Askindo Tuan Rumah Konferensi Kakao Internasional Indonesia ke-7

0
buah tanaman kakao

Asosiasi Kakao Indonesia (Askindo) yang merayakan ulang tahunnya ke-30 terpilih menjadi menjadi tuan rumah Konferensi Kakao Internasional Indonesia ke-7, yang akan berlangsung di Nusa Dua – Bali, 14-15 November 2019.

menurut Arie Nauvel Iskandar, Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Askindo, konferensi ini merupakan bagian dari Indonesia Cocoa Journey yang digalang Askindo dengan dukungan penuh dari Pemerintah dan seluruh lembaga terkait.

“Indonesia Cocoa Journey didukung pemerintah melalui Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Kementerian Pertanian, Kementerian Perindustrian dan Kementerian Perdagangan serta seluruh asosiasi dan Lembaga terkait kakao, seperti Dewan Kakao Indonesia (Dekaindo), Asosiasi Pengusaha Industri Kakao dan Cokelat Indonesia (APIKCI), Asosiasi Industri Kakao Indonesia (AIKI) dan Cocoa Sustainability Partnership (CSP),” kata Arie saat jumpa pers di Jakarta, 11/9/2019.

Arie menjelaskan, Indonesia Cocoa Journey merupakan rangkaian kegiatan yang telah dimulai sejak akhir tahun lalu. Termasuk dalam journey adalah membantu Pemerintah Sulawesi Selatan dalam membangun roadmap (peta jalan) kakao untuk Sulawesi Selatam, menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) terkait dengan peningkatan produktifitas melalui pendekatan menyeluruh dari hulu hingga ke hilir yang dilanjtkan dengan konferensi kakao yang akan mengkaji dari sudut pandang komunitas kakao internasional.

“Keseluruhan rangkaian akan di akhiri dengan menyiapkan rekomendasi terkait cocoa roadmap terpadu dengan formula cocoa data center yang akan dipimpin langsung oleh Deputi 2 Koordinasi Bidang Pangan dan Perkebunan, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian,” jelasnya.

askindo konferensi kakao

Arie berpendapat, semua rangkaian kegiatan, khususnya konferensi sangatlah penting bagi para pemangku kepentingan, baik petani, pihak industri, maupun pemerintah, dan mitra dalam industry kakao dari seluruh dunia.

“Koonferensi ini dimaksudkan untuk mendorong aksi positif bagi pengembangan ekonomi melalui industry berbasis kakao berkelanjutan di era baru yang kompetitif, dan untuk mendukung system produksi kakao dari petani di Indonesia yang Tangguh di dalam berbudidaya dan berkelanjutan serta mampu beradaptasi dengan perubahan iklim,” katanya.

Di tengah terus meningkatnya perbuatan biji kaka global dan nasional dengan harga yang menguntungkan dan relative stabil, namun produksi kakao skala kecil di Indonesia justru terus menurun secara signifikan sejak tauhn 2006, meskipun sempat meningkat setelah adanya Gerakan Nasional Kakao namun kembali menurun hingga saat ini.
Menurut data ICCO, Indonesia yang dulunya merupaan penghasil kakao terbesar ketiga di dunia setelah Pantai Gading dan Gana, kini hanya menempati posisi ke-6 setelah disusul Equador, Nigeria dan Kamerun.

Menurut Arie, Pantai Gading, –penghasil kakao terbesar di dunia, bertekad untuk tumbuh kuat dengan produksi tahunan lebih dari 2 juta ton dari total 4,8 juta ton yang diproduksi secara global, menurut Internasional Cocoa Organization (ICCO). Produksi Indoensia yang menyuplai 14 persen dari produksi kakao global pada tahun 2006 telah turun secara konsisten menajdi 220.000 (sumber ICCO) sampai 260.000 ton (Perkiraan industry), ini hanya 5 persen dari produksi dunia.

“Pada saat yang sama, investasi asing dalam industry pengolahan kakao Indonesia telah mencapai kapasitas terpasang 774.000 ton biji kakao per tahun. Dengan penururnan produksi biji kakao Indonesia secara signifikan, jumlah pabrik pengilahan kakao ang beroperasi di Indonesia telah turun dari 20 pabrik pada masa 9 tahun yang lalu menjadi 11 pabrik yang beroperasi saat ini. Pabrik yang tersisa saat ini mengimpor 239.377 ton biji kakao (sumber BPS) untuk mendukung kebutuhan produksi tahunan mereka,” tambah Arie.

Pemangku kepentingan sector kakao Indonesia dan mitra Pemerintah yang bekerjasama untuk mengembangkan roadmap pembangunan sector kakao Indonesia berkelanjutan, menyadari besarnya tantangan yang dihadapi, khususnya oleh petani kecil. Dari sudut pandang petani kecil, pertanian kakao harus bersaing dengan produksi tanaman lain dalam hal pendapatan tahunan dan bulanan yang dapat diperoleh petani. Akses bantuan keuangan dan ketersediaan tenaga kerja (hari orang kerja) juga merupakan pertimbangan utama.

CSP sebagai forum yang didirikan oleh para pemangku kepentingan sector kakao Indonesia pada tahun 2006, telah memfokuskan kegiatannya pada peningkatan profesionalisme petani kecil dan peningkatan kapasitas organisasi petani, serta akses ke uangan dan pasar. Pemerintah juga mendukung dengan program yang mencakup peningkatan akses ke pupuk dan bahan tanam yang lebih baik serta dukungan untuk program pelatihan petani dan bantuan untuk rehabilitasi pertanian.

Terlepas dari upaya-upaya tersebut. Produksi kakao Indonesia justru terus menurun. Ini menjelaskan bahwa tindakan yang tepat perlu terus dilakukan untuk meningkatkan produksi kakao di era yang sanat kompetitif dewasa ini dengan kondisi iklim yang sangat tidak menentu, sehingga menyulitkan petani mengelola pertanaman kakao mereka.

“Ini merupakan tantangan besar, nyata dan mendesak bagi pemangku kepentingan sektor kakao global. Para pemangku kepentingan global perlu berbagi pengalaman, memikirkan dan melakukan tindakan Bersama dengan pendekatan yang tepat/adaptif, dari perspektif petani on-farm maupun industry pengelolahan skala besar, sehingga Tangguh, berkelanjutan dan adaptif terhadap perubahan iklim di semua segmen ekonomi industry kakao,” pungkasnya.***

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini