Perum BULOG melaporkan sebanyak 10 hingga 12 gudangnya di Nusa Tenggara Timur (NTT) mengalami kerusakan akibat gempa. Kerusakan yang terjadi berada pada kategori ringan hingga sedang.
Direktur Utama Perum BULOG Ahmad Rizal Ramdhani mengatakan, sebagian kerusakan terjadi pada dinding dan pintu gudang. Kondisi tersebut antara lain disebabkan tumpukan beras yang bergoyang saat gempa hingga menabrak dinding maupun pintu gudang.
“Kalau rusak ringan itu paling dindingnya. Ada yang pada saat gempa bumi berasnya bergoyang menimpa dinding sengnya, dinding sengnya jebol, atau menimpa pintu gerbang, pintu samping gudang itu juga jebol,” ujar Rizal usai menghadiri puncak BULOG Cup 2026 yang digelar bertepatan dengan peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, Jakarta Barat, Senin (17/8).
Sementara untuk kerusakan sedang, BULOG menemukan sejumlah struktur bangunan gudang yang mulai bergeser dan membutuhkan renovasi. BULOG pun telah menginstruksikan Direktur SDM untuk segera melakukan survei terhadap kondisi bangunan gudang yang terdampak.
Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan gudang yang mengalami kerusakan tidak tetap digunakan sebelum dinyatakan aman. Ahmad mengatakan, kondisi bangunan perlu diantisipasi untuk mencegah kerusakan lebih parah apabila terjadi gempa susulan.
“Takutnya goyang berikutnya nanti malah lebih parah rusaknya, bahkan mengakibatkan korban jiwa dan lain sebagainya,” katanya.
Berdasarkan laporan Pimpinan Wilayah BULOG NTT, wilayah dengan kondisi paling parah berada di Bajawa, disusul Ruteng. BULOG pun mengirimkan tim advance untuk memberikan dukungan langsung ke dua wilayah tersebut.
“Yang paling parah adalah pertama Bajawa. Dari Bajawa, yang kedua adalah Ruteng. Dua kabupaten inilah yang paling perlu perhatian ekstra,” ujar Rizal.
Meski sejumlah gudang terdampak, Rizal menegaskan stok beras BULOG di NTT tetap aman dan mencukupi, yakni sekitar 35.000 hingga 37.000 ton.
Untuk memastikan kebutuhan masyarakat terdampak tetap terpenuhi, Rizal telah menginstruksikan seluruh kantor cabang BULOG di NTT melakukan quick response dengan menyalurkan bantuan berupa 10 hingga 20 ton beras dan 1.000 liter Minyakita untuk masing-masing kabupaten/kota.
Bantuan tersebut nantinya dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan dapur umum di lokasi pengungsian. BULOG juga berkoordinasi dengan BNPB dan BPBD agar bantuan dapat segera disalurkan ke titik-titik pengungsian.
Dalam menghadapi kendala akses akibat longsor maupun kerusakan jalan, BULOG menyiapkan sejumlah alternatif distribusi. Untuk wilayah yang tidak dapat dijangkau kendaraan roda empat, bantuan akan dikirim menggunakan sepeda motor.
“Kalau sepeda motor enggak masuk, kami akan koordinasi dengan BNPB yang memiliki armada angkutan udara maupun angkutan laut,” jelas Rizal
Selain itu, BULOG telah menyiagakan stok beras di bandara dan pelabuhan sebagai langkah antisipasi. Setiap hari, sekitar 10 ton beras disiapkan di bandara maupun pelabuhan, khususnya di Kupang, sehingga dapat segera dikirim apabila terdapat kebutuhan mendesak di wilayah terdampak.
“Jadi sekarang Pimpinan Wilayah NTT BULOG sudah mendorong berasnya setiap hari 10 ton standby di bandara dan di pelabuhan khususnya yang ada di Kupang,” katanya.
Menurut Rizal, pola tersebut merupakan pengalaman dari penanganan bencana di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Penempatan stok di bandara dan pelabuhan dinilai lebih fleksibel karena bantuan dapat langsung diberangkatkan begitu informasi kebutuhan dari wilayah terdampak diterima.
Dengan strategi tersebut, BULOG memastikan distribusi bantuan tetap dapat dilakukan meskipun sejumlah akses menuju lokasi bencana mengalami gangguan.






























