Ramalan ‘Sang Dorab’: Tahun Bullish Sawit dan Pertaruhan Kebijakan Indonesia

0

Nusa Dua, Bali — Di ruang konferensi yang dingin, Dorab E. Mistry berdiri dengan sikap yang tak berubah sejak bertahun-tahun lalu: tenang, sedikit membungkuk ke depan, suaranya tidak keras tetapi cukup untuk membuat ratusan orang menahan napas. Di layar belakangnya, kurva harga minyak sawit menanjak tajam seperti sisi bukit yang baru terpotong. “Tahun 2026 akan bullish,” katanya. “Sangat bullish.”

Ucapan itu membuat ruangan seolah terpegang oleh satu detak. Para pelaku industri, trader global, analis, dan pejabat kementerian yang duduk rapat-rapat dalam barisan kursi hotel di Nusa Dua, tiba-tiba menegakkan tubuh. Ramalan Dorab bukan ramalan sembarangan. Ia dikenal sebagai sosok yang jarang meleset, dan bila pun meleset, hanya dalam skala yang tak mengubah arah pasar. Maka ketika ia mengatakan 2026 akan menjadi tahun kenaikan harga besar-besaran, semua orang tahu bahwa mereka sedang mendengar sesuatu yang bisa mengubah hitungan ekspor Indonesia, strategi biofuel nasional, hingga harga minyak goreng di dapur rumah tangga.

Menurut Dorab, dunia minyak nabati tengah bergerak memasuki kekurangan pasokan yang struktural. Permintaan global, terutama dari sektor energi, tumbuh lebih cepat dibanding pertambahan minyak nabati yang tersedia. Biodiesel Amerika Serikat, Brazil, dan Indonesia menjadi motor utama penarikan permintaan itu. Dengan mata yang sesekali melirik catatan kecil di podium, Dorab menyebut dunia akan menambah kebutuhan minyak nabati hingga enam juta ton pada 2026. “Tetapi suplai hanya akan naik empat juta ton,” ujarnya. Selisih dua juta ton itulah, menurutnya, yang akan menjadi bahan bakar kenaikan harga.

Di titik ini, Dorab memaparkan gambaran yang membuat sebagian peserta mencatat dengan tergesa. Soya oil di Chicago Board of Trade berpotensi mendekati 70 sen per pon bila EPA Amerika Serikat menutup pintu insentif bagi impor feedstock. Minyak bunga matahari tetap mahal karena produksi di kawasan Laut Hitam tak sepenuhnya pulih. Rapeseed stagnan. “Sawit kembali menjadi jangkar,” katanya. “Dan ketika jangkar itu ditarik lebih kuat oleh biofuel, harga pasti bergerak.”

Namun berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, ada satu elemen baru yang membuat proyeksi Dorab terdengar lebih dramatis: produksi sawit tidak lagi melaju. Malaysia, katanya, sudah berada pada fase menua; pohon-pohon tua kehilangan daya produksi. Indonesia sedikit lebih beruntung, tetapi moratorium pembukaan lahan, ketatnya regulasi, dan penertiban perkebunan ilegal menahan pertumbuhan areal. Dorab memajukan tubuhnya sedikit. “Produksi Indonesia tidak akan naik besar. Dengan permintaan energi yang tumbuh cepat, keseimbangan ini tak mungkin bertahan. Harga pasti bergerak naik.”

Lalu ia meluncurkan kalimat yang membuat ruangan bergemuruh pelan oleh bisikan. “Indonesia perlu mencabut moratorium pembukaan lahan.” Ia tidak menyebut deforestasi atau pro-kontra lingkungan. Baginya, hitungannya sederhana: agar Indonesia mampu memenuhi ambisi biofuel dan tetap menjaga suplai untuk pangan, negara ini butuh membuka kembali sekitar 250 ribu hektare lahan sawit per tahun. Tanpa itu, harga akan melesat, dan pasar global akan mengalami kekurangan sawit.

Kalimat itu menimbulkan gelombang diskusi yang tak langsung padam. Beberapa peserta memotret slide Dorab sebagai bukti. Yang lain menunduk dalam-dalam, seolah sedang mengunyah sebuah persoalan yang sudah lama mengendap namun kini muncul kembali: jika permintaan global dipukul oleh kekurangan sawit, siapa yang disalahkan? Kebijakan energi? Atau kebijakan lingkungan?

Ramalan harga Dorab membuat sebagian peserta menghela napas, sebagian lagi tersenyum tipis. Ia memprediksi harga CPO di Bursa Malaysia Derivatives akan menembus lima ribu ringgit per ton pada Desember 2025, dan naik lagi hingga 5.500 ringgit pada Maret 2026. Harga itu bisa melonjak lebih tinggi bila Indonesia memperketat DMO atau melanjutkan penyitaan lahan dalam skala besar. “Harga akan bergerak lebih cepat dari perkiraan siapa pun,” katanya.

Setelah pidatonya usai, giliran Fadhil Hasan dari GAPKI naik ke panggung. Nada Fadhil lebih pelan dan dingin, tetapi paparan data di layar menunjukkan peta risiko yang jarang terlihat seterang itu. Fadhil menjelaskan bahwa pasar sawit dunia kini bergerak tidak hanya oleh suplai dan permintaan, tetapi oleh politik tarif, sengketa dagang, dan standar keberlanjutan. Kebijakan Presiden Donald Trump menjadi salah satu ancaman terbesar. Bila AS menerapkan tarif timbal balik dengan skenario 19 persen untuk Indonesia dan nol persen untuk Malaysia, maka pasar Amerika—yang kini mengimpor lebih dari dua juta ton sawit—akan dengan mudah berpindah ke pemasok lain. “Ini bukan ancaman teoritis,” kata Fadhil. “Ini sedang dibahas.”

Penundaan EUDR hingga akhir 2026 disebutnya sebagai jeda yang harus digunakan secara produktif. Jeda itu bisa menjadi kesempatan emas bagi Indonesia untuk menata ulang sistem traceability dan memperkuat sertifikasi petani kecil. Namun bila jeda ini diartikan sebagai kelonggaran, industri akan memetik risiko mahal pada 2026: penolakan kontainer di pelabuhan Eropa.

India dan Tiongkok juga memunculkan dinamika baru. India memainkan tarif impor layaknya pedal rem dan gas. Sementara Tiongkok mulai menggeser permintaan ke sawit tersertifikasi, pasar dengan harga lebih baik tetapi menuntut biaya tambahan US$10–15 per ton. “Konsumen China mulai bertanya minyak yang punya cerita,” kata Fadhil. Cerita itu bukan lagi sekadar harga, tetapi asal-usul lahan, jejak karbon, dan keterlibatan petani.

Sementara Fadhil memetakan ancaman eksternal, Abdul Rasheed Jan Mohammad membawa hadirin kembali ke bumi: produksi sawit Indonesia yang melesat 13 persen hingga Agustus 2025 menjadi paradoks tersendiri. Di satu sisi, ia menekan harga. Di sisi lain, kenaikan produksi ini sebagian besar berasal dari cuaca baik dan penundaan peremajaan ketika harga tinggi dua tahun lalu. Artinya, lonjakan produksi saat ini bisa menjadi awal dari penurunan produksi dua sampai tiga tahun ke depan jika petani kembali menunda replanting.

Ketiga pembicara itu, meski datang dari perspektif berbeda, memberikan gambaran yang sama: tahun-tahun mendatang bukan lagi soal panen, cuaca, atau harga pasar. Tahun-tahun mendatang adalah tahun kebijakan. Dari Nusa Dua, pesan yang dibawa pulang para peserta adalah bahwa Indonesia kini berada di pusat pusaran. B40 berjalan relatif mulus, B50 menunggu ketukan terakhir. Penertiban lahan menunggu konsistensi. Perdagangan menunggu diplomasi tarif.

Harga sawit dunia tahun depan mungkin benar akan bullish, seperti kata Dorab. Tetapi bullish atau tidak, masa depan industri ini tetap kembali ke satu hal: keputusan yang dibuat Indonesia hari ini. Karena pada akhirnya, bukan pasar yang menentukan sawit. Indonesia yang menentukan pasar.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini