Deretan meja panjang tersusun rapi di halaman sekolah. Di atasnya tersaji aneka buah segar—matoa, pisang, pepaya, jambu, hingga nanas—semuanya hasil dari kebun kecil yang dirawat para siswa dan guru. Beberapa murid tampak antusias menjelaskan asal-usul tanaman mereka kepada tamu yang datang. “Yang ini dari biji yang kami semai sendiri, Pak,” ujar seorang siswi dengan mata berbinar.
Suasana itu bukan pemandangan langka di sekolah binaan PT Astra Agro Lestari Tbk (Astra Agro). Melalui Program Pendidikan Lingkungan Kebun Sawit (Mulok PLKS), perusahaan menanamkan kesadaran lingkungan sekaligus membangun tradisi belajar yang berpihak pada alam. Di sekolah-sekolah ini, pelajaran tentang bumi bukan sekadar teori, tapi bagian dari keseharian.
“Bagi Astra Agro, keberlanjutan berawal dari kesadaran, dan kesadaran harus ditumbuhkan melalui pendidikan,” ujar Vice President Sustainability Astra Agro, Susila Darma Wati, dalam keterangan pers, Selasa, 29 Oktober 2025. “Dengan Muatan Lokal PLKS, kami ingin mewariskan pengetahuan dan semangat perlindungan ekosistem kepada para siswa. Mereka kelak akan tumbuh menjadi agen perubahan di lingkungannya.”
Program Mulok PLKS telah diterapkan di 194 sekolah binaan, melibatkan 2.359 guru dan 49.251 siswa di berbagai daerah operasional Astra Agro. Melalui kurikulum muatan lokal, para siswa diajak memahami ekosistem kebun sawit, mengenali area bernilai konservasi tinggi (NKT), tumbuhan endemik, serta satwa dilindungi. Mereka juga belajar mengelola sampah dengan prinsip 5R—reduce, reuse, recycle, replace, dan replant—serta melakukan praktik pencegahan kebakaran dan penanaman pohon di lingkungan sekolah.
Langkah sederhana ini memberi dampak nyata. Pada 2024, sejumlah sekolah binaan Astra Agro berhasil meraih penghargaan Adiwiyata dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK)—program yang menilai sekolah berdasarkan kepedulian terhadap lingkungan hidup. Tercatat lima sekolah mendapat predikat Adiwiyata Mandiri, sepuluh sekolah berstatus Adiwiyata Nasional, tiga sekolah Adiwiyata Provinsi, dan enam sekolah Adiwiyata Kabupaten. Sekolah-sekolah itu kini menjadi rujukan bagi 194 sekolah binaan lainnya di 12 kabupaten.
Salah satu yang menonjol ialah SDS Harapan Sejahtera dan SMP Indah Makmur di Kalimantan Tengah. Kedua sekolah ini meraih predikat Adiwiyata Mandiri, penghargaan tertinggi bagi sekolah berwawasan lingkungan. Kepala Sekolah SDS Harapan Sejahtera, Dwi Ardi Irawan, mengatakan program ini telah mengubah cara guru dan siswa memandang alam. “Kami berkomitmen penuh mengedukasi siswa agar peduli pada lingkungan,” ujarnya. “Setiap tahun kami menanam pohon bersama masyarakat dan sekolah lain. Kegiatan ini membuat kami semakin memahami arti tanggung jawab terhadap alam.”
Pada 2024, tercatat 3.965 pohon berhasil ditanam melalui kolaborasi antara pelajar, karyawan perusahaan, dan masyarakat setempat. Pohon-pohon itu menjadi simbol nyata dari pelibatan banyak pihak dalam menjaga ekosistem. Astra Agro juga aktif menggandeng pemerintah desa, Dinas Kehutanan, dan Dinas Pertanian agar program ini berkelanjutan dan berdampak luas.
Menurut Susila, pendidikan lingkungan bukan sekadar kegiatan tambahan, tapi investasi jangka panjang bagi keberlanjutan. “Anak-anak yang belajar menjaga alam hari ini adalah calon pemimpin masa depan di desa dan kota mereka,” katanya. “Mereka akan menjadi penjaga baru kawasan konservasi yang ada di sekitar perkebunan.”
Sebagai bagian dari Komitmen Keberlanjutan, Astra Agro juga terus melindungi kawasan bernilai konservasi tinggi (NKT) dan hutan dengan stok karbon tinggi (SKT) di sekitar wilayah operasional. Kawasan tersebut mencakup habitat alami dengan nilai ekologis maupun budaya penting, serta wilayah yang berperan besar dalam penyerapan karbon. Perusahaan melakukan pemetaan ekosistem penting, pembatasan aktivitas manusia, dan rehabilitasi hutan sekunder untuk memastikan keberlangsungan fungsi ekologisnya.
Komitmen keberlanjutan itu turut disosialisasikan kepada seluruh rantai pasok, agar setiap mitra bisnis Astra Agro memegang standar tanggung jawab lingkungan yang sama. Sinergi ini, kata Susila, merupakan cara perusahaan memastikan keberlanjutan tidak berhenti di internal, tapi meluas ke seluruh ekosistem industri sawit.
Langkah Astra Agro menanamkan nilai lingkungan melalui pendidikan mendapat apresiasi dari banyak pihak. Selain meningkatkan kualitas pendidikan, program ini dianggap berhasil mengubah perilaku sosial masyarakat di sekitar kebun sawit—dari sekadar pengguna lahan menjadi penjaga keseimbangan alam. Kini, di banyak sekolah binaan, gerakan hijau bukan lagi kegiatan seremonial. Di setiap sudut sekolah tumbuh kebun kecil hasil karya siswa. Tong sampah berwarna-warni menjadi bukti kesadaran baru tentang pemilahan sampah. Dan di papan kelas, terpampang tulisan sederhana tapi kuat: “Alam adalah teman belajar kita.”
Susila menegaskan, perubahan sejati dimulai dari pengetahuan. “Jika anak-anak tumbuh dengan kesadaran ekologis, maka masa depan alam Indonesia akan lebih terjaga,” ujarnya. Dari satu bibit pohon yang ditanam di halaman sekolah, Astra Agro berharap lahir generasi baru penjaga bumi — mereka yang memahami bahwa keberlanjutan bukan sekadar konsep, melainkan cara hidup.






























