Pembaca sekalian ….
Akhir-akhir ini, kita dikejutkan dengan informasi yang menyebutkan bahwa ribuan ton gula yang dihasilkan petani tebu di Jawa Timur menumpuk di gudang gudang Pabrik Gula milik BUMN, karena tak laku dilelang alias tak terserap oleh pasar.
Informasi di lapangan menyebutkan bahwa dari Jember hingga Sidoarjo, dari Bondowoso hingga Lumajang, gudang-gudang pabrik gula di Jawa Timur akhir-akhir ini nyaris penuh. Ribuan hingga puluhan ribu ton gula hasil panen petani tebu tak kunjung terserap pasar lantaran kalah bersaing dengan gula rafinasi murah yang membanjiri pasar konsumsi.
Gula milik petani tebu dikabarkan menumpuk di gudang milik pabrik-pabrik gula di Jawa Timur. Hal ini sebagai imbas dari merembesnya gula kristal rafinasi (GKR) ke pasaran gula kristal putih (GKP) yang mengakibatkan gula milik petani tidak laku terjual.
Informasi yang dihimpun di lapangan mengungkapkan bahwa penumpukan gula itu salah satunya terjadi di gudang gula pabrik gula (PG) Jatiroto, Kabupaten Lumajang. PG Jatiroto memiliki 12 unit gudang gula dengan kapasitas total sebanyak 59 ribu ton. Stok gula di gudang saat ini sebanyak 37 ribu ton, 8 ribu ton di antaranya milik petani.
Pembaca majalah ini, yang kami hormati
Penumpukan gula yang akhirnya dicarikan jalan keluarnya oleh pemerintah tersebut, kami coba bedah dalam Liputan Khusus majalah ini edisi September 2025. Badan Pangan Nasional (Bapanas) menggelar rapat bersama para pemangku kepentingan di Surabaya pada 22 Agustus 2025.
Dari rapat itu diputuskan, pemerintah akan menyerap gula petani melalui mekanisme lelang dengan harga minimal Rp14.500 per kilogram. Penyerapan dilakukan oleh ID Food, holding BUMN pangan, dengan dana yang disiapkan Danantara sebesar Rp1,5 triliun.
Deputi Bapanas, I Gusti Ketut Astawa, menyebut langkah ini penting agar petani tidak terjebak kerugian. “Petani dan pedagang tidak bisa berjalan sendiri. Pemerintah hadir, pedagang berkontribusi, petani berjuang. Semua harus saling melengkapi,” ujarnya.
Untuk mengisi Rubrik Laporan Utama, kami coba mengangkat tema bagaimana mewujudkan pencapaian target produksi 100 juta ton CPO pada tahun 2045. Pasalnya, obsesi Indonesia untuk mencapai produksi minyak sawit mentah (CPO) sebesar 100 juta ton pada momentum Indonesia Emas 2045 menghadapi tantangan dan kendala yang tak ringan.
Stagnannya produksi CPO dan berkecenderungan turun dalam beberapa tahun terakhir akibat rendahnya produktivitas sawit rakyat – telat diremajakan, dan kian banyaknya kebun sawit yang tak lagi produktif akibat disita oleh Satgas PKH (Satuan Tugas Penertiban Kawasan Hutan) kian memperparah kondisi tersebut.
Data Gapki menunjukkan bahwa produksi CPO dan Palm Kernel Oil (PKO) turun signifikan akibat penertiban lahan. Desember 2024, CPO turun 10,55% menjadi 3.876 ribu ton dibanding November 2024; PKO turun menjadi 361 ribu ton dari 412 ribu ton.
Ekspor Desember 2024 tercatat 2.060 ribu ton, turun 21,88% dibanding November. Nilai ekspor total tahun 2024 US$ 27,76 miliar, turun 8,44% dari 2023. Penurunan ini dikhawatirkan terus berlanjut jika Satgas PKH tetap fokus pada penindakan hukum tanpa menyelesaikan persoalan administrasi.
Pembaca yang kami banggakan,
Di luar kedua rubrik andalan tersebut, seperti biasa, kami juga telah menyiapkan artikel atau berita berita lain yang tak kalah hangat dan atraktifnya.
Akhirnya, dari balik meja redaksi, kami ucapkan selamat menikmati sajian kami. ***































