Mentan Amran Akui Harga Beras Turun

0
Tumpukan beras medium di warung.
Foto ilustrasi beras medium dan premium di ritel modern aman dimakan (Foto: Humas Bapanas)

Harga beras yang biasanya melambung tinggi pada bulan Januari, justru mengalami penurunan tahun ini. Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman mengungkapkan, penurunan harga tersebut terjadi berkat peningkatan produksi padi.

Berdasarkan rilis Badan Pusat Statistik (BPS), produksi padi bulan Januari hingga Maret 2025 diperkirakan mengalami kenaikan rata-rata 50 persen dibandingkan periode yang sama di tahun sebelumnya.

“Januari tahun lalu harga tertinggi sepanjang Indonesia merdeka, sekarang baik, bahkan harga di bawah HPP (Harga Pembelian Pemerintah-red),” kata Mentan Amran saat menjadi pembicara kunci (keynote speaker) di Hotel Westin Jakarta, Kamis (30/1).

Mentan Amran menjelaskan, pada Februari tahun lalu, harga beras di tingkat konsumen mencapai Rp 15.000 per kg. Bahkan karena terjadi kelangkaan, sempat terjadi antrean sehingga di beberapa toko pembelian beras sempat dibatasi maksimal 15 kg per orang.

Kondisi ini diperparah dengan adanya 22 negara yang menghentikan ekspor pangannya ke Indonesia. “Bisa dibayangkan kalau krisis pangan terjadi, itu akan terjadi krisis politik, konflik sosial, negara dalam keadaan bahaya,” ujar dia.

Oleh karena itu, pemerintah segera mengambil langkah cepat, salah satunya melalui program pompanisasi untuk mengatasi ancaman kekeringan akibat fenomena El Nino yang menyebabkan penurunan produksi padi tahun lalu.

“Kegiatan memompa air dari sungai dan sumber air lainnya dilakukan untuk mengairi 500 ribu hektare lahan pertanian di Pulau Jawa dan 500 ribu hektare lainnya di luar pulau Jawa,” tutur Mentan Amran.

Sebagai bagian dari upaya tersebut, Kementan mengalihkan anggaran sebesar Rp 1,7 triliun untuk mendanai program pompanisasi, pengadaan alat dan mesin pertanian, serta bibit unggul bagi petani. Hasilnya, produksi padi meningkat signifikan.

“Hasilnya terjadi peningkatan produksi yang cukup signifikan. Petani yang sebelumnya hanya bisa menanam padi sekali dalam setahun, meningkat menjadi tiga kali,” kata Mentan Amran.

BPS mencatat terjadi kenaikan produksi padi sebesar 1,49 juta ton pada periode Agustus-Desember 2024. 

“Hasil tadi refocusing anggaran yang untuk perjalanan dinas, rehab kantor, saya katakan kantor ini tidak akan runtuh sampai 5 tahun, kita tunda saja. Ini menghasilkan Rp 17 triliun. Rp 1,7 triliun menghasilkan Rp 17 triliun,” kata Mentan Amran.

Di sisi lain, dia menyoroti penurunan harga akibat melimpahnya produksi perlu mendapat solusi agar tidak merugikan petani. Berdasarkan data yang ada sekitar 70 persen harga gabah berada di bawah HPP yang telah ditetapkan pemerintah sebesar Rp 6.500 per kg. 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini