
Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional, Prof Rachmat Pambudy mengatakan, Indonesia mencapai swasembada pangan berkat jaminan harga dari pemerintah.
Pernyataan itu disampaikan saat memberikan sambutan pada peringatan Hari Ulang Tahun ke-53 Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) di Kantor Pusat Kementerian Pertanian, Jakarta, Selasa (27/4).
Prof Rachmat menyebut pemerintah di bawah Presiden Prabowo Subianto tidak hanya mengejar peningkatan produktivitas, tetapi juga jaminan harga yang layak bagi petani.
“Mengapa sekarang kita bisa swasembada salah satunya adalah strategi bagaimana peningkatan produksi diikuti dengan jaminan harga yang baik, jaminan harga jual yang baik,” ujar Prof Rachmat.
Akademisi Institut Pertanian Bogor (IPB) itu mencontohkan, persoalan harga telur yang selama puluhan tahun sulit diatasi kini mulai terselesaikan seiring adanya Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
“Kawan-kawan masih ingat setiap tahun harga telur jatuh, 20 tahun kita tidak bisa menyelesaikan. Begitu ada makan bergizi, persoalan telur dan ayam terselesaikan,” ujarnya.
Ketika produksi telur dan ayam stabil, persoalan jagung ikut terselesaikan karena meningkatnya kebutuhan pakan. Keberlanjutan produksi tersebut juga berdampak pada perbaikan gizi masyarakat.
Prof Rachmat mengatakan stabilnya produksi dan harga komoditas tersebut bukan kebetulan, melainkan strategi besar (big push) yang telah disiapkan Presiden Prabowo.
“Sebentar lagi akan kesulitan ikan karena makan bergizi. Badan bergizi akan mengatur strateginya untuk kebutuhan protein bukan hanya dari telur, bukan dari daging ayam, bukan dari daging yang lain tapi juga dari ikan,” katanya.
Prof Rachmat juga menegaskan pemerintah berhasil mengendalikan harga tandan buah segar (TBS) sawit yang selama bertahun-tahun berada di bawah Rp3.500 per kilogram kini telah menembus level tersebut.
Menurutnya, jika harga komoditas utama seperti beras, telur, daging ayam, dan TBS dapat dijaga, pembangunan pertanian berkelanjutan akan lebih mudah tercapai.
“Kalau persoalan beras dijaga harga pembelian gabaH yang Rp 6.500, telur terjaga, daging ayam terjaga, TBS terjaga maka pembangunan pertanian yang berkelanjutan juga akan terlaksana dengan baik,” tegasnya.
Terpisah, Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman menegaskan, capaian swasembada pangan merupakan hasil dari keberanian melakukan perubahan sistem secara menyeluruh, tidak hanya menjalankan program rutin.
Ia juga menekankan, seluruh kebijakan yang diambil berbasis data dan diarahkan langsung untuk menjawab persoalan di lapangan, mulai dari distribusi pupuk, perbaikan irigasi, hingga peningkatan produktivitas petani.
“Bapak Presiden Prabowo tugaskan kepada kita agar swasembada pangan secepat-cepatnya. Kita siapkan lompatan bersama yang kita buat bersama agar itu terwujud, petani sejahtera, masyarakat tersenyum,” tambahnya.
Menurutnya, penguatan produksi dilakukan melalui berbagai intervensi konkret seperti pompanisasi, penggunaan benih unggul, serta mekanisasi pertanian yang mampu menekan biaya produksi hingga 50 persen dan meningkatkan hasil hingga dua kali lipat.
Di sisi hilir, kebijakan penyerapan gabah oleh Perum Bulog dengan skema harga Rp 6.500 per kilogram juga menjadi faktor penting dalam menjaga stabilitas harga sekaligus memperkuat cadangan beras pemerintah yang kini telah menembus angka 5 juta ton.




























