
Menteri Pertanian sekaligus Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas), Andi Amran Sulaiman menyatakan Indonesia mampu mempertahankan swasembada beras secara berkelanjutan selama dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran
“Tahun lalu kita tidak impor, tahun ini juga tidak impor. Insyaallah stok kita aman,” ujar Amran dalam konferensi pers seusai Rapat Koordinasi Menteri Koordinator Bidang Pangan di Ruang Rapat Utama Kemenko Bidang Pangan, Graha Mandiri, Senin (26/10).
Amran menyebut, stok beras nasional saat ini mencapai 25 juta ton, terdiri atas 10 juta ton standing crop atau tanaman padi yang masih berada di lahan, 10 juta ton di masyarakat dan sektor hotel, restoran, dan kafe (Horeka), serta 4,5 juta ton di Perum Bulog.
Sementara itu, kebutuhan beras nasional mencapai sekitar 2,5 juta ton per bulan. Dengan kondisi tersebut, Amran memastikan ketersediaan beras mencukupi kebutuhan nasional hingga Juli–Agustus.
“(Stok beras) 25 (juta ton) dibagi (kebutuhan) 2,5 juta (per bulan), berarti itu (cukup untuk memenuhi kebutuhan selama) 10 bulan ke depan. Sampai bulan Juli—Agustus aman,” ujar Amran.
Amran juga menegaskan, pihaknya telah mengantisipasi potensi dampak El Nino terhadap produksi pangan melalui pompanisasi, optimalisasi lahan, perbaikan irigasi, serta penggunaan benih tahan kekeringan.
“Jadi, El Nino tidak perlu mengkhawatirkan karena kita sudah mengantisipasi sebelumnya. Dengan pompanisasi, opla, irigasi kita perbaiki, kemudian benih yang tahan kekeringan,” ujarnya.
Selain beras, Amran menyebut produksi ayam dan telur nasional mengalami surplus, bahkan telah menembus pasar ekspor. Hanya saja, kata dia, ada persoalan ketidakseimbangan harga telur di tingkat peternak dan konsumen.
Menurut Amran, harga telur di tingkat peternak berada pada kisaran Rp 20.000–Rp 21.000 per kilogram, sedangkan harga yang semestinya berada di kisaran Rp 26.000–Rp30.000 per kilogram. Sebaliknya, harga di tingkat konsumen mencapai Rp 40.000–Rp 45.000 per kilogram.
Dia menilai kondisi tersebut sebagai anomali harga karena harga di tingkat konsumen justru tinggi ketika harga yang diterima peternak relatif rendah. Dia mengatakan telah berkoordinasi dengan Satgas Pangan dan aparat penegak hukum untuk menindaklanjuti persoalan tersebut.
“Alhamdulillah tim Satgas, Pak Kabareskrim, juga Pak Kapolri, kami sudah bicara, sudah mulai menindak. Baru diumumkan, harga sudah turun,” ujarnya.
Untuk membantu peternak, pemerintah menjalankan sejumlah langkah, termasuk menyediakan pakan dengan harga lebih terjangkau dan menyalurkan jagung melalui program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP).
Amran mengatakan pakan yang disediakan pemerintah untuk peternak dijual seharga Rp8.630 per kilogram, lebih rendah dibandingkan harga pakan swasta yang menurutnya berkisar Rp10.000–Rp12.000 per kilogram.
Pemerintah juga telah menyalurkan jagung SPHP bersubsidi melalui Bulog untuk membantu peternak kecil menekan biaya produksi.
Selain itu, pemerintah berencana membangun pabrik tepung telur bersama badan usaha milik negara (BUMN) guna mengurangi ketergantungan terhadap impor produk tersebut.
“Insyaallah kita akan bangun. Pabriknya satu tahun selesai, impornya nanti kita stop,” kata Amran.
Amran juga menyinggung perkembangan harga singkong setelah pemerintah menghentikan impor komoditas tersebut. Dia menyebut harga singkong di tingkat petani kini mencapai Rp3.000 per kilogram, yang disambut gembira oleh petani.
“Sekarang setelah kita tutup impor, terima kasih Pak Mentan. Tutup impor, harganya di lapangan kemarin ini disambut gembira oleh petani singkong, Rp3.000 per kilo,” ujarnya.
Dia juga menyampaikan rencana ekspor singkong ke luar negeri pada pekan depan. Menurutnya, perubahan dari impor menjadi ekspor dalam waktu singkat menunjukkan petani diuntungkan karena hasil produksinya terserap.
“Bayangkan impor menjadi ekspor dalam waktu singkat. Jadi petani, kesimpulannya petani diuntungkan, petani untung, mereka berproduksi. Kita swasembada,” katanya.

























