Parepare kembali menjadi ruang tumbuh gagasan besar. Di kota yang kerap dikenang sebagai “Cinta Abadi Habibie dan Ainun” itu, para petani sawit berkumpul untuk mengubah limbah perkebunan kelapa sawit, menjadi sumber gizi.
Selama tiga hari, 29–31 Oktober 2025, Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia Perjuangan (Apkasindo Perjuangan) bersama Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) dan komunitas Sahabat Jamur Parepare menggelar program pemberdayaan petani dan UMKM berbasis jamur tiram dari tandan kosong sawit.
Program bertajuk “Jamur Tiram Sawit: Jamur Sawit untuk Generasi Bergizi” itu digagas Sekretaris Jenderal DPP Apkasindo Perjuangan, Sulaiman H. Andi Loeloe. Baginya, ini gerakan yang menjawab dua kebutuhan mendesak bangsa: perbaikan gizi dan peningkatan kesejahteraan petani.
“Jamur tiram sawit bisa menjadi bagian program makan bergizi Presiden Prabowo Subianto. Sekaligus menggerakkan ekonomi keluarga petani,” ujar Sulaiman dalam sambutan pembukaan.
Sawit selama ini dikenal sebagai komoditas raksasa. Luas tanamnya 16,83 juta hektare dengan produksi sekitar 51 juta ton per tahun. Industri ini menyerap lebih dari 16 juta tenaga kerja langsung dan tak langsung. Namun posisi strategis itu kerap tertutup oleh stigma: perusakan hutan, isu kesehatan minyak sawit, dan kampanye negatif internasional.
Melalui jamur tiram sawit, narasi itu mencoba dipatahkan. Media tanam dari limbah sawit mampu menghasilkan jamur tinggi protein, serat, vitamin B3, mineral, antioksidan, tetapi rendah lemak dan kolesterol. “Ada narasi yang belum pernah dimunculkan: sawit dapat ikut memperbaiki gizi bangsa,” ujar Sulaiman.
Kepala Divisi UKMK BPDP Helmi Muhansyah, menyebut inisiatif jamur sawit ini sebagai bukti hilirisasi tidak harus menunggu investasi besar. “Selama ini sawit identik dengan biodiesel dan ekspor. Padahal pangan adalah masa depan hilirisasi sawit. Program ini menjawab kebutuhan pasar domestik dan kesehatan masyarakat,” ucapnya.
Di Parepare, narasi itu menjelma aksi. Peserta pelatihan diajak memproduksi baglog dari tandan kosong sawit yang difermentasi untuk menekan risiko penyakit tanaman seperti ganoderma. Mereka belajar merancang kumbung, panen, hingga pemasaran. Setiap pagi dan sore, peserta memantau pertumbuhan miselium—titik awal jamur menentukan cuan.
“Dulu tangkos hanya menumpuk di kebun, sekarang bisa jadi sumber pangan bergizi dan penghasilan harian,” kata Nuraini, peserta UMKM dari Pinrang, yang berencana membuat bakso dan abon jamur sawit sebagai produk unggulan daerah.
Program ini juga menargetkan penurunan stunting, terutama di Sulawesi Selatan yang masih berada di angka 27,7 persen. Angka itu lebih tinggi dari rata-rata nasional. Situasi tersebut menjadikan pangan tinggi protein yang murah sangat dibutuhkan.
“Kalau jamur sawit bisa masuk kantin sekolah dan program makan gratis, dampaknya akan langsung terasa,” ujar Dedi, petani peserta replanting sawit dari Barru.
Selain pelatihan produksi, peserta juga dilatih menjadi pencerita. Mereka membuat video kampanye gizi, konten media sosial tentang manfaat jamur, hingga edukasi publik berbasis data. “Kita harus melawan narasi negatif dengan data dan inovasi, bukan amarah,” kata Sulaiman.
Helmi menambahkan, jamur tiram sawit selaras dengan arah kebijakan nasional. “Kita ingin hilirisasi merata, bukan hanya di pabrik besar. Kalau petani bisa hadir di rantai nilai, itu kemenangan besar. Dari semakin sehat tubuh anak-anak hingga tambah sejahtera kantong petani.”
Konsep ini disebut Apkasindo Perjuangan sebagai Sawit 24 Jam—sawit yang bermanfaat sepanjang hari: dari energi, ekonomi, hingga pangan. Limbah yang semula dianggap masalah, berubah menjadi peluang masa depan.
Program ini menargetkan terbentuknya 100 kampung jamur sawit di Sulawesi pada 2026. Jaringan itu akan bersinergi dengan koperasi dan UMKM kuliner untuk masuk rantai pasok pengadaan pangan bergizi pemerintah. “Jamur sawit hanya pintu. Di baliknya banyak inovasi pangan sawit lain menunggu,” kata Sulaiman.
Narasi baru sawit itu kini sedang ditulis oleh petani sendiri—di bawah atap sederhana kumbung jamur, dari limbah yang berubah jadi harapan. Jika pelatihan kecil di Parepare ini berkembang di banyak tempat, sawit bukan hanya akan dikenang sebagai penyumbang devisa, tetapi sebagai penyokong tulang punggung generasi emas Indonesia 2045.
Sawit sehat, anak sehat, petani sejahtera. Sebuah cerita sederhana dari Parepare yang pantas diperjuangkan hingga ke meja makan seluruh keluarga Indonesia.






























