Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman menegaskan, pemerintah akan terus menjalankan berbagai kebijakan yang berpihak pada petani.
Kebijakan itu mencakup penyesuaian harga gabah, kemudahan akses pupuk bersubsidi, bantuan alat dan mesin pertanian, hingga program pendukung lainnya di sektor pangan.
“Dengan upaya yang konsisten ini, kita optimis mampu mencapai swasembada sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani. Momentum HUT ke-80 RI harus menjadi lompatan besar menuju kemandirian pangan,” tegasnya.
Menurut Mentan Amran, langkah tersebut menunjukkan komitmen Presiden Prabowo Subianto dalam meningkatkan kesejahteraan petani. “Kebijakan ini menjadi bukti nyata keberpihakan Presiden kepada petani Indonesia,” ujarnya.
Pernyataan itu turut dirasakan langsung oleh petani di lapangan. Jarwanto, petani asal Desa Manggis, Boyolali, mengaku merasakan perubahan nyata. Pada awal 2025, ia masih menghadapi harga gabah Rp 6.000 per kg, di bawah Harga Pembelian Pemerintah (HPP). Kondisi ini mengingatkannya pada masa-masa sulit ketika harga jatuh hingga Rp 4.500 per kg saat panen raya.
Namun, situasi berubah setelah Presiden Prabowo menerbitkan Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 6 Tahun 2025 tentang pengadaan dan pengelolaan gabah/beras dalam negeri. Kebijakan ini menjaga harga gabah tetap stabil sekaligus menjamin ketersediaan beras di pasar.
“Sekarang harga gabah basah sudah bisa Rp7.500/kg. Itu jauh lebih menguntungkan petani. Saya merasakan benar perhatian Pak Presiden dan Pak Menteri Amran yang pro petani,” ungkap Jarwanto, Minggu (17/8).
Stabilitas juga dirasakan pada komoditas jagung. Jika sebelumnya harga standar hanya Rp 5.500 per kg, kini bisa mencapai Rp5.800/kg. Menurut Jarwanto, kenaikan ini membuat petani lebih bersemangat dan optimis.
Selain harga, pemerintah juga memperkuat dukungan melalui bantuan alat dan mesin pertanian (alsintan) serta pupuk bersubsidi.
“Kalau dulu satu hektare hanya bisa panen 5–6 ton, sekarang bisa tujuh ton karena pompa air, kultivator, dan saluran irigasi semakin baik,” jelasnya.
Kebijakan pro petani ini juga dirasakan jauh di ujung timur Indonesia. Margo, petani di Kabupaten Merauke, bersama kelompoknya mengelola 183 hektare lahan yang ditanami padi dan jagung. Mereka mendapat bantuan traktor besar, traktor kecil, hand tractor, hingga pompa air.
“Alat itu memudahkan pengolahan lahan rawa. Kami juga melakukan penangkaran benih Inpari 32 agar kebutuhan anggota kelompok tercukupi. Rata-rata hasil panen kami mencapai 4–5 ton per hektare,” ujar Margo.
Meski curah hujan tinggi masih menjadi tantangan karena membuat padi rebah, Margo tetap optimistis. Baginya, perhatian pemerintah sudah sangat terasa, terutama dalam hal pembiayaan dan percepatan tanam.
“Ke depan, kami berharap dukungan untuk jalan tani dan irigasi diperkuat lagi. Itu yang paling dibutuhkan agar hasil bisa lebih maksimal,” tambahnya.





























