Pemerintah telah menugaskan Perum Bulog dan penggilingan padi melakukan penyerapan gabah petani sesuai dengan harga Rp 6.500 per kilogram tanpa pengeculian. Langkah ini diambil untuk meningkatkan serapan gabah pada triwulan pertama tahun ini.
Namun, Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas), Arief Prasetyo Adi, meminta agar beras yang dikirimkan ke Bulog bukan gabah dengan kadar air hingga 40 persen. Hal ini penting karena kadar air yang tinggi dapat memengaruhi daya simpan beras.
“Harga gabah Rp 6.500 per kilogram yang dimaksud Bapak Menko Pangan tadi, itu minta tolong yang dikirimkan ke Bulog bukan gabah yang kadar airnya sampai 40 persen,” kata Arief di forum ‘Rapat Kordinasi Pemerintah Provinsi Jawa Tengah’ di Semarang, Jawa Tengah (20/3).
Pemerintah telah menugaskan Perum Bulog untuk menyerap gabah setara dengan 3 juta ton beras selama musim panen ini. Beras ini akan disimpan di gudang-gudang Bulog sebagai persiapan untuk satu tahun ke depan.
“Kalau kadar airnya tidak masuk, broken-nya banyak, akan sulit tahan lama disimpan. Jadi minta tolong ini jadi concern bersama dan kalau ada harga petani yang jatuh juga tolong bisa ditindaklanjuti,” tegas Arief.
Per 20 Maret 2025, total stok beras yang dikelola oleh Bulog telah mencapai 2,1 juta ton. Sementara itu, realisasi penyerapan beras dalam negeri telah mencapai 448 ribu ton, atau sekitar 14,94 persen dari target penyerapan sebesar 3 juta ton.
Selain itu, Arief juga meminta kepada segenap Kepala Daerah se-Jateng agar dapat memperhatikan harga di tingkat petani. Dia mengatakan, pihaknya siap membantu menjembatani agar hasil panen petani Jateng dapat terserap secara optimal.
“Khusus untuk harga yang ditingkat petani jatuh, kita bisa bantu komunikasi agar para pedagang beras bisa serap di daerah Bapak Ibu. Kami bisa mengundang pedagang-pedagang misalnya dari Pasar Induk Beras Cipinang untuk serap di Jateng,” ujar Arief.
Pada kesempatan yang sama, Arief juga mengimbau agar pemerintah daerah dapat menyiapkan Cadangan Pangan Pemerintah Daerah (CPPD), terutama untuk beras. Selain itu, Arief meminta agar di APBD juga bisa dianggarkan untuk subsidi harga pangan.
“Jadi, itu bisa dipergunakan saat harga pangan sedang meninggi misalnya melalui operasi pasar murah,” tukasnya.
Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin dalam keterangannya ke insan pers menghaturkan apresiasinya kepada pemerintah pusat atas implementasi strategi menghadapi panen raya padi. Wagub Gus Yasin sepakat bahwa kualitas gabah tetap harus dijaga.
“Pemerintah sudah berupaya untuk menahan supaya harga (petani) tidak turun, harganya dari Rp 6.500, tetapi juga harus kita jaga kualitasnya,” tutur dia.
Sementara Menteri Koordinator Bidang Pangan (Menko Pangan) Zulkifli Hasan (Zulhas) memastikan pemerintah akan memasifkan monitoring ketersediaan dan harga pangan pokok, terutama hingga Idulfitri.
“Kita sepakat sama-sama siaga apel setiap hari memonitor ketersediaan dan harga bahan pokok, agar rakyat kita bisa menjalankan Puasa riang gembira,” terang Zulhas.
Berdasarkan data dari BPS, panen raya tahun ini diperkirakan berlangsung pada Maret-April. Hingga bulan April, produksi beras diperkirakan akan mencapai 13,95 juta ton, yang melebihi konsumsi tahunan yang hanya sekitar 10,4 juta ton.
“Jadi ada kelebihan dari yang kita konsumsi 10,4 juta ton. Surplus 3,5 juta ton. Target kita menyerap 3 juta ton secara beras, sekurang-kurangnya 2 juta ton. Oleh karena itu, perlu kerja sama dengan pemerintah daerah,” imbuh dia.






























