Indonesia memiliki berbagai jenis tanah, salah satunya adalah tanah hitam, yang kaya bahan organik dan dikenal sebagai tanah paling subur.
Namun demikian, menurut Periset dari Pusat Riset Tanaman Pangan (PRTP) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Destika Cahyana, tanah hitam di Indonesia menghadapi berbagai tantangan.
“Jika konversi lahan dilakukan tanpa data valid, erosi terjadi, dan pengolahan tanah tidak intensif, tanah hitam akan hilang, begitu juga stok karbonnya. Karena itu, identifikasi sebaran spasial dan proteksi tanah hitam sangat diperlukan,” ujar Destika dalam webinar Pengelolaan Tanah Hitam Berkelanjutan untuk Ketahanan Pangan dan Mitigasi Perubahan Iklim, Kamis lalu.
Lebih lanjut, Destika menjelaskan, pihaknya telah melakukan pemetaan tanah hitam tahap pertama, dimana Indonesia memiliki 6,3 juta hektare tanah hitam yang dapat ditemui di 14 provinsi di Indonesia. Misalnya Aceh, beberapa wilayah di Jawa, Sulawesi, Maluku Utara, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, serta Papua.
“Sedangkan untuk tahap kedua, kami tengah melakukan klasifikasi di software SAGA dengan data DEM dan algoritma Landform. Kemudian pemisahan Mollisols dilakukan di software R dengan metode digital soil mapping atau machine learning,” terang dia.
Periset PRTP BRIN, Ahmad Suriadi menjelaskan, pengelolaan tanah hitam di NTB untuk pertanian, perkebunan, kehutanan, dan peternakan.
“Pengelolaan dilakukan dengan sistem gogorancah untuk tanah kering dan penanaman gora, agar petani tidak perlu menyiangi lahan saat kering,” jelas Ahmad.
Ahmad juga menyarankan penggunaan herbisida selektif untuk menekan biaya penyiangan, serta teknik konservasi air dengan embung untuk meningkatkan produktivitas lahan tadah hujan.
Sementara itu, Tony Basuki dari PRTP BRIN memaparkan pengelolaan tanah hitam di NTT yang tersebar di pulau-pulau kecil.
“Kami mengelola tanah dengan pendekatan berbasis pengetahuan dan kearifan lokal, seperti teknik aisuak untuk mengolah tanah berat. Teknik ini membantu menggemburkan tanah setelah hujan,” ungkap Tony.
Di Lembah Palu Sulawesi Tengah, Syafruddin dari PRTP BRIN menjelaskan tanah hitam dimanfaatkan untuk hortikultura, perkebunan kakao, kopi, dan palawija.
“Pengelolaan tanah hitam di sini memerlukan pemupukan, teknik konservasi tanah dan air. Di samping itu juga diperlukan dukungan infrastruktur dan penyuluhan kepada petani,” kata Syafruddin.
Syafruddin mengajak masyarakat untuk merawat tanah hitam dan mendorong riset lebih lanjut, guna meningkatkan produktivitas dan mendukung swasembada pangan nasional.Â






























