Sinergi GAPKI dan Media Massa Menguatkan Arah Baru UKM Sawit

0

.

Purwokerto selalu punya cara menjahit suasana. Pada akhir November yang teduh itu, puluhan jurnalis berkumpul dalam acara Workshop Jurnalis Promosi Sawit digelar—ajang yang mempertemukan dunia pers dengan para pelaku usaha kecil dan menengah berbasis sawit.

Sebuah pertemuan yang, menurut Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), punya makna lebih besar dari sekadar seminar rutinitas.

Kegiatan dua hari tersebut dibuka oleh Kepala Dinas Tenaga Kerja, Koperasi, dan UKM Kabupaten Banyumas, Wahyu Dewanto. Hadir pula sejumlah narasumber yang membawa perspektif berbeda-beda namun saling berkait: Helmi Muhansyah dari BPDP yang memegang kendali pemberdayaan UKMK; akademisi Universitas Jenderal Soedirman, Khavid Fuazi, yang meneliti hulu-hilir sawit; dan Apriani Ika Kurniawati, pendiri UMKM Berkah Kita yang membuktikan bahwa minyak sawit dapat menjelma lilin aromaterapi yang digemari pasar urban. Di antara mereka hadir Mochamad Husni, Media Relations GAPKI, yang membawa pesan terpenting dari industri sawit: pemberdayaan UKM bukan pelengkap, melainkan bagian inti dari ekosistem sawit nasional.

Husni memulai paparannya dengan menyuguhkan sebuah kenyataan yang jarang dituturkan lantang di ruang publik. Industri sawit Indonesia, katanya, punya denyut ekonomi yang jauh melampaui citra yang sering direduksi ke persoalan ekspor dan kebun-kebun raksasa. Data Oil World 2025 menjadi pijakan: Indonesia kini menempati peringkat pertama dunia dalam produksi, konsumsi, hingga perdagangan minyak sawit. “Dengan potensi sebesar ini, ekosistem usaha di sekelilingnya tidak mungkin tidak ikut bergerak,” ujar Husni.

Kehadiran sawit di banyak wilayah, menurutnya, membuat rantai ekonomi rakyat tumbuh bersama tanaman itu. Toko kelontong, bengkel kecil, jasa transportasi, industri rumahan, sampai usaha makanan olahan—semuanya “menumpang” pada sirkulasi uang dari petani dan pelaku kebun. GAPKI menghitung secara konservatif bahwa sedikitnya Rp200 triliun uang beredar di masyarakat setiap tahun hanya dari pembelian TBS petani kepada perusahaan. Angka yang, bila ditarik ke permukaan, memperlihatkan betapa industri ini sesungguhnya menyangga kehidupan ekonomi di banyak kabupaten.

GAPKI menyebutnya “berkah sawit”—istilah yang mengandung pesan bahwa nilai ekonomi sawit yang besar semestinya menjadi ruang tumbuh bagi banyak pihak, bukan hanya bagi pemilik kebun besar. Visi GAPKI sendiri sederhana sekaligus strategis: industri kelapa sawit Indonesia harus menjadi sektor yang berkelanjutan dan menjadi sumber kesejahteraan bangsa. Dalam konsep kesejahteraan itu, posisi UKM bukan sekadar pendamping, tapi mitra strategis dalam rantai nilai yang lebih luas.

Husni menyadari satu hal: potensi besar tidak otomatis terhubung dengan pasar. Banyak UKM berbasis sawit yang menghasilkan produk inovatif—mulai dari lilin aromaterapi, sabun, minyak goreng premium, pakan ternak, hingga produk kreatif berbahan turunan minyak sawit—namun tidak punya akses promosi yang memadai. Di sinilah, menurutnya, peran media massa menjadi titik krusial.

“Media punya kemampuan mengubah produk yang tadinya hanya beredar di satu kecamatan menjadi dikenal di seluruh provinsi,” kata Husni, disambut anggukan para jurnalis. Bagi GAPKI, liputan media bukan sekadar alat publisitas, tetapi jembatan yang dapat mempertemukan inovasi UKM dengan publik yang lebih luas. Media, kata Husni, juga mampu memberi legitimasi sosial, menghadirkan cerita, dan memperlihatkan bahwa sektor sawit memiliki wajah lain yang jarang dibicarakan—wajah industri kecil yang tekun, kreatif, dan membuka ruang ekonomi keluarga.

Karena itulah GAPKI memasukkan sinergi dengan media ke dalam program komunikasi organisasinya. Mereka ingin jurnalis menjadi mitra yang tidak hanya meliput sisi hulu dan isu-isu korporasi, tetapi juga menyoroti dinamika UKM yang selama ini bekerja senyap di pinggiran industri. Menurut Husni, semakin banyak kisah UKM yang muncul ke permukaan, semakin kuat legitimasi publik terhadap pentingnya industri sawit nasional yang inklusif.

Workshop dua hari itu menjadi ruang eksperimen gagasan tersebut. Para jurnalis tidak hanya mendengar materi di ruang kelas; mereka juga diajak mengunjungi UMKM Berkah Kita, usaha yang lahir dari tangan Apriani Ika Kurniawati. Di rumah produksinya, minyak jelantah—yang selama ini dianggap limbah dapur—diolahnya menjadi lilin aromaterapi yang laris di toko-toko suvenir dan platform belanja online. Perjalanan sehari itu memperlihatkan perubahan wawasan yang sering kali lebih efektif ketimbang dokumen kebijakan.

Bagi GAPKI, kisah seperti Apriani adalah contoh konkret bagaimana industri sawit dapat melahirkan ekonomi kreatif. Mereka melihat UKM sebagai simpul penting dalam mengisi ruang inovasi yang tidak mungkin dilakukan perusahaan besar. UKM punya kelincahan dalam bereksperimen, sementara perusahaan besar menyediakan kepastian pasokan bahan baku dan ruang pasar yang luas. Dua hal ini, jika dijahit oleh pemberitaan media yang cermat, dapat memunculkan sistem ekonomi baru di sekitar sawit—lebih variatif, lebih kreatif, dan lebih ramah pada usaha kecil.

Sinergi itulah yang coba disuarakan Husni. Ia menegaskan bahwa GAPKI siap mendukung berbagai upaya penguatan UKM, baik melalui pemberdayaan, pelatihan, maupun kolaborasi dengan media. Baginya, kekuatan industri tidak diukur dari seberapa besar perusahaan, melainkan dari seberapa banyak pelaku kecil yang ikut tumbuh bersama.

Kegiatan di Purwokerto itu pun menjadi kesaksian kecil tentang bagaimana industri, media, akademisi, dan pelaku UKM bisa duduk satu forum, berbagi pandangan, dan merumuskan arah baru. Dalam lanskap sawit yang kini terus berubah—dari tuntutan pasar global, kebijakan keberlanjutan, hingga inovasi energi—UKM menjadi simpul yang semakin relevan. Dukungan GAPKI dan peran pemberitaan media, bila berjalan beriringan, dapat memperkuat posisi mereka agar tak hanya bertahan, tetapi juga berkembang.

Di balik diskusi itu tersirat gagasan sederhana: pembangunan industri sawit yang berkelanjutan bukan hanya soal sertifikasi atau produktivitas, tetapi juga tentang keberanian memberi ruang bagi usaha-usaha kecil yang menjadi denyut ekonomi banyak desa. Dari meja workshop di Purwokerto, narasi itu kembali ditegaskan. Sinergi antara GAPKI dan media kiranya bukan sekadar rencana komunikasi, melainkan investasi sosial untuk masa depan ekosistem sawit yang lebih kokoh dan inklusif.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini