Pekebun Pandeglang Senang Dapat Tambahan Penghasilan dari Tusip Padi Gogo

0
Plt. Direktur Jenderal Perkebunan (Dirjenbun), Kementerian Pertanian (Kementan), Heru Tri Widarto kembali lakukan kegiatan tanam perdana padi gogo di lahan perkebunan kelapa, kali ini di Kelurahan Pandu, Kecamatan Bunaken, Sulawesi Utara (Sulut), Sabtu (18/01/2025).

Panen padi gogo yang ditanam secara tumpang sisip (tusip) di lahan perkebunan sawit, membawa angin segar bagi pekebun di Kabupaten Pandeglang, Banten. Di Desa Nanggala, Kecamatan Cikeusik, hasil panen padi gogo awal Maret ini menjadi tambahan penghasilan bagi pekebun sebelum sawit siap dipanen.

Aryadi (37), pekebun dari Kelompok Tani (Poktan) Neglasari, mengungkapkan bahwa luas lahan yang ditanami padi gogo oleh kelompoknya mencapai 25 hektare. Selain kelompoknya, terdapat tiga kelompok tani lain di desa yang sama, dengan total luas lahan mencapai sekitar 100 hektare.

“Untuk perkebunan sawit sendiri luasnya mencapai 200 hektare, dengan rata-rata hasil panen per hektare berkisar 20 hingga 30 ton per tahun. Saat ini, sawit yang kami tanam baru memasuki usia lima tahun,” ujar Aryadi, dikutip dari rilis resmi Kementerian Pertanian (Kementan), Jakarta, Kamis (3/4).

Aryadi menjelaskan, musim tanam padi gogo biasanya dimulai pada awal musim hujan, sekitar bulan November hingga Desember.Alhamdulillah, panen kali ini cukup baik dengan hasil berkisar 2 hingga 3,5 ton per hektare,” ungkap Aryadi.

Menurut Aryadi, tusip padi gogo di lahan perkebunan memberikan sumber pendapatan alternatif bagi pekebun sebelum tanaman utama, seperti sawit, mulai menghasilkan. “Manfaatnya sangat besar, tidak hanya untuk tambahan penghasilan, tetapi juga untuk mendukung swasembada pangan,” kata dia.

Melihat manfaat dari program tusip padi gogo ini, Aryadi berharap ada lahan kehutanan sosial yang bisa dimanfaatkan untuk budidaya padi gogo secara berkelanjutan. Dia juga berharap ke depannya, bantuan tidak hanya berupa benih, tetapi juga herbisida dan pupuk.

“Semoga ke depannya, bantuan tidak hanya berupa benih, tetapi juga herbisida dan pupuk,” pungkas Aryadi.

Sebelumnya, Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman menginstruksikan agar jajarannya bisa memaksimalkan potensi tiap lahan, khususnya lahan perkebunan. Di antaranya melalui tumpang sisip padi gogo.

Selain mengoptimalkan pemanfaatan lahan perkebunan yang ada, Mentan Amran meyakini, program tumpang sisip padi gogo bisa mendorong terwujudnya swasembada pangan nasional.

“Kita harus terus berinovasi untuk mendukung swasembada pangan. Tumpang sisip padi gogo adalah salah satu cara agar lahan yang ada lebih produktif,” ujar Mentan Amran.

Sejalan dengan hal tersebut, Direktorat Jenderal Perkebunan berupaya menggencarkan penanaman padi gogo di lahan kering dan perkebunan. Padi gogo memiliki keunggulan dapat tumbuh di lahan non-irigasi. Dengan karakteristik tersebut, padi gogo diharapkan menjadi solusi ketahanan pangan di masa mendatang.

Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Jenderal Perkebunan, Heru Tri Widarto mengatakan, penanaman padi gogo di sela kebun sawit merupakan bagian dari program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR). Integrasi ini tidak hanya bertujuan meremajakan sawit, tetapi juga sebagai strategi menciptakan ketahanan pangan. 

“Program PSR ke depan juga akan mencakup bantuan benih untuk tumpang sisip padi gogo. Dalam skema ini, pekebun akan menerima bantuan berupa penumbangan dan pembersihan lahan, herbisida, benih, hingga pupuk,” ujar Heru.

Integrasi padi gogo dalam kebun sawit PSR mencerminkan model pertanian yang berkelanjutan. Kolaborasi antara pemerintah dan pekebun ini tidak hanya meningkatkan kesejahteraan masyarakat tetapi juga memperkuat ketahanan pangan nasional. 

Heru menambahkan, dengan adanya program ini, diharapkan lahan perkebunan sawit tetap produktif sebelum sawit siap dipanen. “Kami ingin memastikan bahwa pekebun memiliki alternatif sumber pendapatan yang berkelanjutan,” kata dia.

Di sisi lain, program ini juga mendapat dukungan dari berbagai pihak, termasuk pemerintah daerah dan asosiasi pekebun. Para pemangku kepentingan berharap agar program ini dapat diterapkan secara luas di berbagai daerah yang memiliki lahan perkebunan sawit. 

Dengan model integrasi ini, padi gogo bukan hanya sekadar komoditas tambahan, tetapi juga menjadi elemen penting dalam sistem pertanian nasional. Keberhasilan pekebun di Pandeglang bisa menjadi contoh bagi daerah lain dalam mengoptimalkan pemanfaatan lahan perkebunan untuk ketahanan pangan yang berkelanjutan.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini