Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) mengungkapkan sejumlah kendala yang menyebabkan target penanaman jagung seluas 1 juta hektare pada tahun 2025 belum tercapai. Hingga saat ini, luas lahan yang berhasil ditanami jagung baru mencapai sekitar 650 ribu hektare.
Hal tersebut disampaikan Asisten Kapolri Bidang Sumber Daya Manusia, Irjen Pol Anwar, usai melakukan pertemuan dengan Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, di Kantor Pusat Kementerian Pertanian, Jakarta, Rabu (11/3).
Menurut Anwar, terdapat berbagai faktor yang menjadi penghambat pencapaian target tersebut. Di antaranya adalah bencana alam, anomali cuaca, serta kondisi lahan yang berbeda-beda di setiap wilayah.
“Kalau kendala banyak sekali ya. Terutama ada bencana, kemudian anomali cuaca. Terus kemudian lahan yang berbeda-beda. Ada lahan pegunungan, ada lahan sawah, dan sebagainya dan sebagainya,” ujarnya.
Anwar menambahkan, pihaknya telah berkomunikasi langsung dengan Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran terkait kebutuhan modernisasi alat pertanian untuk mendukung percepatan penanaman jagung.
“Modernisasi alat langsung Pak Menteri eksekusi. Berapa butuhnya untuk traktor, berapa butuhnya untuk alat tanam dan sebagainya langsung dieksekusi langsung oleh Pak Menteri tadi,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa ke depan pemerintah akan mengoptimalkan program penanaman jagung agar target 1 juta hektare dapat tercapai, bahkan berpotensi melampauinya.
Optimalisasi tersebut akan dilakukan dari sektor hulu hingga hilir, termasuk penyediaan bibit, pupuk, hingga sistem penampungan dan penjualan hasil panen.
“Kita sudah diskusikan dengan Pak Menteri bahwa ke depan kita akan melaksanakan optimalisasi itu, mudah-mudahan 1 juta hektar tercapai dan nanti selain untuk pakan, nanti juga bisa digunakan untuk energi,” imbuhnya.
Sementara itu, Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman mengapresiasi dukungan Polri dalam program peningkatan produksi jagung nasional. Ia menyebut kolaborasi tersebut telah memberikan dampak positif terhadap peningkatan produksi dan pengurangan impor.
“Tahu peningkatannya? Produksi kita meningkat 1 juta ton. Dan itu tidak mudah. Kemudian, kita swasembada pakan, nol persen impor. Kemudian untuk industri turun dari satu koma empat turun menjadi 800 ribu ton,” ujar Amran.
Ia menilai capaian tersebut merupakan hasil kerja sama berbagai pihak, termasuk Polri yang turut membantu pendampingan petani di lapangan.
Adapun penanaman jagung dilakukan di berbagai jenis lahan, mulai dari lahan binaan Polri bersama kelompok tani, perhutanan sosial, hingga lahan milik masyarakat. Hasil panen jagung nantinya akan diserap oleh berbagai pihak, termasuk Perum Bulog.
Pemerintah juga tengah mengkaji kemungkinan pemanfaatan jagung sebagai bahan baku energi, seperti bioetanol, selain untuk kebutuhan pakan ternak dan industri. Namun, rencana tersebut masih dalam tahap proses pembahasan.





























