Pasokan beras nasional menunjukkan tren positif. Data proyeksi terbaru mengungkapkan, selama enam bulan pertama tahun ini, Indonesia mengalami surplus beras mencapai 3,3 juta ton.
“Badan Pangan Nasional selalu updating neraca pangan pokok strategis kita. Untuk produksi versus konsumsi beras, sesuai forecast Januari hingga Juni nanti, kita surplus 3,33 juta ton,” kata Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas), Arief Prasetyo Adi di Jakarta pada Senin (5/5).
Arief menjelaskan, angka surplus tersebut mengalami kenaikan dibandingkan tahun sebelumnya. “Surplus kita meningkat 128,08 persen atau bertambah 1,87 juta ton dari surplus 2024 yang 1,46 juta ton,” kata dia.
Arief mengungkapkan bahwa estimasi produksi beras tersebut mengacu pada data Kerangka Sampel Area (KSA) dari Badan Pusat Statistik (BPS).
Dalam rilis terbarunya, BPS mencatat potensi produksi beras nasional pada Januari–Juni 2025 mencapai 18,76 juta ton, sementara konsumsi diperkirakan sebesar 15,43 juta ton. Dengan demikian, terdapat surplus 3,33 juta ton dalam periode tersebut.
Di 2024, surplus produksi versus konsumsi beras selama Januari—Juni tercapai hanya 1,46 juta ton yang berasal dari total produksi beras 16,88 juta ton dengan total konsumsi beras 15,42 juta ton. Adanya lonjakan produksi beras ini pun telah disikapi pemerintah dengan menggencarkan penyerapan langsung dari petani.
“Kita sudah memproyeksikan produksi beras akan meningkat daripada tahun lalu. Jadi, pemerintah putuskan menetapkan harga gabah kering panen melalui surat keputusan Kepala Bapanas di Rp 6.500 per kilogram, any quality, sehingga Bulog bisa membantu para petani kita yang memang sedang giat berproduksi,” jelas Arief lagi.
Arief menambahkan, masa-masa saat ini adalah waktunya penyerapan produksi dalam negeri untuk stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP). Biasanya, mulai dari pertengahan tahun hingga akhir tahun, produksi akan kurang dari 2,5–2,6 juta ton.
“Nah, pada saat seperti itu, waktunya kita melepas stok,” kata dia.
Sebagaimana diketahui, total beras dalam kelolaan Bulog per 4 Mei telah menyentuh 3,5 juta ton. Ini berasal dari transfer stok akhir 2024 yang berada di kisaran 2 juta ton ditambah hasil penyerapan setara beras sekitar 1,9 juta ton. Kemudian dipergunakan untuk penyaluran CBP dalam program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) dan bantuan tanggap darurat.
“Challenge hari ini adalah bagaimana caranya mengatur ketersediaan. Lalu turnover stok Bulog nanti disalurkan bagaimana. Kalau dulu tantangannya mencari stok karena kita kekeringan. Hari ini kita ada surplus dan itu bagaimana kita mengelola. Jadi, ini merupakan babak baru bagi CBP di Bulog,” sebut Arief.
“Kita punya banyak program intervensi pemerintah. Mulai dari SPHP, bantuan pangan pemerintah, kemudian intervensi untuk masyarakat berpenghasilan rendah. Itu biasanya yang untuk kita melepas stok, tapi tentu stok Cadangan Pangan Pemerintah hari ini mutlak ada dan cukup kuat,” kata dia.
A turut menyinggung pergerakan inflasi. Menurutnya, tingkat inflasi masih cukup terkendali, terutama komponen volatile food atau inflasi pangan sehabis peak season Ramadan dan Idulfitri tahun ini.
BPS mencatat inflasi pangan secara tahunan di Maret dan April 2025 masing-masing 0,37 persen dan 0,64 persen. Ini masih lebih rendah dibandingkan Maret dan April tahun lalu yang juga merupakan periode Ramadan dan Idulfitri. Kala itu inflasi pangan secara tahunan berada di 10,33 persen pada Maret dan 9,63 persen pada April.
Sementara deflasi beras terjadi di April 2025 ini, yakni 0,05 persen saja. Ini karena semakin tingginya produksi beras di tahun ini. Kendati begitu bisa dikatakan masih lebih baik dibandingkan deflasi beras di masa puncak panen raya tahun sebelumnya. Di April 2024, deflasi beras menyentuh hingga 2,72 persen setelah bulan sebelumnya mencatatkan inflasi beras 2,06 persen.






























