Ferrero Perkuat Ketahanan Rantai Pasok Lewat Pengadaan Berkelanjutan

0

Di tengah meningkatnya tuntutan terhadap transparansi dan keberlanjutan industri pangan global, Ferrero Group menegaskan bahwa masa depan bisnis tidak lagi hanya ditentukan oleh kualitas produk, tetapi juga oleh bagaimana bahan bakunya diperoleh. Melalui Sustainability Report 2025 yang dirilis bertepatan dengan peringatan 80 tahun perusahaan, produsen Nutella, Kinder, Ferrero Rocher, dan Tic Tac itu menempatkan pendekatan **Ferrero Farming Values** sebagai fondasi utama dalam membangun rantai pasok yang tangguh sekaligus berkelanjutan.

Laporan keberlanjutan ke-17 Ferrero tersebut menunjukkan bahwa praktik keberlanjutan kini tidak lagi menjadi program pendukung, melainkan telah terintegrasi ke seluruh proses bisnis perusahaan. Mulai dari kawasan pertanian tempat bahan baku diproduksi, fasilitas manufaktur, pengembangan produk, hingga pengelolaan sumber daya manusia, seluruhnya diarahkan untuk mendukung sistem pangan yang lebih bertanggung jawab.

Presiden Ferrero Group, Giovanni Ferrero, mengatakan keberhasilan perusahaan dalam jangka panjang bergantung pada kesehatan ekosistem dan kesejahteraan masyarakat yang menjadi bagian dari rantai pasoknya.

“Keberhasilan jangka panjang Ferrero selalu berkaitan erat dengan kesejahteraan masyarakat dan ekosistem yang menjadi fondasi rantai pasok kami. Konsumen kini semakin mencari merek yang dapat mereka percaya, dibangun atas kualitas produk, praktik pengadaan bahan baku yang baik, proses manufaktur yang cermat, serta komitmen nyata terhadap manusia dan bumi,” ujarnya.

Menurut Giovanni, perusahaan akan terus memperkuat berbagai inisiatif untuk melindungi sumber daya alam, meningkatkan kesejahteraan karyawan dan masyarakat, serta memastikan produk yang dihasilkan tetap dapat dinikmati lintas generasi.

Pusat dari strategi tersebut adalah Ferrero Farming Values, sebuah kerangka kerja yang dikembangkan dari filosofi lama perusahaan, *sacco conosciuto* atau “knowing what is in the bag”. Filosofi ini menekankan pentingnya mengetahui secara menyeluruh asal-usul bahan baku yang digunakan.

Chief Executive Officer Ferrero Group, Lapo Civiletti, menjelaskan bahwa pendekatan tersebut menjadi panduan perusahaan dalam mengelola berbagai komoditas strategis seperti kakao, minyak sawit, hazelnut, kopi, hingga produk susu.

“Ferrero Farming Values menerjemahkan pendekatan keberlanjutan kami menjadi langkah nyata dalam pengadaan bahan baku utama. Kerangka ini memperkuat akuntabilitas pemasok, meningkatkan ketertelusuran dan sertifikasi, mendukung petani, serta mendorong kolaborasi di seluruh sektor, sambil tetap menyesuaikan karakteristik masing-masing rantai pasok,” katanya.

Laporan tersebut menunjukkan kemajuan signifikan dalam aspek ketertelusuran bahan baku. Ferrero mencatat 98 persen pasokan kakao telah dapat ditelusuri hingga peta poligon lahan pertanian, sementara minyak sawit mencapai 98,6 persen hingga tingkat perkebunan. Untuk hazelnut, tingkat ketertelusuran mencapai 97 persen hingga petani, sedangkan biji kopi telah mencapai 100 persen hingga poligon perkebunan.

Kemajuan itu semakin diperkuat melalui analisis terhadap hampir 230 ribu poligon rantai pasok dari pemasok kakao, kopi, dan minyak sawit. Analisis tersebut dilakukan untuk memastikan kepatuhan terhadap ketentuan European Union Deforestation Regulation (EUDR), regulasi baru Uni Eropa yang mengharuskan produk pertanian yang masuk ke pasar Eropa berasal dari kawasan bebas deforestasi.

Di sisi sertifikasi, Ferrero juga mencatat hampir seluruh bahan baku utama telah memenuhi standar keberlanjutan internasional. Sebanyak 99 persen kakao diperoleh melalui skema sertifikasi independen seperti Rainforest Alliance, Cocoa Horizons, dan Fairtrade. Seluruh volume minyak sawit yang digunakan telah bersertifikat RSPO, sementara seluruh biji kopi telah mengantongi sertifikasi Rainforest Alliance melalui model rantai pasok terpisah (*segregated supply chain*).

Komitmen perusahaan tidak berhenti pada aspek lingkungan. Ferrero juga memperluas berbagai program pemberdayaan masyarakat di wilayah penghasil bahan baku. Salah satunya melalui kemitraan bersama Save the Children di Pantai Gading yang ditargetkan menjangkau 235 komunitas petani kakao pada 2030.

Selain memperkuat praktik pengadaan bahan baku, Ferrero juga melanjutkan agenda pengurangan emisi karbon. Pada tahun fiskal 2024/2025 perusahaan meluncurkan **Decarbonization Hub**, sebuah perangkat yang membantu seluruh fasilitas produksi menyusun peta jalan dekarbonisasi sesuai karakteristik operasional masing-masing.

Ferrero juga mulai mengumpulkan data emisi Scope 3 dari pemasok yang mencakup sekitar 60 persen volume bahan baku perusahaan. Program tersebut memperoleh tingkat partisipasi pemasok mencapai 93 persen, sebuah capaian yang dinilai penting mengingat sebagian besar jejak karbon industri pangan berasal dari rantai pasok.

Upaya tersebut mulai menunjukkan hasil. Emisi gas rumah kaca Scope 1 dan Scope 2 Ferrero turun 7,2 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Penurunan itu didukung oleh penggunaan listrik terbarukan di 24 fasilitas produksi yang kini sepenuhnya mengandalkan pasokan listrik hijau dari jaringan listrik setempat.

Perusahaan juga menyelesaikan penilaian pertama Water Corporate Footprint untuk seluruh operasinya dan resmi bergabung dengan Alliance for Water Stewardship sebagai bagian dari penguatan tata kelola penggunaan air.

Pada aspek sirkularitas, Ferrero terus mengurangi penggunaan plastik dalam kemasan produknya. Saat ini, 92,9 persen kemasan telah dirancang agar dapat didaur ulang, digunakan kembali, atau dikomposkan. Dari jumlah tersebut, 86,8 persen telah benar-benar dapat diproses melalui sistem daur ulang yang tersedia.

Redesain kemasan Ferrero Rocher juga menghasilkan pengurangan rasio plastik terhadap produk sebesar 14,7 persen dibandingkan baseline tahun 2019/2020. Sejak implementasi perubahan kemasan pada September 2021, perusahaan mengklaim telah menghindari penggunaan sekitar 16 ribu ton plastik.

Dalam pengembangan produk, Ferrero memperkenalkan Ferrero Nutrition Criteria, sebuah standar berbasis ilmu pengetahuan yang menjadi acuan dalam inovasi produk dan pengembangan portofolio perusahaan. Ferrero juga memperbarui prinsip periklanan dan pemasaran guna memastikan komunikasi kepada konsumen dilakukan secara lebih bertanggung jawab.

Aspek sumber daya manusia turut menjadi perhatian perusahaan. Ferrero menjalankan program pelatihan mengenai inklusi dan budaya saling menghormati di 61 negara dengan lebih dari 500 sesi pelatihan yang telah dilaksanakan.

Survei internal tahunan perusahaan juga menunjukkan tingkat keterlibatan karyawan tetap tinggi. Partisipasi dalam YOU Survey mencapai 86 persen, sementara indeks Engagement dan Enablement masing-masing meningkat tiga dan tujuh poin dibandingkan tahun sebelumnya.

Di bidang sosial, program Joy of Moving yang memasuki usia ke-20 pada 2025 telah menjangkau lebih dari 4,9 juta anak di 35 negara sepanjang tahun lalu. Sejak pertama kali dijalankan pada 2005, program tersebut telah melibatkan lebih dari 60 juta anak di seluruh dunia melalui dukungan lebih dari 130 mitra dari sektor publik maupun swasta.

Melalui laporan keberlanjutan tahun ini, Ferrero menunjukkan bahwa daya saing industri pangan ke depan tidak hanya ditentukan oleh efisiensi produksi atau kekuatan merek, tetapi juga oleh kemampuan membangun rantai pasok yang transparan, bertanggung jawab, dan tahan menghadapi berbagai tantangan global, mulai dari perubahan iklim hingga tuntutan regulasi internasional. Bagi Ferrero, investasi pada petani, lingkungan, dan masyarakat kini menjadi bagian yang tak terpisahkan dari strategi bisnis jangka panjang perusahaan.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini