
Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman menyampaikan kabar gembira bagi sektor pangan nasional. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), produksi beras Indonesia tahun ini diprediksi mencapai 34,77 juta ton, atau naik 4,15 juta ton (13,59 persen) dibandingkan tahun sebelumnya.
Kabar baik ini disampaikan Amran usai nonton bareng (nobar) pengumuman Rilis Resmi BPS bersama awak media di Balai Besar Perakitan dan Modernisasi Mekanisasi Pertanian (BRMP Mektan), Senin (3/11).
“Hari ini kita mendapatkan kabar gembira, baru saja diumumkan oleh BPS bahwasanya produksi, diprediksi produksi kita tahun ini adalah 34,77 juta ton,” ungkap Amran.
Mewakili petani Indonesia, Amran mengucapkan terima kasih kepada Presiden Prabowo Subianto yang telah mempermudah regulasi, khususnya dalam penyediaan sarana produksi.
Dia menyebut dua kebijakan utama Prabowo Subianto yang berdampak signifikan terhadap kenaikan produksi, yakni kenaikan harga pembelian pemerintah (HPP) beras dan penurunan harga pupuk hingga 20 persen.
“Itu adalah terobosan luar biasa dan itu adalah kebahagiaan petani kita seluruh Indonesia, khususnya petani pangan, padi, jagung, dan selanjutnya,” tutur Amran.Â
Dia juga menyampaikan apresiasi kepada berbagai pihak yang berkontribusi mendukung sektor pertanian, mulai dari TNI, kepolisian, kejaksaan, para gubernur, bupati, penyuluh lapangan (PPL), Babinsa, kepala dinas provinsi dan kabupaten, hingga jajaran Kementerian Pertanian.
“Ini keberhasilan kita semua sebagai anak bangsa. Bukan saya, tapi kita semua. Termasuk teman-teman media yang selalu memberikan masukan dan kritik konstruktif,” kata Amran.
Lebih lanjut, Amran menegaskan bahwa tingkat kepastian data BPS mencapai 95 persen, sehingga Indonesia hampir pasti tidak akan melakukan impor beras tahun ini.
“Sampai detik ini tidak ada impor, dan saya yakin satu bulan ke depan insyaallah tetap tidak ada impor,” tegas Amran.
Selain itu, stok beras nasional saat ini tercatat 3,8 juta ton, dan diperkirakan mencapai 3,1 juta ton pada akhir tahun, yang menurut Amran merupakan jumlah tertinggi sepanjang sejarah kemerdekaan.
Dia juga menambahkan, peningkatan produksi padi sebesar 4,15 juta ton dan kenaikan harga gabah dari Rp5.000 menjadi Rp6.500 per kilogram telah mendorong Nilai Tukar Petani (NTP) naik menjadi 124 persen, dengan nilai ekonomi mencapai sekitar Rp122 triliun hanya dari komoditas padi.
“Ini semua berkat kebijakan dan arahan Bapak Presiden yang luar biasa, serta kerja keras seluruh pihak di lapangan. Ke depan, insyaallah beras dan jagung kita dalam kondisi aman,” tutup Amran.




























