Harga Padi di Bulukumba Masih di Bawah HPP

0
Panen padi menggunakan alat mesin pertanian combine harvester. Dok: Kementan

Harga jual Gabah Kering Panen (GKP) di Kecamatan Rilau Ale, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan masih di bawah Harga Pembelian Pemerintah (HPP) Rp 6.500 per kilogram, yang resmi berlaku sejak 15 Januari 2025.

Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) di Kecamatan Rilau Ale, Lasbaety mengatakan, harga GKP di Kecamatan Rilau Ale saat ini berada dikisaran Rp 5.400 per kilogram.

“Harga jual GKP saat ini di Kecamatan Rilau Ale saat ini rendah, yaitu Rp 5.400 per kg,” ujar Lasbaety dalam keterangannya, Jakarta, Selasa (21/1).

Sementara itu harga Gabah Kering Giling (GKG) berada di angka Rp 7.300 per kilogram. Meski demikian, harga tersebut sedikit lebih baik dibandingkan dengan kondisi sebelumnya.

“Terutama saat terjadi cuaca buruk atau pada musim panen raya, di mana harga bisa turun hingga Rp 4.800 per kilogram,” tutur dia.

Menurut Lasbaety, para petani di Rilau Ale umumnya menjual hasil panen mereka langsung kepada pengepul yang datang membeli gabah di sawah. Sayangnya, harga yang diterima petani sering kali berada di bawah HPP yang telah ditetapkan pemerintah.

Oleh karena itulah, para petani di Kecamatan Rilau Ale berharap Bulog dapat menyerap gabah mereka supaya sesuai dengan harga yang ditetapkan pemerintah yakni Rp 6.500  per kg.

Selain masalah harga gabah yang rendah, papar Lasbaety, petani di Rilau Ale juga menghadapi masalah lain yang tidak kalah penting, yakni kondisi saluran irigasi yang rusak.

Banyak saluran irigasi, kata dia, yang tidak berfungsi dengan baik, menyebabkan distribusi air tidak merata di seluruh lahan pertanian. Akibatnya, beberapa petani mengalami kesulitan dalam memperoleh pasokan air yang cukup untuk mengelola sawah mereka.

Lasbaety mencatat, luas lahan sawah di wilayah Rilau Ale tercatat mencapai 320 hektare, dengan produktivitas per hektar sekitar 6,5 ton. 

Dengan kondisi irigasi yang buruk dapat berpotensi mengurangi hasil panen dan menghambat keberlanjutan produksi pertanian di daerah ini.

“Kami berharap pemerintah dapat segera memperhatikan masalah ini dan melakukan perbaikan terhadap sistem irigasi, sehingga para petani dapat memperoleh hasil yang optimal dan harga yang lebih stabil di masa yang akan datang,” pinta dia.

Terpisah, Direktur Utama (Dirut) Bulog, Wahyu Suparyono mengatakan, mulai tanggal 15 Januari 2025 Perum Bulog melakukan pembelian gabah beras petani sesuai dengan kualitas dan harga yang telah ditetapkan oleh pemerintah.

Standar kualitas dan harga gabah beras ini mengacu pada keputusan Kepala Badan Pangan Nasional (Kepbadan) Nomor 2 tahun 2025 Tentang Perubahan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) dan Rafaksi Harga Gabah dan Beras.

Dia menambahkan, selain ketetapan mengenai HPP gabah dan beras, Bulog juga diberikan keleluasaan menyerap gabah di luar kualitas yang telah ditetapkan HPP melalui kebijakan rafaksi harga gabah.

Rafaksi gabah juga diatur di dalam Kepbadan Nomor 2 tahun 2025. Rafaksi merupakan pengurangan terhadap harga gabah yang dijual ke Perum Bulog karena mutunya lebih rendah dari standar yang ditetapkan.

“Jadi ini pada posisi Rp 6.500 per kg itu pada maksimal kadar air 25 persen dan kadar hampa maksimal 10 persen kita serap. Namun pada saat kadar air di atas 26-30 persen dan kadar hampa 11-15 persen, itu kita tetap beli/serap dengan harga Rp 5.750 per kg sesuai ketentuan rafaksi harga,” kata Wahyu.

Wahyu juga telah menginstruksikan kepada Pimpinan Wilayah (Pinwil) Bulog untuk berpedoman pada Kepbadan Nomor 2 tahun 2025.

“Saya sudah minta ke seluruh Pimwil untuk berpedoman pada ketentuan ini,” kata Wahyu, yang sebelumnya menjabat sebagai Direktur Umum Asuransi Sosial Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (Asabri).

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini