
Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), Eddy Martono menilai program biodiesel memiliki peran besar dalam menjaga stabilitas harga sawit dan menopang pertumbuhan ekonomi di wilayah sentra produksi.
Menurut Eddy, tanpa kebijakan mandatori biodiesel yang kini telah mencapai B40, ekonomi daerah penghasil sawit tidak akan berkembang sebaik saat ini.
“Artinya di sini biodiesel kita harus bicara jujur bahwa tanpa biodiesel pertumbuhan ekonomi utamanya di daerah-daerah sentral sawit tidak akan sebagus seperti sekarang,” ujar Eddy dalam sebuah diskusi di Jakarta, Kamis (6/11).
Eddy menjelaskan, sebelum kebijakan mandatorI biodiesel diterapkan, harga tandan buah segar (TBS) sempat jatuh di bawah biaya produksi sehingga banyak petani merugi.Â
Bahkan, lanjut Eddy, sebagian petani terpaksa membiarkan buah sawit membusuk di pohon karena harga yang tidak menutup ongkos panen. “Tapi dengan adanya biodiesel ini sekarang luar biasa bisa bertahan dengan baik,” ujar dia.
Kendati demikian, Eddy mengingatkan pentingnya menjaga keseimbangan kebijakan agar program biodiesel tetap berkelanjutan dan tidak menimbulkan dampak negatif di sisi lain.Â
Kebijakan peningkatan mandatori biodiesel yang terlalu agresif, kata dia, justru bisa berdampak negatif bagi petani, terutama jika diikuti dengan kenaikan pungutan ekspor.
“Kalau nanti terlalu agresif juga akan merugikan, termasuk merugikan petani juga. Kalau apabila nanti ada kenaikan-kenaikan pungutan ekspor dan lain-lain,” imbuh Eddy.




























