Tingkatkan Kompetensi, LSP-PHI Gelar Uji Kompetensi Sertifikasi Profesi Kelapa Sawit di Poltek CWE

0

Lembaga Sertifikasi Profesi Perkebunan dan Hortikultura (LSP-PHI) kembali melaksanakan Program Uji Kompetensi Sertifikasi Profesi Skema Asisten Kebun Kelapa Sawit serta Skema Asisten Pengolahan Kelapa Sawit untuk mahasiswa vokasi Politeknik Sawit Citra Widya Edukasi (Poltek CWE).

Direktur Utama LSP-PHI, Darmansyah Basyarudin, mengatakan bahwa dalam mencapai visi Indonesia Emas 2045, perguruan tinggi memiliki peran yang sangat strategis, yaitu mendukung pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) kelapa sawit yang andal dan kompeten.

“Apalagi Indonesia juga berpeluang memiliki bonus demografi, wilayah strategis, serta potensi sumber daya alam yang melimpah. Untuk bisa memanfaatkan bonus demografi, kita harus memiliki SDM yang unggul dan kuat,” ujar Darmansyah saat pembukaan acara Uji Kompetensi Sertifikasi Profesi Skema Asisten Kebun Kelapa Sawit serta Skema Asisten Pengolahan Kelapa Sawit untuk mahasiswa vokasi Poltek CWE.

Menurut Darmansyah, Poltek CWE merupakan salah satu perguruan tinggi yang sejak awal mendukung pengembangan SDM melalui program beasiswa yang diluncurkan oleh Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDP KS), Kementerian Keuangan, dan Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian.

“Program pengembangan SDM dimulai sejak 2015-2016, sedangkan program beasiswa dimulai pada 2017, dan Poltek CWE menjadi salah satunya. Sampai saat ini ada 23 perguruan tinggi (PT) yang melaksanakan dari ujung Sumatera sampai ke ujung Papua,” kata Darmansyah, yang juga merupakan Ketua Komite Pengembangan SDM BPDP KS.

Darmansyah menambahkan bahwa selama ini BPDP KS terus mendukung program pemerintah dalam meningkatkan keterampilan, pengetahuan, serta kompetensi SDM Perkebunan Kelapa Sawit melalui Program Beasiswa Pendidikan Pengembangan SDM Perkebunan Kelapa Sawit Angkatan 2024, mulai dari jenjang Pendidikan Diploma I, II, III, IV, dan S1.

“Sehingga tujuan pengembangan industri kelapa sawit nasional dapat tercapai,” katanya.

Selanjutnya, Lembaga Pendidikan Tinggi Penyelenggara Program Beasiswa BPDP KS secara bertahap perlu memastikan bahwa setiap lulusan yang dihasilkan memiliki kriteria: Soft Skill yang memadai (yang selama ini dianggap masih kurang), Hard Skill yang kontekstual, karakter/attitude/sikap kerja yang disiplin, kreatif, dan inovatif, serta keilmuan yang terupdate sesuai tuntutan dan perkembangan kebutuhan dunia usaha/industri sawit.

Direktur Poltek CWE, Nugroho Kristono, menegaskan pentingnya uji kompetensi. Pertama, untuk mendukung target tahun 2045 Indonesia Emas. Apalagi generasi sekarang mutlak 26 tahun kemudian akan menjadi generasi penerus untuk kepentingan negara dan bangsa.

Kemudian yang kedua, adalah mengenai generasi kejayaan yang sedang berada pada puncaknya.

“Ada istilahnya, didukung bonus demografi, jelas itu adalah bonus demografi berupa tersedianya angkatan kerja usia muda. Tidak main-main karena lapangan pekerjaan dan kompetensi kerja juga penting sekali,” kata Nugroho.

Selanjutnya yang ketiga, lanjut Nugroho, adalah pentingnya sertifikasi kompetensi untuk meningkatkan kualitas dan kompetensi SDM perkebunan sawit.

“Ini saya bayangkan seperti, ade ade budidaya adalah bibit sawit, sertifikat kompetensi saya ibaratkan seperti bibit sawit. Setelah 26 tahun kemudian ataupun nanti mulai tahun ini berkarir di industri sawit menapak dari bawah sampai nanti satu saat jadi pimpinan di industri sawit, maka tentunya kita harus siap dengan profesionalitas,” jelasnya.

Nugroho menjelaskan, sartifikasi kompetensi ini adalah fondasi seperti halnya bibit, bibit itu harus aman, akarnya harus kuat, harus dipupuk, maka sartifikasi kompetensi pun juga akarnya harus menjadikan akar.

“Jadi pribadi sebagai orang profesional di industri perkelapa sawit adalah pribadi yang tangguh, tanggap, trengginas. Akarnya adalah kepribadian, bibitnya adalah sartifikasi kompetensi,” jelasnya.

Untuk itu, lanjut Nugroho, harus dirawat. Setelah menerima sertifikat kompetensi, keahlian harus dirawat agar tetap berkualitas dan kompeten.

“Sebagai asisten nanti kalau lulus harus dirawat, Anda harus tetap tanggung jawab dan sadar sebagai seorang profesional di industri perkelapa sawit. Suatu saat pohonnya bertumbuh berkembang sehingga menghasilkan produktivitas yang tinggi,” lanjutnya.

Ketua Komite Teknis LSP-PHI, Dr. Iskandar Andi Nuhung, mengaku bangga atas capaian yang diraih peserta program beasiswa BPDP KS. Menurutnya, mereka adalah aset nasional yang terbentuk dari kader-kader pengelola perkebunan sawit yang handal dan profesional.

“Mengapa saya bangga? Karena ini adalah aset nasional. Dan di sinilah terbentuk kader-kader pengelola sawit yang andal dan profesional. Jadi, ini adalah aset nasional yang harus kita banggakan,” kata Dr. Iskandar.

Dr. Iskandar menambahkan bahwa kompetensi menjadi penting. Karena di semua negara, terutama negara-negara baru, sudah mengedepankan kompetensi.

“Saya di salah satu satu internasional conference mengenai renewable energy di Australia, itu sangat ditekankan supaya produk-produksi kita dikelola oleh orang-orang profesional. Dan semua dibuktikan dengan adanya sertfikat profesi,” tambahnya.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini