
PT Perkebunan Nusantara III (Persero) akan memperluas areal perkebunan sawit seluas 500 ribu hektare mulai tahun depan dan membangun pabrik biodiesel. Direktur Bisnis PTPN III (Persero), Ryanto Wisnuardhy memperkirakan nilai investasi Rp 50—60 triliun.
Ryanto menjelaskan, langkah ekspansi ini merupakan bagian dari strategi perusahaan dalam mendukung Asta Cita Presiden Prabowo Subianto, khususnya program swasembada pangan dan energi nasional.
“Untuk tahun depan mungkin, kami akan mengupayakan untuk peningkatan produksi. Pertama, kami akan memperluas lahan,” ujar Ryanto dijumpai setelah acara Outlook Komoditas Perkebunan Tahun 2026 di Aula Kantor Direksi PT Riset Perkebunan Nusantara, Bogor, Jawa Barat Selasa (28/10).
“Anggarannya cukup besar, seingat saya sekitar Rp 50 triliun sampai Rp 60 triliun,” sambung dia.
Dia menambahkan, perluasan areal sawit tersebut sesuai dengan arahan Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman terkait program hilirisasi komoditas perkebunan.
“Sesuai dengan arahan Pak Mentan, mengenai program hilir, kami akan memperluas kurang lebih sampai 500 ribu hektare tanaman sawit,” ungkap Ryanto.
Dia mengatakan, perluasan ini merupakan lahan baru yang bersumber dari landbank PTPN dan juga lahan-lahan yang termasuk dalam program kehutanan sosial, sepanjang memenuhi ketentuan yang berlaku.
“Lahannya bebas dari kawasan hutan. Lahannya itu, antara lain dari landbank kami. Ada juga lahan yang dari kehutanan sosial. Sepanjang memenuhi aturan akan kami lakukan,” tutur Ryanto.
Ryanto menambahkan, program ekspansi tersebut juga akan diikuti dengan pembangunan pabrik biodiesel mulai tahun depan. Saat ini, PTPN III telah menjalin kerja sama dengan Pertamina dan pihak swasta untuk proyek tersebut.
“Di sisi hilirnya, kami mungkin mulai tahun depan, sudah mulai membangun pabrik biodiesel. Saat ini kerja sama sudah dilakukan yang melibatkan kami, Pertamina, juga sektor swasta,” jelas dia.
Ryanto menyebutkan, pabrik biodiesel kemungkinan akan dibangun di kawasan Sei Mangkei, yang dekat dengan sumber bahan baku sawit di wilayah Sumatera Utara dan Riau.
Sementara itu, PTPN juga tengah menyiapkan pembangunan pabrik bioetanol di Glenmore, Jember, yang sementara akan memanfaatkan bahan baku tetes tebu.
“Kalau bioetanol, bahan bakunya dari tetes tebu. Jadi rencananya di Glenmore, Jember, karena dekat dengan sumber produksi,” ujar dia.
Ryanto menegaskan, rencana pembangunan pabrik etanol ini sejalan dengan arahan pemerintah untuk tidak memusatkan kegiatan industri perkebunan di Pulau Jawa saja, melainkan memperluas ke berbagai daerah di Indonesia.
“Pemerintah mendorong agar pembangunan perkebunan dan pabrik tidak tersentral di Pulau Jawa, tapi tersebar di berbagai daerah. Misalnya di Bangka Belitung, Pulau Buru, Pulau Aru, hingga Konawe di Sulawesi Tenggara,” kata Ryanto.
Melalui langkah ini, PTPN III berharap dapat memperkuat peran sektor perkebunan dalam mendukung ketahanan energi nasional melalui pengembangan biodiesel dan bioetanol berbasis komoditas dalam negeri.





























