Upaya mewujudkan swasembada kedelai masih menghadapi sejumlah tantangan, mulai dari minimnya ketersediaan benih, rendahnya produktivitas, hingga harga kedelai lokal yang kalah bersaing dengan produk impor.
Hal itu disampaikan Direktur Perbenihan Tanaman Pangan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian, Ladiyani Retno Widowati, saat ditemui di IPB International Convention Center (IICC), Bogor, Rabu (1/7).
Ladiyani menjelaskan, ketersediaan benih kedelai nasional saat ini masih sangat terbatas. Kondisi tersebut terjadi karena penangkar benih masih bergantung pada program pemerintah sehingga produksi benih belum berkembang secara mandiri.
Selain itu, harga kedelai lokal dinilai belum mampu bersaing dengan kedelai impor. Menurutnya, kedelai impor dijual sekitar Rp8.000 per kilogram, sedangkan harga yang layak diterima petani untuk kedelai lokal sedikitnya mencapai Rp13.000 per kilogram.
“Produktivitas kedelai juga masih rendah. Rata-rata hanya sekitar 1,5 ton per hektare, bahkan ada yang hanya 1 ton. Dengan kondisi seperti itu, petani lebih memilih menanam jagung yang hasilnya bisa lebih dari 5 ton per hektare,” ujarnya.
Karena itu, ia menilai pemerintah perlu memberikan dukungan yang lebih kuat agar petani tertarik menanam kedelai. Salah satunya melalui penetapan harga pembelian yang menguntungkan petani serta pengendalian masuknya kedelai impor.
Ia mengatakan usulan harga kedelai di tingkat petani minimal Rp 13.000 per kilogram telah lama diperjuangkan. Dengan harga tersebut, petani masih memperoleh pendapatan yang lebih layak meski produktivitas belum tinggi.
“Kalau hanya menghasilkan 1 ton per hektare dengan harga Rp 13.000 per kilogram, pendapatannya baru sekitar Rp 13 juta. Itu masih jauh dibandingkan komoditas lain. Karena itu, petani yang masih bertahan menanam kedelai menurut saya luar biasa,” katanya.
Meski demikian, Ladiyani menegaskan kualitas kedelai lokal sebenarnya sangat baik, terutama sebagai bahan baku tempe dan tahu. Persoalan utamanya bukan kualitas, melainkan daya saing harga terhadap kedelai impor.
Terkait kebutuhan lahan untuk mencapai swasembada, Ladiyani memperkirakan apabila produktivitas rata-rata hanya 1 ton per hektare dan kebutuhan nasional mencapai sekitar 390.000 ton per tahun, maka Indonesia memerlukan sedikitnya 390.000 hektare lahan tanam kedelai.
Namun, penyediaan lahan tersebut tidak mudah karena harus bersaing dengan komoditas lain, seperti padi, jagung, hortikultura, hingga tanaman perkebunan.
“Seperti sarung yang ditarik ke atas bawahnya kelihatan, ditarik ke bawah atasnya kelihatan. Lahannya saling berebut dengan komoditas lain,” katanya.
Meski demikian, sejumlah daerah masih konsisten membudidayakan kedelai, di antaranya Grobogan di Jawa Tengah dan beberapa wilayah di Jawa Timur, termasuk Kabupaten Nganjuk.
Ia mencontohkan petani di Nganjuk tetap menanam kedelai karena merasakan manfaatnya terhadap budidaya bawang merah. Sebagai tanaman legum, kedelai mampu mengikat nitrogen melalui bintil akar sehingga meningkatkan kesuburan tanah. Dampaknya, tanaman bawang merah yang ditanam setelah kedelai dapat tumbuh lebih baik dan menghasilkan produksi yang lebih tinggi.
“Petani di sana menganggap memang ada sedikit pengorbanan saat menanam kedelai, tetapi hasil bawang merah setelahnya menjadi lebih bagus. Sayangnya, belum semua petani memahami manfaat kedelai dalam memperbaiki kesuburan tanah,” tuturnya.






























