
Kabar gembira bagi petani tebu di seluruh Indonesia. Pemerintah resmi meluncurkan kebijakan baru dalam program Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang memberikan kemudahan akses pembiayaan hingga Rp 500 juta secara berulang tanpa perlu beralih ke kredit komersial setelah mencapai batas awal.
Usai Rapat Koordinasi Koordinator Bidang Perekonomian di Jakarta pada Kamis (3/7), Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyatakan bahwa kebijakan ini memberikan ruang napas baru bagi petani, khususnya petani tebu plasma di seluruh Indonesia.
”Jadi kreditnya itu plafonnya 500 juta dan ini bunganya 6 persen. Dulu kan akumulasi Rp500 juta. Kalau dia sudah dapat Rp 500 juta, berikutnya komersial. Sekarang kita buka,” ujar Mentan Amran.
Mentan Amran juga mengungkapkan bahwa ke depan, pabrik gula akan dilibatkan sebagai avalis, atau penjamin kredit, tanpa perlu agunan dari petani. Dalam skema ini, pabrik bertanggung jawab atas kredit, sehingga mempermudah akses pembiayaan bagi petani.
”Kemudian nanti pabriknya menjadi avalis. Kalau avalis tanpa jaminan. Tapi pabriknya bertanggung jawab. Nah ini memudahkan petani kita. Saya kira ini adalah kebahagiaan petani tebu seluruh Indonesia. Mereka sudah lama mengusulkan,” jelasnya.
Kebijakan ini merupakan respons nyata atas aspirasi yang sudah lama disuarakan oleh petani tebu. Dengan dukungan ini, pemerintah berharap kesejahteraan petani akan meningkat dan produktivitas tebu nasional makin optimal.
Mentan Amran juga berharap kebijakan ini dapat diterapkan dalam waktu dekat agar petani dapat segera memanfaatkannya di musim tanam yang sedang berlangsung.
“Kebijakan ini untuk tebu dan komoditas lainnya, tetapi fokus tebu dulu. Nanti kita lihat perjalanannya dulu. Mudah-mudahan satu minggu ini selesai, dan bulan ini sudah bisa diterapkan. Karena sekarang musim tanam. Kita berharap bulan ini sudah jalan,” ungkap Mentan Amran.
Mentan Amran juga mendorong seluruh pemangku kepentingan di sektor perkebunan, khususnya tebu, untuk berkolaborasi meningkatkan produksi gula nasional. Ia menyoroti perlunya penyederhanaan regulasi, salah satunya terkait akumulasi pada KUR yang dirasa menyulitkan petani dalam mengakses pembiayaan.
“Kredit KUR itu harus disesuaikan. Kalau petani bayar lancar tiap tahun, kenapa tidak bisa ambil lagi? Harusnya tiap tahun bisa diakses tanpa akumulasi yang menghambat,” kata Amran saat Rapat Kerja Pengembangan Tebu di Kantor PT SGN di Surabaya, Jawa Timur, pada 11 Juni lalu.
Sebagai informasi, produksi gula nasional 2024 diperkirakan mencapai 2,46 juta ton, naik 8,57 persen dari tahun 2023 yang sebesar 2,27 juta ton.
Untuk mewujudkan swasembada gula, Mentan Amran merinci enam strategi kunci, penguatan penyuluhan kepada petani, perbaikan pengelolaan perkebunan tebu, penyediaan sarana produksi, kemudahan akses pupuk, penyediaan sarana irigasi, pengelolaan tanah, dan penetapan harga yang menguntungkan petani.





























