
Perum Bulog menyiapkan 75.000 ton beras premium melalui jalur komersial untuk memperkuat ketersediaan beras premium di pasar.
Demikian disampaikan Direktur Utama Bulog Ahmad Rizal Ramdhani saat ditemui wartawan seusai menghadiri Forum Group Discussion (FGD) bersama Komisi IV DPR RI di Kantor Pusat Perum Bulog, Jakarta, Senin (7/9).
Menjawab persoalan ketersediaan beras premium di pasar, Rizal mengatakan Bulog akan meningkatkan produksi melalui jalur komersial.
“Langkahnya untuk Bulog meningkatkan produksi beras premium melalui jalur komersil,” kata Rizal, yang baru saja menyelesaikan pendidikan doktor di Universitas Indonesia dengan kajian tentang tata kelola pascapanen padi berkelanjutan.
Sebelumnya, dalam sidak di Pasar Jatinegara dan Pasar Rawamangun, Jakarta Timur, Sabtu (5/9), Rizal telah menyampaikan, Bulog menyiapkan 75.000 ton beras premium dan 35.000 ton beras medium.
Sejumlah ritel modern telah berkomitmen menyerap pasokan beras Bulog tersebut. Di antaranya PT Indomarco Prismatama, PT Sumber Alfaria Trijaya, PT Hero Retail Nusantara, PT Megah Daya Inti, dan PT Inti Cakrawala Citra.
“Sebagaimana kemarin kami laporkan pada saat sidak kemarin, 75.000 ton untuk beras premium dan 35.000 ton beras medium,” ujarnya.
Bulog juga mendapat tambahan kuota penyaluran beras SPHP sebanyak 1 juta ton. Tambahan tersebut disiapkan untuk mengantisipasi potensi dampak El Nino yang diperkirakan masih berlangsung hingga Maret 2027.
Dia menegaskan, perusahaan siap menerima penugaskan menyalurkan tambahan 1 juta ton beras SPHP tersebut hingga Maret 2027. Penyaluran akan dilakukan dengan melihat potensi kerawanan di masing-masing daerah, terutama wilayah yang terdampak El Nino dan berisiko mengalami gagal panen.
Menurut dia, kondisi tersebut perlu diantisipasi karena dampak El Nino berpotensi mengganggu produksi beras di sejumlah wilayah. Karena itu, SPHP diharapkan dapat menjadi stimulus bagi masyarakat sekaligus menyediakan beras dengan harga terjangkau.
“Dampak El Nino ini juga ada sedikit mungkin terdampak terhadap gagal panen dan lain sebagainya, maka di situlah peran SPHP harus turun sehingga memberikan stimulus kepada masyarakat, memberikan harga yang murah kepada masyarakat dengan menitikberatkan kualitas daripada beras tersebut,” ujar Rizal.
Rizal menegaskan tambahan penyaluran SPHP tersebut harus tetap dibarengi dengan pengawasan terhadap kualitas beras. Bulog, kata dia, tidak ingin beras yang disalurkan kepada masyarakat justru menimbulkan persoalan baru karena kualitasnya tidak sesuai harapan.
“Jangan sampai nanti beras-berasnya tidak berkualitas sehingga nanti masyarakat kecewa,” katanya.
Selain tambahan SPHP, dalam FGD tersebut Bulog juga mendapat dukungan untuk penyaluran SPHP jagung sebanyak 150.000 ton kepada peternak. Komisi IV juga mendukung rencana hilirisasi 380.000 ton beras turun mutu menjadi tepung beras.





























