RI Defisit Gula 4,03 Juta Ton, Mentan Amran Ungkap Penyebabnya

0
Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman
Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman.

Kebutuhan gula nasional yang mencapai 6,7 juta ton belum mampu dipenuhi produksi dalam negeri yang baru 2,67 juta ton. Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman menyebut, Indonesia masih defisit sekitar 4,03 juta ton.

Hal itu disampaikan Mentan Amran dalam rapat kerja bersama Komisi VI DPR RI yang membahas tata kelola kebijakan gula nasional di Senayan, Jakarta Pusat, Rabu (8/4).

“Produksi gula kristal putih 2,67 juta. Saat ini membutuhkan gula sebesar 6,7 juta ton, terdiri dari gula industri 3,9, konsumsi 2,8. Dengan demikian, kita masih perlu 4,03 juta ton,” ujar Amran.

Amran menegaskan, gula merupakan komoditas strategis yang tidak hanya berperan sebagai kebutuhan konsumsi rumah tangga, tetapi juga menjadi bahan baku penting bagi industri nasional.

Menurutnya, meningkatnya kebutuhan gula harus menjadi alarm untuk memperkuat sektor hulu hingga hilir, khususnya pada subsektor perkebunan tebu.

Ia mengungkapkan, salah satu persoalan utama rendahnya produksi gula nasional adalah kondisi tanaman tebu yang sudah tua karena tanaman tebu tidak diremajakan secara berkala.

“Masalah pertama di pergulaan karena kami sejak pegawai di PPL di pergulaan, itu masalah utamanya adalah ratoonnya. Itu 80 persen itu ratoon 10 atau pun 7, artinya umurnya 7 tahun, 10, bahkan 20 tapi kembali lagi ratoon 4,” ujar Mentan Amran.

Ia mengungkapkan, sekitar 70–80 persen tanaman tebu saat ini sudah tua karena minim bongkar ratoon. Idealnya, peremajaan dilakukan 25 persen per tahun, namun realisasinya baru sekitar 10 persen.

“Kami setelah mengecek 70-80 persen rusak, jadi tidak layak. Itu kami cek langsung di lapangan. Dulu tahun 1930 produktivitas 14 ton gula. Setelah kita merdeka 4,9 kami hitung tadi ton per hektar. Kenapa? Ini ada saling keterkaitan, Buk,” katanya.

“Sekarang ini karena ratoonnya sudah tua, tidak dipelihara, harusnya itu harus 25 persen kita bongkar setiap tahun, itu mutlak kalau mau produktivitas tinggi, tapi ini dibongkar hanya 10 persen dan seterusnya,” sambungnya.

Sebagai langkah perbaikan, Mentan Amran mengatakan, Kementan bersama swasta dan PT Perkebunan Nusantara (PTPN)  telah mengalokasikan program bongkar ratun seluas 100.000 hektare per tahun. 

Pada 2025, sambungnya, anggaran yang disiapkan mencapai Rp 1,7 triliun yang bersumber dari APBN dalam bentuk hibah untuk petani. Ia optimis jika program tersebut berjalan konsisten, Indonesia dapat mencapai swasembada gula konsumsi pada 2027.

“Ini kami sudah ambil, kami yakin insyaallah kalau ini konsisten tahun 2027 itu swasembada gula putih, kemudian kita lanjutkan untuk industri,” ungkap Mentan Amran.

Di samping minimnya bongkar ratoon, Mentan Amran juga menyoroti adanya anomali di pasar gula. Di tengah kekurangan produksi, gula dalam negeri justru sulit terserap.

“Kemudian ini memang ada yang agak aneh. Satu sisi produksi kita kurang, tapi gulanya tidak bisa laku. Jadi produksi kita kurang, tapi molase gula tidak bisa laku. Ibu Ketua, Wakil Ketua pasti tahu di Jawa Timur. Dan itu terjadi di Oktober,” ujarnya.

Menurutnya, kondisi ini diduga akibat membanjirnya gula rafinasi ke pasar konsumsi yang seharusnya diperuntukkan bagi industri.

“Nah itu terjadi kami langsung telepon karena ada laporan dari petani di Jawa Tengah, Kalimantan Timur, Sulawesi Selatan itu rafinasi yang langsung masuk ke lapangan, ke pasar,” ujarnya.

Amran yang juga menjabat sebaai Kepala Badan Pangan Nasional menambahkan, perbedaan warna antara gula rafinasi dan gula konsumsi domestik yang semakin tipis juga menjadi tantangan dalam pengawasan di lapangan.

“Ini persoalan besar. Jadi yang memukul petani kita, kita sendiri,” pungkasnya.

Reporter: Supianto

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini