
Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman menargetkan Kabupaten Sambas di Provinsi Kalimantan Barat bisa melakukan ekpor beras ke Malaysia.
Mentan Amran mengatakan, Kabupaten Sambas memiliki potensi produksi yang sangat besar karena didukung berbagai program pemerintah seperti cetak sawah dan juga optimasi lahan atau oplah.
“Ini negara kita berbatasan langsung dengan Malaysia dan ini memiliki potensi besar untuk ekspor. Karena itu kita harus mengoptimalkan sawah-sawah yang ada di sini,” ujar Mentan Amran saat mengawal brigade swasembada pangan di Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat, Kamis (21/11).
Dia menambahkan, saat tujuh tahun lalu, lahan-lahan di Sambas belum tergarap secara baik, sehingga posisi beras saat itu terjadi shortage. Kini setelah dilakukan cetak sawah kondisinya berubah 100 persen.
“Dulu sekitar 7 tahun lalu kondisi di sini shortage. Setelah kita rintis cetak sawah kita bisa surplus. Oleh karena itu, yang berikutnya bagaimana kita bisa ekspor dari sini,” kata Mentan Amran.
Lebih lanjut, dia menyampaikan, Presiden Prabowo Subianto telah menetapkan misi swasembada dalam waktu empat tahun. Sejalan dengan hal ini, pemerintah juga jor joran membantu petani dengan menyediakan pupuk, benih dan juga alsintan.
“Sekarang ini agak ringan saya yakin tidak ada masalah. Kemarin Kami launching tanam perdana bersama panglima Kapolri dan Menteri Desa. Jadi tidak ada alasan dengan sarana prasarananya. Dan yang bermain main sangsinya tegas, copot dan pecat,” ujar dia.
Mentan Amran juga mengimbau petani agar tidak khawatir akan ketersediaan dan kelancaran pupuk subsidi. Sebab, pemerintah telah memangkas ratusan regulasi sehingga lebih mudah dan cepat.
“Mau ambil pupuk sekarang cukup dengan KTP saja, tidak boleh ada yang mempersulit. Ini yang tanda tangan menteri pertanian dan akan dipertanggungjawabkan dunia akhirat,” kata dia.

Di tempat yang sama, Anggota Komisi IV DPR RI, Daniel Johan, mengapresiasi keberhasilan Kalimantan Barat, khususnya Kabupaten Sambas, dalam mencapai swasembada pangan.
Menurut Daniel, pencapaian ini tidak lepas dari kolaborasi antara pemerintah, petani, dan masyarakat dalam mengoptimalkan berbagai program intensifikasi pertanian.
“Tujuh tahun lalu, Kalimantan Barat masih menghadapi kekurangan pangan. Namun, berkat program-program seperti Hazton, Sambas kini tidak hanya swasembada tetapi juga menjadi lumbung pangan terbesar di Kalimantan Barat,” ujar Daniel.
Daniel menjelaskan, metode Hazton—yang menggunakan bibit tua berumur 25–30 hari—terbukti mampu meningkatkan produktivitas padi secara signifikan.
“Awalnya kita belum swasembada. Namun, dengan dukungan Pak Mentan melalui metode Hazton, produksi padi meningkat menjadi 7–9 ton per hektare per musim tanam, jauh melampaui rata-rata sebelumnya. Bahkan hasil terendah dengan metode ini mencapai 7 ton per hektare,” terangnya.
Selain Hazton, program Oplah juga menjadi kunci peningkatan produktivitas di lahan yang sebelumnya kurang produktif.
“Dengan pengelolaan irigasi yang baik serta fokus para penyuluh pertanian, target tiga kali tanam dan tiga kali produksi dapat tercapai. Ini cara efektif untuk meminimalkan risiko kegagalan,” tambah dia.
Di tempat yang sama, Pj Bupati Kabupaten Sambas, Marlyna Almuthahar menyampaikan terimaksih atas perhatian besar Mentan Amran yang telah membangun sektor pertanian di wilayahnya.
Menurut Marlyna, Sambas selama ini memang dikenal sebagai lumbung padi untuk Kalimantan Barat dengan hamparan sawah seluas 45 ribu hektare, luas panen padi 5830,8 hektare dan produksinya mencapai 177.411 ton.
“Kami punya 9 Kecamatan dan kami sudah dikenal sebagai lumbung padi Kalimatan Barat. Selain itu kabupaten sambas terkenal dengan tanaman hortikultura, cabai rawit melon, dan juga buah naga,” pungkasnya.





























