Jakarta — Lampu-lampu di ruang pemutaran Hollywood XXI, Jakarta, meredup pelan. Di layar lebar, hutan Kalimantan Tengah terbentang hijau, diselingi hamparan kebun sawit yang tertata rapi. Suara lembut Carl Traeholt mengalun, mengantar penonton memasuki lanskap yang selama ini sering diperdebatkan dunia. “Di sini, saya melihat sesuatu yang berbeda,” katanya lirih. “Sebuah harmoni, tempat sawit, hewan, hutan, dan manusia hidup berdampingan.”
Film dokumenter Palm Oil in The Land of Orangutans garapan sineas Denmark, Dan Sall, sejak menit awal mengajak penonton menembus batas persepsi. Tidak ada musik dramatis atau narasi menggurui. Yang ada hanyalah kenyataan: sawit, orangutan, dan manusia berbagi ruang di wilayah Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah. Traeholt, yang menjabat International Project Development Manager di Copenhagen Zoo, menelusuri jejak selama delapan tahun (2015–2023) di kawasan Pangkalan Bun, merekam perubahan cara pandang terhadap industri sawit Indonesia.
Kamera mengikuti langkahnya menyusuri jalan tanah, menyeberangi kanal, menatap tajam ke arah hutan koridor yang membelah blok-blok sawit. Awalnya skeptis, Traeholt perlahan menemukan cerita lain: bahwa perkebunan sawit bisa menjadi bagian dari solusi lingkungan, bukan sekadar sumber masalah. “Saya datang dengan prasangka, tapi pulang dengan harapan,” ujarnya dalam film.
Film berdurasi 72 menit ini merupakan hasil kolaborasi antara Copenhagen Zoo dan United Plantation, perusahaan asal Denmark yang beroperasi di Indonesia. Proyek ini merekam upaya panjang membangun jembatan ekologis antara perkebunan sawit dan kawasan konservasi, terutama Taman Nasional Tanjung Puting. United Plantation, seperti ditunjukkan dalam film, membangun hutan koridor seluas 318 hektare yang berfungsi menghubungkan area produksi dengan habitat satwa liar. Jalur hijau itu kini menjadi lintasan alami bagi orangutan, burung, dan reptil.
Tidak ada glorifikasi. Sall memilih menampilkan gambar-gambar yang jujur: seekor orangutan melintas di antara batang sawit, seekor elang bertengger di menara pantau, atau seorang petani plasma memeriksa pohon di tepi sungai sambil tersenyum. Narasinya sederhana tapi kuat — bahwa di tengah industri yang sering dicap destruktif, ada ruang untuk kompromi ekologis.
Pemutaran film pada Jumat, 17 Oktober 2025, diikuti diskusi yang menarik perhatian banyak pihak. Hadir Carl Traeholt dan Simon Bruslund, Director of Global Development Copenhagen Zoo, serta Dr. Petrus Gunarso, pakar kehutanan dan lingkungan dari Indonesia. Acara ini diinisiasi Kedutaan Besar RI di Denmark, Copenhagen Zoo, dan Palm Oil Strategic Studies (IPOSS), dengan dukungan Kementerian Luar Negeri RI. Turut hadir para tokoh IPOSS seperti Darmin Nasution, Sofyan Djalil, dan Yuri Octavian Thamrin. Acara dibuka oleh Dirjen Informasi dan Diplomasi Publik Kemlu RI, Heru Hartanto Subolo, dan diketuai oleh Nanang Hendarsah.
Diskusi setelah film berlangsung hangat dan reflektif. Traeholt mengakui bahwa banyak pandangan di Eropa selama ini terlalu hitam-putih dalam menilai sawit. “Kita sering melihat dari jauh, lalu menghakimi,” ujarnya. “Tapi ketika datang dan berbicara dengan petani, kita menemukan cerita yang berbeda.” Simon Bruslund menambahkan bahwa sebagian besar deforestasi di Indonesia terjadi sebelum ekspansi sawit modern dimulai. “Kini tantangannya adalah bagaimana sawit justru menjadi bagian dari solusi konservasi,” katanya.
Dr. Petrus Gunarso memperkuat pandangan itu dengan menekankan pentingnya konteks lokal. Menurutnya, sawit di Indonesia bukan sekadar komoditas ekspor, tapi juga sumber kehidupan bagi lebih dari 16 juta orang. “Kita tidak bisa membicarakan lingkungan tanpa membicarakan manusia di dalamnya,” ujarnya. Pernyataannya disambut tepuk tangan panjang.
Forum itu sempat riuh ketika moderator membuka sesi tanya jawab. Hampir separuh penonton mengacungkan tangan. Sebagian bertanya serius tentang metodologi konservasi, sebagian lagi — dengan antusias khas penonton Indonesia — tertarik pada hadiah bagi penanya terbaik yang disediakan panitia. Tapi suasana tak pernah kehilangan maknanya: di ruang itu, sawit dibicarakan tanpa prasangka.
Secara visual, film Palm Oil in The Land of Orangutans memang memanjakan mata. Namun yang lebih kuat justru pesannya. Sall dan Traeholt tak berniat menciptakan propaganda, melainkan menghadirkan kenyataan yang lebih berimbang. Mereka menunjukkan bahwa di tengah kritik global, masih ada kisah baik dari negeri tropis — kisah tentang industri yang belajar menyesuaikan diri dengan alam.
Film ini memang tidak menutup mata terhadap kompleksitas. Ada cuplikan deforestasi lama, konflik lahan, dan kekhawatiran ekologis. Tetapi justru dari pengakuan itulah narasi ini terasa jujur. Ia tidak menghapus luka masa lalu, tapi menunjukkan jalan baru: bahwa sawit bisa bertransformasi menjadi bagian dari solusi iklim jika dikelola dengan ilmu dan kesadaran sosial.
Bagi banyak pengamat, film ini menjadi contoh nyata diplomasi lunak atau soft diplomacy. Alih-alih berdebat lewat forum politik, Indonesia memilih menampilkan bukti di lapangan. Lewat kamera dan cerita, ia menyodorkan realitas yang tak bisa dibantah: sawit tidak selalu menghancurkan, ia juga bisa menyembuhkan.
“Diplomasi yang paling efektif adalah yang berbicara dengan hati dan data,” kata salah satu peserta diskusi. Dalam konteks ini, Palm Oil in The Land of Orangutans bekerja seperti cermin: memantulkan kembali citra Indonesia yang selama ini terdistorsi oleh narasi global.
Ketika lampu dinyalakan dan layar putih kembali kosong, suasana ruangan seolah masih menyisakan gema dari Kalimantan. Di antara percakapan kecil dan foto-foto bersama, muncul rasa lega dan bangga. Film ini tidak hanya menampilkan keberhasilan satu perusahaan atau satu proyek konservasi, tetapi menegaskan sebuah pesan besar: bahwa perubahan dimulai dari kemauan untuk memahami, bukan menghakimi.
Dari layar menuju ruang diplomasi, dari hutan menuju kota, film ini membuka jalur baru — seperti hutan koridor yang menghubungkan dua dunia. Ia menautkan Indonesia dengan dunia melalui cerita yang jujur, lembut, dan penuh harapan. Sebuah pengingat bahwa keberlanjutan sejati bukan hanya tentang menjaga hutan, tetapi juga menjaga dialog di antara sesama manusia.



























