TANGERANG — Indonesia memiliki modal besar untuk menjadi salah satu pemain utama bioekonomi tropis dunia. Kekayaan hayati, keragaman komoditas pertanian, perkebunan dan hortikultura, serta luasnya pasar domestik menjadi fondasi. Persoalannya, bagaimana kekayaan tersebut diubah menjadi produk bernilai tinggi dan menciptakan manfaat ekonomi dari hulu hingga hilir?
Pertanyaan itu akan menjadi salah satu pokok bahasan dalam Seminar Nasional “Masa Depan Pertanian Tropis: Huluisasi dan Hilirisasi untuk Bioekonomi Bernilai Tinggi” yang diselenggarakan Majalah AGRINA pada Rabu, 16 September 2026, di Horti Hall Conference Room, Hall 5-6 ICE BSD, Tangerang.
Forum tersebut mempertemukan sejumlah tokoh dari dunia riset, pemerintah dan pelaku usaha agribisnis untuk membahas masa depan pertanian tropis Indonesia di tengah tuntutan peningkatan produktivitas, inovasi teknologi, keberlanjutan dan penciptaan nilai tambah.
Seminar akan dibuka dengan keynote address Prof. Dr. Ir. Bungaran Saragih, M.Ec., tokoh senior pembangunan pertanian Indonesia. Kehadiran Bungaran diharapkan memberikan perspektif strategis mengenai arah pembangunan pertanian tropis dan bagaimana Indonesia dapat membangun bioekonomi yang tidak berhenti pada produksi bahan mentah.
Konsep bioekonomi semakin relevan ketika sektor pertanian tidak lagi dipandang semata sebagai penghasil pangan dan bahan baku industri. Biomassa, sumber daya genetik, teknologi, data, hingga inovasi pengolahan dapat menjadi sumber nilai ekonomi baru.
Karena itu, penguatan sektor pertanian perlu dilakukan sejak hulu. Produktivitas, kualitas benih dan bibit, inovasi genetika serta teknologi produksi menjadi fondasi sebelum komoditas masuk ke tahap pengolahan dan menciptakan nilai tambah.
Perspektif riset dan inovasi akan dibawa oleh Puji Lestari, Ph.D. dari BRIN. Pengembangan teknologi dan inovasi genetika menjadi salah satu kunci untuk meningkatkan daya saing pertanian tropis. Indonesia memiliki keragaman sumber daya genetik yang besar, tetapi tantangannya adalah bagaimana kekayaan tersebut diterjemahkan menjadi varietas, produk dan teknologi yang memberikan manfaat ekonomi.
Sementara dari sisi pelaku usaha, seminar menghadirkan Ade Wardhana Adinata dari PT Minaqu Indonesia. Perspektif bisnis diperlukan untuk melihat bagaimana komoditas dan sumber daya hayati Indonesia dapat dikembangkan menjadi produk yang memiliki pasar, baik di dalam negeri maupun global.
Hilirisasi menjadi penting karena nilai ekonomi sebuah komoditas tidak selalu berhenti pada produk primer. Pengolahan, pengemasan, standardisasi, branding, teknologi dan akses pasar dapat menentukan seberapa besar nilai yang kembali kepada pelaku usaha dan masyarakat di sepanjang rantai pasok.
Dari sektor pemerintahan, Dr. Ir. Muhammad Taufiq Ratule, M.Si., dari Direktorat Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian, akan memberikan perspektif kebijakan mengenai masa depan hortikultura Indonesia.
Hortikultura memiliki posisi strategis dalam pengembangan bioekonomi tropis karena mencakup beragam komoditas dengan karakteristik nilai ekonomi tinggi. Tantangannya tidak hanya meningkatkan produksi, tetapi juga menjaga kualitas, kontinuitas pasokan, efisiensi rantai pasok dan daya saing produk.
Sementara itu, Jap Hartono dari PT Sawit Sumber Mas Sarana akan membawa perspektif industri perkebunan, khususnya mengenai bagaimana komoditas strategis seperti kelapa sawit dapat terus dikembangkan melalui peningkatan produktivitas dan hilirisasi.
Sawit menjadi salah satu contoh bagaimana komoditas tropis dapat berkembang jauh melampaui produk primer. Minyak sawit telah menjadi bahan baku bagi berbagai produk pangan, oleokimia, energi dan industri lainnya. Tantangannya adalah memastikan pengembangan tersebut semakin efisien, berkelanjutan dan memberikan nilai tambah yang lebih besar.
Dari Komoditas Menjadi Ekosistem Bioekonomi
Seminar AGRINA ini pada dasarnya ingin memperluas cara pandang terhadap pertanian tropis.
Indonesia tidak kekurangan komoditas. Yang menjadi tantangan adalah bagaimana komoditas tersebut dikelola dalam sebuah ekosistem yang menghubungkan riset, teknologi, petani, industri, investasi dan pasar.
Huluisasi menjadi titik awal untuk memperkuat produktivitas dan kualitas. Pada tahap ini, inovasi genetika, teknologi budidaya, mekanisasi, digitalisasi dan pengelolaan sumber daya menjadi penting.
Di sisi lain, hilirisasi menjadi jalan untuk memperpanjang rantai nilai. Produk pertanian tidak berhenti sebagai bahan mentah, tetapi diolah menjadi produk setengah jadi maupun produk akhir dengan nilai ekonomi lebih tinggi.
Keterhubungan antara kedua proses tersebut menjadi semakin penting di tengah persaingan global. Negara-negara produsen komoditas tropis tidak lagi hanya berkompetisi dalam volume produksi, tetapi juga dalam teknologi, kualitas, efisiensi, inovasi dan kemampuan menciptakan produk yang memenuhi kebutuhan konsumen.
Seminar Nasional AGRINA diharapkan menjadi ruang untuk mempertemukan gagasan tersebut dengan realitas industri. Riset perlu bertemu dengan kebutuhan pasar. Kebijakan perlu memberi ruang bagi inovasi. Pelaku usaha membutuhkan kepastian dan dukungan ekosistem. Sementara petani perlu mendapatkan manfaat dari meningkatnya nilai ekonomi komoditas yang mereka hasilkan.
Dengan demikian, masa depan pertanian tropis Indonesia bukan sekadar persoalan meningkatkan produksi, melainkan bagaimana menciptakan bioekonomi bernilai tinggi yang menghubungkan kekayaan hayati dengan teknologi, investasi dan pasar.
Seminar nasional tersebut akan berlangsung pada Rabu, 16 September 2026, pukul 12.00–16.30 WIB, di Horti Hall Conference Room, Hall 5-6 ICE BSD, Tangerang.
Forum ini diharapkan menjadi momentum untuk melihat kembali posisi Indonesia dalam peta bioekonomi tropis dunia: bukan hanya sebagai pemasok bahan baku, tetapi sebagai negara yang mampu menguasai lebih banyak nilai dari hulu hingga hilir.






























