
Pusat Penelitian Surfaktan dan Bioenergi atau Surfactant And Bioenergy Research Center (SBRC) IPB University terus mengembangkan riset biofuel berbasis sawit, mulai dari biodiesel, bioaditif, hingga bioavtur dan bensin sawit. Riset tersebut diarahkan untuk mendukung transisi energi nasional sekaligus memperkuat ketahanan energi Indonesia menuju target net zero emission.
Hal itu terungkap dalam Field Trip Program Jurnalistik Biodiesel Sawit 2026 ke SBRC IPB di Jl. Raya Pajajaran No. 1, Baranangsiang, Bogor Tengah, Kota Bogor, Jawa Barat, Jumat (6/2).
Kegiatan yang diselenggarakan Majalah Sawit Indonesia dengan dukungan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) tersebut diikuti sejumlah jurnalis dari Sawit Setara, Elaeis, Majalah Hortus, Imperium, Komoditas Indonesia, dan Agrofam.
Pimpinan Redaksi Majalah Sawit Indonesia, Qayuum Amri, mengatakan kunjungan ke SBRC IPB dilakukan untuk melihat secara langsung pengembangan riset biofuel sawit dari sisi praktik.
“Kami baru saja menyelenggarakan workshop mengenai program biodiesel sawit, yang dihadiri Kementerian ESDM, kemudian Dewan Energi Nasional, lalu juga ada beberapa dosen IPB juga ada, kemudian juga dari BRIN, BPDP, dan APROBI,” ujar Qayuum membuka pertemuan tersebut.
Dia menjelaskan, workshop tersebut bertujuan untuk mengedukasi sekaligus menyampaikan perkembangan program biodiesel di Indonesia yang telah berjalan hampir dua dekade terakhir.
Menurut Qayuum, kunjungan ke SBRC IPB menjadi penting karena lembaga tersebut telah lama berfokus pada riset biofuel. Dia menilai pemahaman jurnalis tidak cukup hanya dari data dan paparan teori, tetapi perlu melihat langsung implementasi riset di lapangan.
“Makanya mau lihat apa saja yang sudah dikembangkan riset-riset di SBRC khususnya mengenai biodiesel sawit ataupun program biofuel nanti,” tutur dia.
Dosen Departemen Teknologi Industri Pertanian IPB, Dwi Setyaningsih, menjelaskan SBRC telah lama fokus pada riset biofuel. Salah satu fasilitas utama produksi biodiesel IPB berada di Gunung Putri, Jawa Barat, dengan kapasitas sekitar 5 ton per hari.
“Jadi kita memproduksi Metil Ester Sulfonat. Jadi harus diproduksi dulu metil esternya, metil ester kan biodiesel, sama dengan biodiesel. Jadi kita membuat plant untuk biodiesel di sana,” kata dia
Selain biodiesel, SBRC juga terlibat dalam kajian perhitungan emisi gas rumah kaca well to wheel untuk bahan bakar (BBM)berbasis sawit bersama Kementerian ESDM.
Kajian tersebut menjadi bagian dari upaya Indonesia memasukkan biodiesel sawit sebagai bahan bakar ramah lingkungan yang diakui secara internasional, termasuk oleh International Maritime Organization (IMO).
“Apakah akan diakui atau enggak ya mungkin prosesnya masih panjang. Karena POME saja setahun apa ya prosesnya sampai diakui. Yang jelas kita harus memberikan perhitungan Life Cycle Analysis untuk emisi karbonnya, cost estimation-nya. Ya ini masih berjalan, baru di-submit kemarin,” jelas Dwi.
SBRC juga mengembangkan bioaditif berbasis minyak atsiri seperti cengkeh, sereh wangi, dan terpentin untuk meningkatkan kualitas biosolar. Bioaditif ini mampu menurunkan kadar air dan partikel dalam biosolar sehingga memperpanjang usia filter bahan bakar.
“Hasil uji coba menunjukkan umur filter bisa meningkat hampir dua kali, konsumsi BBM lebih hemat sekitar 5–7 persen, emisi lebih bersih, dan performa mesin lebih stabil,” ungkapnya.
Bioaditif tersebut telah diuji pada kapal, armada pengangkut BBM Pertamina, hingga bus operasional IPB, dan kini telah memiliki hak paten serta dikomersialkan melalui mitra industri.
Tak berhenti di situ, SBRC juga tengah mengembangkan riset ekstraksi karoten dan vitamin E dari CPO sebelum diproses menjadi biodiesel untuk meningkatkan nilai tambah sawit. Selain itu, limbah biodiesel berupa glycerin pitch dimanfaatkan kembali sebagai katalis green diesel.
“Prinsipnya kami ingin tidak ada limbah. Semua bisa dikonversi menjadi produk bernilai tambah,” ujar Dwi.
Meski beberapa produk seperti bioavtur dan bensin sawit masih menghadapi tantangan biaya produksi yang tinggi, SBRC menilai biofuel sawit tetap strategis bagi masa depan energi nasional.
“Ketahanan energi menjadi kunci. Saat impor BBM terganggu, sawit bisa menjadi solusi karena sumbernya ada di dalam negeri dan melibatkan petani,” pungkas dia.
Pembuatan Biodiesel
Dalam sesi laboratorium, staf SBRC IPB, Neli Muna, memperagakan proses pembuatan biodiesel dari minyak sawit. Proses diawali dengan memanaskan minyak sawit pada suhu sekitar 55–60 derajat Celsius, kemudian dicampur dengan metanol dan katalis.
Selama proses berlangsung, suhu dijaga tetap stabil agar tidak terbentuk sabun yang dapat menurunkan kualitas biodiesel. Setelah reaksi berjalan sekitar satu jam, campuran akan terpisah secara alami menjadi dua lapisan, yaitu biodiesel (metil ester) dan gliserol.
Biodiesel yang terbentuk kemudian dimurnikan dengan cara dicuci menggunakan air hangat secara berulang hingga mencapai pH netral, lalu dikeringkan sebelum siap digunakan.
Neli menjelaskan, tantangan utama dalam produksi biodiesel saat ini masih berasal dari biaya katalis yang sebagian besar masih impor.
“Karena itu, SBRC terus mengembangkan riset untuk mencari katalis alternatif dari biomassa dan alga, sekaligus meningkatkan nilai tambah sawit dengan mengekstraksi senyawa bernilai tinggi sebelum diolah menjadi biodiesel,” imbuh dia.




























