
Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman akan membangun klaster perunggasan terpadu yang mencakup pabrik pakan dan produksi produksi anak ayam umur sehari (day old chick/DOC) bagi peternak kecil.
Amran menyebut klaster perunggasan tersebut sebagai solusi permanen untuk mengatasi persoalan fluktuasi harga dan pasokan unggas yang selama ini kerap merugikan peternak rakyat.
“Sekarang kami akan membangun solusi permanen, yaitu membangun pabrik-pabrik pakan dan produksi anak ayam umur sehari,” kata dia saat menjadi pembicara pada Retreat Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Tahun 2026 di Bogor, Jumat (30/1).
Amran menjelaskan, klaster perunggasan terpadu tersebut akan dikembangkan secara nasional dengan total 30 klaster.
Pada tahap awal, pemerintah akan membangun 12 klaster perunggasan yang tersebar di Riau, Sumatera Selatan, Lampung, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Gorontalo, Sulawesi Selatan, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Papua Selatan, dan Jawa Timur.
Klaster perunggasan tersebut merupakan sistem terintegrasi yang mencakup pabrik pakan, fasilitas produksi DOC, serta dukungan vaksinasi. Seluruh fasilitas itu dibangun untuk melayani peternak ayam dan telur skala kecil.
“Ini kita pabrik 12 pertama, nanti 30. Ini kita bangun, ini bangun untuk DOC anak ayam. Jadi memproduksi anak ayam, memproduksi pakan, dan vaksin,” ujar Amran.
Pembangunan klaster perunggasan yang akan menyuplai jutaan peternak itu dijadwalkan dimulai bulan ini melalui peletakan batu pertama sebelum Ramadan.
“Ini dibangun untuk mensuplai yang jutaan peternak kita. Dan itulah solusi permanen nanti. Ini bulan ini sebelum Ramadan, ini groundbreaking,” tutur Amran.
Tokoh dari Sulawesi Selatan itu mengungkapkan, investasi pembangunan klaster perunggasan tersebut melibatkan Danantara (Daya Anagata Nusantara) dengan nilai investasi sekitar Rp 20 triliun.
Selain itu, pemerintah juga menyiapkan pembiayaan Kredit Usaha Rakyat (KUR) sebesar Rp50 triliun untuk mendukung peternak dalam memasok kebutuhan Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Menurut Amran, program MBG membutuhkan tambahan pasokan telur sekitar 1 juta ton dan daging ayam sekitar 1,5 juta ton. “Itulah solusi permanen ke depan,” imbuh dia.
Reporter: Supianto





























