
Pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) punya ruang luas untuk mengembangkan produk hilir berbasis sawit, kelapa, dan kakao. Direktur Pusat Studi Kelapa Sawit INSTIPER, Purwadi, meminta pelaku UMKM tidak berhenti pada produk mentah, tetapi melihat peluang dari beragam produk turunannya.
Purwadi menyampaikan hal tersebut dalam Workshop Hilirisasi Komoditas Perkebunan sebagai Inkubasi Bisnis UKMK, yang didukung oleh Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) dan Sinarmas di Grand Wahid Hotel Salatiga, Senin (21/9).
Purwadi kemudian menjelaskan luasnya pemanfaatan produk turunan sawit dalam kehidupan sehari-hari. Menurutnya, sawit tidak hanya berkaitan dengan minyak goreng, tetapi juga digunakan dalam berbagai produk pangan dan nonpangan.
“Lho coba cuma gorengan kan pakai minyak sawit. Dan UMKM ya banyak ya kalau food ya goreng-gorengan tho,” kata Purwadi.
Pemanfaatan turunan sawit, lanjut Purwadi, juga mencakup kosmetik dan produk kebutuhan sehari-hari.
“Semuanya ke mana pun pasti kalau keluar pakai lipstik. Itu dari sawit sebagian bahannya. Karena kekuatan keunggulan dari turunan sawit itu minyaknya tidak gampang meleleh. Karena kalau di daerah tropika panas biasanya gampang, karena itu dipakai,” ujarnya.
“Kosmetik banyak hal, pepsodent yang sehari-hari dipakai itu. Itu bisa bayangkan. Lah emang pepsodent? Ya nanti ada namanya stearin. Itu sabun kok. Semua sabun kok pakai dari turunan sawit. Emangnya dari apa? Dan dari minyak kelapa,” lanjutnya.
Menurut Purwadi, turunan sawit juga digunakan dalam industri bakery melalui produk seperti mentega dan margarin.
“Terus yang kedua adalah kalau di sawit turunan tadi sawit itu, Anda tahu industri bakery, yang jualan kue, roti, dan sebagainya. Mentega, margarin, itu dari turunan sawit,” katanya.
Dia merangkum pemanfaatan sawit mulai dari produk pangan hingga berbagai kebutuhan nonpangan.
“Jadi turunan sawit itu kalau disederhanakan dari makanan kita sehari-hari, food, sampai turunan yang untuk non-food. Industri sabun, farmasi, apa lagi namanya kosmetik, sampai ke oli atau pelumas. Itu semuanya dari sawit. Dan itulah keunggulan dari sawit yang luar biasa,” ujarnya.
Melihat luasnya pemanfaatan turunan sawit, Purwadi meminta UMKM lebih aktif menangkap peluang pengembangan produk. Ia juga mengingatkan pelaku usaha untuk memanfaatkan dukungan pendanaan yang disediakan pemerintah melalui BPDP.
“Kalau Anda melihat di sini ada UMKM yang punya ide yang luar biasa yang kaitannya dengan turunan produk sawit dan sebagainya. Ini mumpung ada BPDP, Anda bisa mengajukan proposal, bisa di dana. Ya. Itu saya kira penting,” katanya.
“Jadi UMKM, Bapak, Ibu sekalian, hari ini harus cerdas-cerdas menangkap peluang,” lanjut Purwadi.
Kenapa Sawit Perlu Dibela
Selain membahas peluang hilirisasi, Purwadi menjelaskan alasan pentingnya mempertahankan industri sawit. Ia menyoroti isu negatif yang kerap diarahkan kepada sawit, sekaligus mengaitkannya dengan posisi komoditas tersebut dalam perekonomian nasional.
“Terus kenapa kok sawit itu kok jadi dimusuhi banyak orang? Saya hanya ingin cerita bahwa kalau Anda melihat di sini ada UMKM yang punya ide yang luar biasa yang kaitannya dengan turunan produk sawit dan sebagainya. Ini mumpung ada BPDP, Anda bisa mengajukan proposal, bisa di dana. Ya. Itu saya kira penting,” ujarnya.
Purwadi juga menanggapi anggapan bahwa sawit tidak baik bagi kesehatan.
“Katanya sawit itu tidak bagus buat kesehatan, kolesterol, dan sebagainya. Saya bilang, ya, makan sawit itu kalau setiap hari ya enggak bagus, kalau Anda minum minyak sawit. Tapi kalau Anda buat goreng-gorengan atau apa, itu normal. Dan jangan lupa, sawit itu punya vitamin E yang luar biasa besarnya,” katanya.
Dia kemudian menekankan posisi sawit bagi perekonomian Indonesia.
“Karena begini, kita, kalau kita lihat negara Indonesia, itu sawit itu adalah tulang punggung ekonomi kita. Ini untuk negara lho. Kalau UMKM ya sudah pasti, ini untuk negara,” ujar Purwadi.
“Negara kalau enggak ada ekspor sawit, mungkin kita bisa kolaps, bayar utang susah, bayar BPJS susah, macam-macam,” lanjutnya.
Atas alasan itu, Purwadi mengajak UMKM ikut mendukung keberlangsungan industri sawit.
“Jadi, saya mau mengajak, ayo dong UMKM, kita dukung sawit, kita pertahankan industri ini dari serangan-serangan yang enggak jelas, yang sering kali itu dari luar,” katanya.
Purwadi mengaitkan serangan terhadap sawit dengan persaingan komoditas minyak nabati di pasar global. Dia menyebut negara lain memiliki kedelai dan rapeseed, tetapi menghadapi keterbatasan iklim untuk menanam sawit.
“Kenapa mereka nyerang? Karena mereka saingan. Mereka punya kedelai, mereka punya rapeseeds, tapi mereka enggak bisa nanam sawit, gitu lho. Lha kalau bisa nanam sawit mungkin mereka akan nanam sawit. Sayangnya, iklim mereka tidak cocok. Karena itu mereka teriak-teriak,” ujarnya.
“Makanya kita harus pinter-pinter juga kampanye. Ya, itu tadi saya kira sekilas tentang kenapa kita perlu bela sawit, dan bagaimana UMKM bisa melihat peluang-peluang dari turunan produk sawit ini,” kata Purwadi.





























