Produksi dan Ekspor Sawit Maret 2026 Turun, Stok Dalam Negeri Meningkat

0

 

Industri kelapa sawit nasional memasuki triwulan pertama 2026 dengan dinamika yang kontras. Di satu sisi, produksi dan ekspor minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) pada Maret mengalami penurunan cukup tajam dibanding bulan sebelumnya. Namun di sisi lain, stok dalam negeri justru meningkat akibat perlambatan penyerapan pasar domestik maupun ekspor.

Data yang dihimpun Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia atau Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia menunjukkan produksi CPO pada Maret 2026 hanya mencapai 4,403 juta ton, turun 12,22 persen dibanding Februari yang mencapai 5,015 juta ton. Penurunan juga terjadi pada produksi palm kernel oil (PKO) yang turun dari 485 ribu ton menjadi 418 ribu ton.

Dengan demikian, total produksi CPO dan PKO sepanjang Maret 2026 tercatat 4,821 juta ton atau turun 12,35 persen dibanding bulan sebelumnya yang mencapai 5,5 juta ton.

Direktur Eksekutif Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia, Mukti Sardjono, mengatakan penurunan produksi pada Maret masih dipengaruhi faktor musiman serta kondisi cuaca di sejumlah sentra perkebunan sawit. Meski demikian, secara tahunan atau year on year (YoY), produksi industri sawit nasional sebenarnya masih menunjukkan pertumbuhan positif.

“Kalau dilihat kumulatif Januari sampai Maret 2026, produksi masih naik dibanding periode yang sama tahun lalu. Jadi penurunan Maret ini lebih bersifat bulanan,” kata Mukti dalam keterangannya.

Secara kumulatif hingga Maret 2026, total produksi CPO dan PKO mencapai 15,558 juta ton. Angka ini meningkat 18,44 persen dibanding periode yang sama tahun 2025 sebesar 13,135 juta ton.

Tidak hanya produksi, konsumsi domestik juga mengalami perlambatan. Total konsumsi dalam negeri pada Maret 2026 tercatat 2,115 juta ton, turun 8,25 persen dibanding Februari yang mencapai 2,305 juta ton.

Penurunan terbesar terjadi pada konsumsi pangan yang turun menjadi 897 ribu ton dari sebelumnya 986 ribu ton. Konsumsi biodiesel juga terkoreksi dari 1,144 juta ton menjadi 1,056 juta ton. Sementara konsumsi untuk sektor oleokimia turun dari 175 ribu ton menjadi 162 ribu ton.

Menurut Mukti, penurunan konsumsi biodiesel salah satunya dipengaruhi pola distribusi dan penyerapan program mandatori biodiesel yang belum merata pada awal tahun. Di sisi lain, industri hilir juga masih menghadapi penyesuaian permintaan global.

Meski turun secara bulanan, konsumsi domestik secara kumulatif masih tumbuh. Hingga Maret 2026, total konsumsi dalam negeri mencapai 6,524 juta ton atau naik 7,47 persen dibanding periode sama tahun lalu sebesar 6,071 juta ton.

Tekanan paling besar justru datang dari sektor ekspor. Pada Maret 2026, total ekspor produk sawit nasional hanya mencapai 2,168 juta ton atau merosot 34,25 persen dibanding Februari sebesar 3,297 juta ton.

Penurunan ekspor terjadi hampir di seluruh jenis produk. Ekspor CPO anjlok drastis dari 395 ribu ton menjadi hanya 96 ribu ton. Ekspor olahan minyak inti sawit juga turun dari 171 ribu ton menjadi 94 ribu ton. Sementara ekspor olahan minyak sawit turun dari 2,267 juta ton menjadi 1,506 juta ton.

Hanya produk oleokimia yang masih mencatat pertumbuhan tipis sebesar 1,42 persen, dari 462 ribu ton menjadi 468 ribu ton.

Mukti mengatakan perlambatan ekspor dipengaruhi kombinasi faktor permintaan global yang melemah serta meningkatnya persaingan minyak nabati lain di pasar internasional. Selain itu, beberapa negara importir juga masih melakukan penyesuaian kebijakan perdagangan dan stok domestik.

“Permintaan dari sejumlah negara utama memang mengalami koreksi pada Maret. Ini yang menyebabkan volume ekspor turun cukup signifikan,” ujarnya.

Penurunan ekspor terbesar terjadi ke China yang berkurang 314 ribu ton. India juga mengurangi impor hingga 291 ribu ton. Penurunan lainnya terjadi ke Pakistan, Bangladesh, kawasan Afrika, Timur Tengah, Malaysia, Amerika Serikat, hingga negara-negara Uni Eropa.

Di tengah penurunan tersebut, Rusia justru mencatat peningkatan impor minyak sawit Indonesia sebesar 24 ribu ton.

Kendati ekspor Maret melemah, secara kumulatif Januari-Maret 2026 ekspor sawit nasional masih tumbuh positif. Total ekspor mencapai 8,546 juta ton atau naik 11,91 persen dibanding periode yang sama tahun lalu sebesar 7,637 juta ton.

China menjadi pasar dengan kenaikan impor terbesar sepanjang triwulan pertama tahun ini, yakni naik 673 ribu ton. India juga meningkatkan impor sebesar 218 ribu ton. Kenaikan permintaan juga datang dari Timur Tengah, Afrika, Malaysia, dan Bangladesh.

Namun beberapa pasar tradisional masih mengalami kontraksi secara tahunan, seperti Pakistan, Amerika Serikat, Rusia, dan Uni Eropa.

Dari sisi nilai, ekspor produk sawit Indonesia pada Maret 2026 tercatat sebesar US$ 2,61 miliar, turun 29,27 persen dibanding Februari yang mencapai US$ 3,69 miliar.

Meski demikian, nilai ekspor kumulatif Januari-Maret tetap meningkat menjadi US$ 9,66 miliar atau naik 10,4 persen dibanding periode yang sama tahun lalu sebesar US$ 8,75 miliar.

Kenaikan nilai ekspor secara tahunan ditopang oleh harga sawit global yang masih relatif tinggi. Rata-rata harga CPO CIF Rotterdam sepanjang Januari-Maret 2026 mencapai US$ 1.356 per ton, lebih tinggi dibanding periode sama tahun lalu sebesar US$ 1.230 per ton.

Di tengah melemahnya ekspor dan konsumsi, stok minyak sawit dalam negeri pun meningkat. Dengan stok awal Maret sebesar 2,026 juta ton, ditambah produksi 4,821 juta ton, lalu dikurangi konsumsi domestik dan ekspor, maka stok akhir Maret 2026 tercatat mencapai 2,568 juta ton.

Angka tersebut lebih tinggi dibanding stok akhir Februari yang sebesar 2,026 juta ton.

Menurut Mukti, peningkatan stok perlu dicermati karena dapat mempengaruhi harga tandan buah segar (TBS) di tingkat petani jika berlangsung terlalu lama. Karena itu, industri berharap ada perbaikan permintaan global pada kuartal kedua tahun ini.

“Kalau stok terus naik sementara ekspor belum pulih, tentu akan memberi tekanan terhadap harga. Ini yang harus dijaga bersama,” kata Mukti.

Ia menilai pasar India dan China masih akan menjadi penopang utama ekspor sawit Indonesia pada tahun ini. Selain itu, program biodiesel domestik juga diharapkan mampu menjaga keseimbangan pasokan dan permintaan di dalam negeri.

Di tengah tantangan global, industri sawit nasional masih melihat peluang pertumbuhan sepanjang 2026. Namun pelaku usaha mengingatkan perlunya stabilitas kebijakan dan penguatan pasar ekspor agar kinerja industri tetap terjaga.

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini