Buka ICExpo 2026, Wamentan Alim Pacu Inovasi Industri Perkebunan

0
Chairman of Indonesian Plantation Association (IPA), Delima Hasri Azahari menyerahkan cendera mata kepada Wakil Menteri Pertanian Alim Setiawan Slamet
Chairman of Indonesian Plantation Association (IPA), Delima Hasri Azahari menyerahkan cendera mata kepada Wakil Menteri Pertanian Alim Setiawan Slamet usai membuka International Conference and Expo on Palm Oil and Others (ICExpo) 2026 di Auditorium Gedung F, Kantor Pusat Kementerian Pertanian, Jakarta, Jakarta, Rabu (4/11).

Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Alim Setiawan Slamet berharap International Conference and Expo on Palm Oil and Others (ICExpo) 2026 mampu melahirkan terobosan teknologi dan inovasi, khususnya untuk pengembangan komoditas sawit, kakao, dan kelapa.

Hal tersebut disampaikan Wamentan Alim mewakili Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman membuka International Conference and Expo on Palm Oil and Others (ICExpo) 2026 di Auditorium Gedung F, Kantor Pusat Kementerian Pertanian, Jakarta, Jakarta, Rabu (4/11).

Menurutnya, konsistensi penyelenggaraan ICExpo hingga tahun kesembilan menunjukkan komitmen dalam mempertemukan pemerintah, dunia usaha, dan berbagai pemangku kepentingan untuk memajukan sektor perkebunan Indonesia.

“Forum ini sangat strategis karena di sinilah pemerintah, dunia usaha, dan juga seluruh pemangku kepentingan ini kita bisa bertemu untuk sama-sama kita memajukan sawit, kakao, dan kelapa Indonesia agar lebih berdaya saing, lebih berkelanjutan, lebih juga menjamin kesejahteraan petani kita, dan juga berorientasi pada masa depan,” ujar Wamentan Alim.

Dia mengatakan, industri perkebunan nasional masih menghadapi sejumlah tantangan, terutama produktivitas yang cenderung stagnan, bahkan menurun. Kondisi tersebut perlu diatasi melalui pembenahan tata kelola perkebunan secara menyeluruh, mulai dari sektor hulu hingga hilir.

Wamentan Alim mencontohkan komoditas kelapa sawit yang memiliki kontribusi besar terhadap ekspor perkebunan nasional. Dengan nilai ekspor lebih dari Rp426 triliun per tahun dan luas tutupan mencapai 16,83 juta hektare, sawit menjadi salah satu komoditas strategis yang menopang perekonomian sekaligus kehidupan jutaan keluarga pekebun.

Namun, produktivitas sawit nasional justru menunjukkan penurunan. Pada 2019, produktivitas sawit hampir mencapai 4 ton per hektare, sedangkan pada 2025 turun menjadi 3,6 ton per hektare. Di tingkat perkebunan rakyat, produktivitasnya bahkan hanya sekitar 2–3 ton CPO per hektare, sementara potensinya dapat mencapai 4–6 ton.

Menurut Wamentan Alim, salah satu penyebabnya adalah penggunaan agro-input yang belum optimal, tanaman yang sudah berusia tua, serta lebih dari 60 persen pekebun rakyat masih menggunakan benih yang tidak bersertifikat.

Karena itu, penguatan riset dan inovasi menjadi bagian penting dalam meningkatkan produktivitas sekaligus daya saing industri perkebunan. Indonesia membutuhkan varietas unggul berproduktivitas tinggi, teknologi budidaya presisi, mekanisasi, hingga pemanfaatan kecerdasan artifisial.

Selain itu, Wamentan Alim juga menekankan pentingnya pengembangan produk hilir bernilai tambah tinggi. Menurutnya, komoditas perkebunan memiliki potensi pengolahan yang besar sehingga tidak hanya dipasarkan dalam bentuk bahan mentah.

Dia mencontohkan kelapa yang dapat diolah menjadi berbagai produk, mulai dari minyak kelapa, virgin coconut oil(VCO), santan, air kelapa, serat kelapa (coco fiber), coco peat, arang aktif, hingga pakan.

“Teknologi dan inovasi harus mengubah keunggulan itu semuanya untuk bisa menjadi keunggulan yang kompetitif,” katanya.

Dia menambahkan, pengembangan industri perkebunan membutuhkan keterlibatan seluruh pemangku kepentingan. Pemerintah berperan menyiapkan regulasi, insentif, dan infrastruktur, sementara industri diharapkan berinvestasi dalam pengolahan serta menyerap hasil produksi pekebun.

Di sisi lain, pekebun dan koperasi perlu terus didorong untuk menjaga mutu dan kontinuitas pasokan. Dukungan lembaga keuangan melalui pembiayaan, serta kontribusi akademisi dan peneliti dalam menghasilkan inovasi juga diperlukan untuk memperkuat ekosistem perkebunan.

Sejalan dengan hal tersebut, Chairman of Indonesian Plantation Association (IPA), Delima Hasri Azahari, dalam sambutan pembukaan ICExpo 2026 menekankan pentingnya kolaborasi untuk mewujudkan keberlanjutan dan kesejahteraan pekebun sawit, kakao, dan kelapa.

Menurut Delima, keberlanjutan lingkungan dan kesejahteraan ekonomi pekebun harus berjalan beriringan. Karena itu, ICExpo dirancang tidak hanya sebagai forum pertukaran gagasan, tetapi juga sebagai wadah untuk mendorong aksi nyata melalui percepatan hilirisasi, riset, inovasi, serta peningkatan produktivitas pekebun.

ICExpo 2026 juga menghadirkan sejumlah agenda pendukung, di antaranya klinik geolokasi, Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO), dan ketertelusuran produk (traceability) untuk membantu pekebun memenuhi standar internasional dan memperluas akses pasar.

Melalui penyelenggaraan ICExpo 2026, Alim berharap lahir kolaborasi yang mampu menghasilkan solusi konkret bagi pengembangan industri perkebunan nasional.

“Karena itu saya berharap ICExpo 2026 ini bisa menjadi ruang kolaborasi yang produktif, ruang yang melahirkan gagasan, teknologi, inovasi yang bisa menjawab kebutuhan nyata pekebun sawit, kakao, dan juga kelapa,” pungkasnya.

Kegiatan yang didukung oleh Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) ini berlangsung pada 4–5 November 2026 untuk agenda Conference and Expo di Kementn, dan dilanjutkan dengan Youth Bootcamp pada 6–7 November 2026 di Kampus Unhan, IPSC Sentul.

Reporter: Supianto

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini