Target Bauran EBT pada 2025 Dinilai Sulit Tercapai

0
Ilustrasi dispenser biodiesel sebagai pendukung program B50. Dok: Ilustrasi

Ahli Bio Energi, Aris Toharisman menilai target Indonesia 23 persen bauran energi baru terbarukan (EBT) pada tahun 2025 sulit tercapai.

Menurutnya, salah satu alasan utama adalah ketergantungan Indonesia yang masih besar pada minyak bumi. Konsumsi dan impor minyak bumi yang tinggi menunjukkan bahwa transisi menuju energi terbarukan masih menghadapi berbagai tantangan.

“Sehingga target kita di tahun 2025 untuk bauran EBT sebesar 23 persen, kelihatannya tidak akan tercapai karena saat ini baru berkisar pada angka 13-14 persen,” kata Aris dalam FGD ‘Menjadikan Kelapa Sawit Sebagai Lumbung Energi Terbarukan’ baru-baru ini.

Mengingat ketergantungan yang masih besar tersebut, Aris menekankan urgensi mempercepat transisi ke bahan bakar alternatif. Langkah ini tidak hanya krusial untuk mencapai target bauran energi terbarukan, tetapi juga untuk menurunkan emisi.

“Jadi, kalau kita lihat misalnya penggunaan minyak atau bahan bakar minyak yang angkanya 32 persen, maka kita perlu mendorong untuk penggunaan alternatif-alternatif penggunaan minyak,” kata Aris. “Misalnya untuk SAF, jadi bahan bakar pesawat terbang, kemudian bioetanol dan juga biodiesel.”

Aris menjelaskan, ada tiga teknologi utama yang biasanya digunakan untuk menghasilkan bioenergi; pertama adalah first generation, kedua second generation, dan ketiga third generation.

“Secara umum saat ini memang kita lebih banyak berada pada first generation, yaitu teknologi ini yang sudah diterapkan secara luas dalam menghasilkan bioenergi. Ini termasuk yang ada di kita dan beberapa negara yang sudah menggunakan teknologi tersebut,” jelas Aris.

Dalam jangka pendek, kata Aris, Indonesia masih dapat menggunakan beberapa sumber yang dapat digunakan untuk produksi bioenergi, seperti bahan berbasis tebu, singkong, dan jagung.

Walaupun demikian, jika berbicara tentang energi atau substitusi minyak, serta melihat dari sisi biayanya, produk bioenergi dari first generation di Indonesia masih relatif lebih mahal dibandingkan dengan harga minyak.

“Kalau kita lihat misalnya yang dari gula, yang dari jagung, atau pun dari molasses, itu kalau secara rata-rata di Indonesia masih di atas energi alternatif sebagai pengganti minyak,” ujar dia.

Apalagi untuk yang second generation tentu biaya produksinya jauh lebih tinggi lagi dari yang menggunakan first generation.

Diketahui bahwa second generation, yang menggunakan bahan lignocellulose, pengembangannya masih sangat terbatas. Saat ini, hanya ada dua negara yang sudah mengembangkan, yaitu Amerika Serikat dan Brasil.

“Memang masih sangat terbatas, baru sekitar dua negara saja yang pengembangannya, yaitu di Amerika dan yang satu lagi di Brasil dengan menggunakan ampas tebuh,” kata dia.

Dalam konteks ini, pemerintah mulai mendorong penggunaan bioenergi berbasis tebu dan meluncurkan Peraturan Presiden (Perpres) No 40 Tahun 2023 sebagai langkah strategis dalam pengembangan tersebut.

“Itu akan ada perluasan tambahan area tebu,” pungkas dia.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini