Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman mengajak petani untuk melakukan akselerasi peningkatan produksi pangan.
Mentan Amran mengatakan, pertanian menjadi salah satu sektor penentu ketahanan pangan negara. Meski demikian, saat ini banyak negara yang tengah menghadapi krisis pangan, ditambah dengan tantangan iklim ekstrem El Nino.
“Kondisi pangan dunia sedang tidak baik-baik saja, ada 10 negara kelaparan saat ini,” kata Mentan Amran pada acara Pembangunan Perkebunan Berkelanjutan di Stadion Andi Ninnong Sengkang Wajo, Sulawesi Selatan, Sabtu (13/1).
Oleh karena itu, Mentan Amran mengatakan, mimpi besarnya ke depan bukan hanya mewujudkan swasembada pangan seperti pada 2017, 2018, dan 2020, tetapi juga sedang merancang agar Indonesia menjadi negara super power.
“Kita mampu tiga kali swasembada, artinya kita sanggup swasemada kembali, dan kita rancang menjadi negara super power lewat pangan,” kata Mentan Amran, yang juga Ketua Umum IKA Unhas Periode 2022 – 2026.
Sebagai upaya untuk mendongkrak produksi nasional, Kementan telah membenahi sejumlah persoalan pupuk yang selalu dihadapi petani, di antaranya tambahan anggaran subusidi pupuk dan juga kemudahan mengakses pupuk.
Diketahui pada acara Pembinaan Petani Se-Provinsi Jawa Tengah, Banyumas, Selasa (2/1), Presiden Joko Widodo (Jokowi) telah memerintahkan penambahan alokasi pupuk subsidi sebesar Rp 14 triliun pada tahun 2024.
“Untuk masalah pupuk alhamdulillah baru dua bulan saya jadi menteri sudah selesai. Saya sampaikan terima kasih kepada Bapak Presiden yang sudah memberi bantuan Rp 14 triliun. Insyaallah ke depan pupuk tidak ada masalah,” ujar Mentan Amran.
Di samping itu, Kementan juga telah merevisi Peraturan Menteri Pertanian No 10 Tahun 2022. Menurutnya, peraturan tersebut telah menghambat akses petani dalam mendapatkan pupuk bersubsidi.
“Saudara kita yang di hutan desa (LMDH) itu juga mendapatkan jatah pupuk yang sama setelah sebelumnya tidak mendapatkan jatah pupuk subsidi dan benih. Kami bahkan sudah mencabut permentan yang diterbitkan tahun 2020 karena dinilai menghambat pengambilan pupuk oleh petani-petani kita,” katanya.
Untuk memudahkan akses petani dalam mendapatkan pupuk bersubsidi, Mentan Amran menyebutkan, saat ini kartu tani tidak lagi menjadi syarat mutlak.
“Cara mengambilnya kami permudah, uang tidak punya kartu tani, cukup pakai Kartu Tanda Penduduk (KTP) itu cukup. Kalau kita permudah, pasti produksi naik,” kata AAS, sapaan Mentan Amran.






























