Wamentan Sudaryono Pastikan Ketahanan Pupuk Indonesia

0
Wakil Menteri Pertanian (Wamentan), Sudaryono
Wakil Menteri Pertanian (Wamentan), Sudaryono didampingi Direktur Utama PT Pupuk Indonesia (Persero), Rahmad Pribadi memberikan keterangan pers denan Duta Besar India untuk Indonesia, Sandeep Chakravorty, di Kantor Pusat Kementerian Pertanian (Kementan), Jakarta, Kamis (16/4). Dok: Kementan

Wakil Menteri Pertanian (Wamentan), Sudaryono menegaskan ketahanan pupuk Indonesia, terutama Urea tetap kuat dan tidak terdampak gangguan rantai pasok global akibat konflik geopolitik.

Hal itu disampaikan Sudaryono usai menerima Duta Besar India untuk Indonesia, Sandeep Chakravorty, di Kantor Pusat Kementerian Pertanian (Kementan), Jakarta, Kamis (16/4).

Ia menjelaskan, produksi pupuk nasional saat ini mencapai sekitar 14 juta ton per tahun. Dari jumlah tersebut, sambungnya, terdapat potensi kelebihan (excess) produksi Urea sebesar sekitar 1,5 juta ton.

“Sehingga tidak perlu khawatir, tidak perlu cemas pupuknya cukup bahkan berlebih dan lebihnya kita sedang hitung untuk bisa diekspor ke beberapa negara sahabat yang penting bagi Indonesia yang salah satunya adalah India,” katanya.

Sudaryono  menyampaikan, India merupakan mitra penting Indonesia, tidak hanya dalam perdagangan, tetapi juga hubungan budaya dan kerja sama ekonomi.

“Hari ini kita mendiskusikan salah satu topik utamanya adalah bagaimana India itu kemudian bisa mengamankan kebutuhan pasokan ureanya yang salah satu sumbernya adalah berasal dari Indonesia,” katanya.

Ia menegaskan, pemerintah masih akan melakukan perhitungan lebih lanjut sebelum menetapkan alokasi ekspor. Jika benar terdapat kelebihan produksi setelah kebutuhan dalam negeri terpenuhi, maka salah satu negara tujuan ekspor yang dipertimbangkan adalah India.

Negeri berjuluk Bollywood itu menjadi salah satu tujuan potensial ekspor pupuk urea Indonesia karena memiliki pola musim tanam yang berbeda dengan Indonesia.

“India musim tanamnya di mulai bulan Juli, Agustus dan September yang juga bertepatan dengan off-season di kita kan? Kalau kita bulan Juli, Agustus kan kita memang bukan musim tanam di Indonesia,” ujarnya.

Sudaryono menegaskan bahwa pada prinsipnya Indonesia siap membuka peluang ekspor urea ke India, namun seluruh mekanisme teknis akan dibahas lebih lanjut antara BUMN pupuk kedua negara.

“Nanti untuk jumlah kemudian term, waktu dan lain sebagainya tentu secara detail akan dibahas antara Pupuk Indonesia Holding Company sebagai BUMN pupuk kita dengan BUMN pupuk di India yang akan menjadi penerimanya lebih detailnya gitu,” katanya.

Sementara itu, Duta Besar India untuk Indonesia, Sandeep Chakravorty menegaskan, India dan Indonesia telah lama menjadi mitra strategis, termasuk dalam mendukung sektor pertanian dan perdagangan produk pertanian yang terjalin secara sehat antara kedua negara.

“India telah lama menjadi mitra Indonesia dan kami telah mendukung sektor pertanian Indonesia. Perdagangan produk pertanian antara India dan Indonesia juga sangat baik. Kami membahas hal-hal tersebut dan melihat bagaimana produktivitas serta produksi pertanian di Indonesia telah meningkat, serta bagaimana kami dapat mendukung hal itu,” katanya.

Sandeep juga menyampaikan bahwa India memiliki permintaan untuk mengimpor pupuk dari Indonesia. Namun ia menegaskan bahwa Indonesia tetap memprioritaskan kebutuhan domestik.

“Ada permintaan dari India untuk mengimpor pupuk dari Indonesia. Bapak Wakil Menteri dengan jelas menyampaikan bahwa ekspor akan dilakukan setelah kebutuhan dalam negeri terpenuhi,” ujarnya.

Ia menambahkan, perbedaan siklus musim tanam antara kedua negara menjadi peluang untuk kerja sama saling melengkapi.

“Kami senang karena siklus pertumbuhan di Indonesia berbeda dengan India. Saat ada kebutuhan di Indonesia, di India sedang off-season, dan sebaliknya. Sehingga kemungkinan adanya surplus bisa terjadi,” katanya.

Jika terdapat surplus, India menyatakan kesiapan untuk membeli pupuk dari Indonesia melalui skema kerja sama government to government (G to G).

“Jika ada surplus, kami akan sangat senang membeli dari Indonesia melalui skema G to G. Kami optimistis dan tim kami akan terus membahasnya, dengan catatan kebutuhan dalam negeri Indonesia tetap dipenuhi terlebih dahulu,” pungkasnya.

Reporter: Supianto

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini