Perum Bulog akan menggandakan anggaran operasional pemeliharaan gudang mulai September 2026 seiring meningkatnya stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP) yang kini hampir mencapai 5,4 juta ton. Langkah tersebut ditempuh untuk menjaga kualitas beras yang tersimpan di gudang-gudang Bulog di seluruh Indonesia.
Direktur Utama Bulog Ahmad Rizal Ramdhani mengatakan, peningkatan anggaran tersebut dimungkinkan setelah pemerintah menyetujui penyesuaian margin penugasan Bulog menjadi 7 persen. Kebijakan itu memberikan ruang bagi perusahaan untuk memperkuat pengelolaan cadangan beras pemerintah, termasuk meningkatkan kualitas penyimpanan di gudang.
Penyesuaian margin penugasan tersebut diatur dalam Peraturan Badan Pangan Nasional Nomor 3 Tahun 2026 tentang Perubahan atas Peraturan Badan Pangan Nasional Nomor 7 Tahun 2025 tentang Komponen Biaya Pembentuk Harga Pembelian Cadangan Beras Pemerintah, Cadangan Jagung Pemerintah, dan Cadangan Kedelai Pemerintah.
“Kami akan meningkatkan pemeliharaan gudang, terutama untuk teman-teman kepala gudang yang selama ini menjadi ujung tombak Bulog. Biaya operasional pemeliharaan gudang kami naikkan menjadi dua kali lipat,” kata Rizal.
Ia menjelaskan, kebijakan tersebut mulai diberlakukan pada September 2026 karena penyesuaian margin baru efektif pada Agustus. Besaran anggaran disesuaikan dengan tipe gudang masing-masing. Sebagai contoh, gudang tipe A dengan kapasitas di atas 3.500 ton yang sebelumnya menerima anggaran pemeliharaan sekitar Rp2 juta per gudang akan dinaikkan menjadi Rp4 juta.
Menurut Rizal, tambahan anggaran itu akan digunakan untuk mendukung pemeliharaan rutin, mulai dari harian, mingguan, bulanan hingga semesteran, serta perbaikan berkala agar kualitas beras yang disimpan tetap terjaga.
Di sisi lain, Bulog memastikan stok beras nasional dalam kondisi aman. Hingga awal Agustus, realisasi serapan gabah telah mencapai 87,4 persen atau sekitar 3,5 juta ton. Capaian tersebut mendorong total stok beras yang dikelola Bulog hampir menyentuh 5,4 juta ton.
Rizal menambahkan, jika digabungkan dengan stok beras di sektor hotel, restoran, dan kafe (horeka) serta potensi panen yang masih berada di lahan (standing crop), total ketersediaan beras nasional diperkirakan mencapai 25–26 juta ton.
Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan kebutuhan beras nasional yang sekitar 22 juta ton, sehingga diyakini mampu menjaga ketahanan pangan meski terdapat potensi gangguan iklim.
Menurut dia, peningkatan anggaran pemeliharaan gudang menjadi langkah penting untuk memastikan cadangan beras pemerintah tetap terjaga kualitasnya hingga didistribusikan kepada masyarakat.






























