Wamentan Sudaryono Dorong Mahasiswa Tangkap Peluang Ekspor dan Hilirisasi Pertanian

0
Wakil Menteri Pertanian (Wamentan), Sudaryono membuka Musyawarah Kerja Nasional (Mukernas) Perhimpunan Organisasi Profesi Mahasiswa Sosial Ekonomi Pertanian Indonesia (Popmasepi) di Jakarta, Rabu (10/9).

Wakil Menteri Pertanian (Wamentan), Sudaryono menegaskan, sektor pertanian adalah kekuatan utama Indonesia yang memiliki keunggulan komparatif dan kompetitif di tingkat global.

“Pertanian dan industri bukan pilihan yang saling meniadakan. Kalau pertanian kita maju, industrinya juga akan ikut maju. Ini dua sektor yang saling menopang,” ujar Sudaryono usai membuka Musyawarah Kerja Nasional (Mukernas) Perhimpunan Organisasi Profesi Mahasiswa Sosial Ekonomi Pertanian Indonesia (Popmasepi) di Jakarta, Rabu (10/9).

Menurutnya, Indonesia memiliki potensi luar biasa dalam komoditas unggulan seperti kelapa sawit, kakao, kopi, beras, jagung, dan gula. Negara ini bahkan tercatat sebagai eksportir minyak sawit terbesar di dunia.

“Kaitannya sama kompetitif advantage kita, kita punya kebun sawit terbaik terbesar di dunia, kita eksportir minyak sawit terbesar di dunia, kita punya kakao terbaik di dunia, kita punya kopi terbaik di dunia, kita harus swa sembada, karbohidrat kita harus swasembada dari mulai beras, jagung, kemudian gula,” ungkapnya.

Mas Dar, sapaan Wamentan Sudaryono mendorong agar Indonesia tidak hanya mengejar swasembada pangan, tapi juga bercita-cita menjadi lumbung pangan dunia. Untuk itu, dibutuhkan percepatan hilirisasi di sektor pertanian, baik yang berbasis agro maupun mineral dan energi.

Ia juga secara khusus mengajak para mahasiswa agribisnis untuk mengambil peran aktif dalam pembangunan pertanian melalui inovasi, pengolahan, dan ekspor komoditas.

“Sekarang hubungan dagang antarnegara banyak terganggu karena perang tarif. Tapi kita punya peluang besar lewat perjanjian EU–CIPA, free trade agreement antara Indonesia dan Uni Eropa. Artinya, produk kita bisa masuk ke pasar Eropa tanpa tarif,” jelasnya.

Hal ini, kata Sudaryono, membuat produk Indonesia jauh lebih kompetitif dibandingkan negara lain seperti Vietnam atau Thailand.

Ia juga menyoroti bahwa banyak anak muda, termasuk mahasiswa, kini mulai aktif dalam ekspor-impor komoditas seperti sapi hingga gula aren. Sebagai pembina para petani milenial, ia melihat langsung bagaimana anak muda bisa membawa perubahan nyata.

Kemudahan komunikasi dan teknologi menjadi peluang besar untuk memperluas jejaring dagang global.

“Dulu mau telepon luar negeri harus pakai 001 atau 007, mahal. Sekarang tinggal pakai media sosial dan internet. Jadi nggak ada alasan untuk tidak terhubung dengan pasar global,” tegasnya.

Sudaryono berharap generasi muda tidak hanya bergerak di budidaya, tapi juga aktif dalam rantai nilai pertanian seperti pengolahan dan pemasaran. Ia mendorong mahasiswa jurusan agribisnis untuk tidak rendah diri, tetapi tampil percaya diri membawa pertanian Indonesia ke level dunia.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini