Bantu Peternak Unggas, Alokasi SPHP Jagung Naik Hampir 8 Kali Lipat

0
jagung pakan ternak
Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) jagung pakan untuk membantu peternak mendapatkan pakan yang murah. Dok: Ist

Alokasi Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) jagung pakan tahun ini meningkat hampir delapan kali lipat dibandingkan 2025 untuk membantu peternak unggas mendapatkan pakan dengan harga lebih terjangkau.

Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) Andi Amran Sulaiman menyebut ketimpangan harga telur ayam menjadi salah satu persoalan di sektor perunggasan. Harga di tingkat peternak masih di bawah harga acuan, sedangkan di tingkat konsumen justru melampaui harga acuan tertinggi.

“Telur dan ayam juga surplus bahkan ekspor. Nah hanya ada masalah, di tingkat peternak itu harga telur ayam Rp 20.000-21.000, harusnya 26.000 dan 30.000 harusnya. Tetapi juga ironisnya di konsumen Rp 40.000-45.000. Ini di atas harga acuan tertinggi. Ada anomali,” ujarnya di Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Jakarta, Senin (26/10).

Untuk membantu peternak kecil, pemerintah menyalurkan jagung pakan bersubsidi melalui program SPHP yang dijalankan Perum Bulog atas penugasan Bapanas.

Pada 2026, total alokasi SPHP jagung pakan mencapai 391,9 ribu ton, terdiri atas alokasi awal 241,9 ribu ton dan tambahan 150 ribu ton. Jumlah tersebut hampir delapan kali lipat dibandingkan alokasi 2025 yang sebesar 51,2 ribu ton.

Program SPHP jagung pakan telah berjalan sejak 2023 dengan realisasi 27,6 ribu ton pada tahun pertama dan 275,5 ribu ton pada 2024. Adapun realisasi tahun ini hingga 26 Oktober mencapai 215,4 ribu ton.

Penyaluran SPHP jagung pakan tahun ini melibatkan 151 unit koperasi dan asosiasi, dengan total 11.646 peternak unggas yang tersebar di 29 provinsi.

Bapanas juga memastikan ketersediaan jagung pakan nasional mencukupi sehingga tidak diperlukan impor. Indonesia terakhir kali mengimpor jagung pakan pada 2024.

Di sisi lain, pemerintah bersama Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) menindak dugaan praktik perantara yang dinilai turut menyebabkan ketimpangan harga telur dan daging ayam ras. Langkah tersebut disebut mulai berdampak pada penurunan harga di tingkat konsumen.

“Alhamdulillah terima kasih Pak Kabareskrim juga Pak Kapolri, kami sudah bicara. Sudah mulai menindak. Baru diumumkan, harga sudah turun. Jadi harga turun di konsumen. Ini kabar baik,” ungkap Amran.

Berdasarkan pemantauan Bapanas, rata-rata harga telur ayam di tingkat konsumen secara nasional mencapai Rp28.414 per kilogram (kg), sedangkan daging ayam ras Rp39.310 per kg. Dibandingkan sebulan sebelumnya, harga telur ayam turun 1,3 persen dan daging ayam ras turun 4,82 persen.

Menteri Dalam Negeri (Mendagri), Tito Karnavian juga mengakui adanya penurunan harga setelah pemerintah mengumumkan langkah penindakan terhadap dugaan anomali harga di sektor perunggasan.

“Nah khusus untuk daging ayam ras, telur ayam ras yang tadinya dua minggu lalu tadi kenaikan, sekarang agak menurun. Kenapa? Kita melihat ada anomali di tingkat produsen, itu harganya rendah, tapi di tingkat konsumen tinggi. Artinya ada middleman, ada middle party di situ, sehingga akhirnya terjadi kenaikan,” beber Tito.

Tito mengatakan pemerintah akan terus menertibkan praktik perantara yang diduga menyebabkan ketimpangan harga. Menurutnya, penurunan harga mulai terlihat setelah pemerintah menyampaikan rencana penindakan.

“Pak Amran cukup keras untuk meminta untuk melakukan penindakan dan sudah bekerja sama dengan Kabareskrim dan sudah disetujui oleh Bapak Kapolri. Kita akan melakukan penertiban, tapi baru keras begitu saja, sudah harganya sudah turun gitu,” pungkas Tito.

Reporter: Supianto

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini