen penting dalam menjaga keberlanjutan sektor.

Melalui kegiatan “Sawit Mengajar”, FPSI mencoba menanamkan kesadaran itu sejak dini—bahwa masa depan industri tidak hanya ditentukan oleh luas lahan atau produksi, melainkan oleh kualitas manusia yang mengelolanya.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini