BEKASI — Perkembangan teknologi mengubah kebutuhan tenaga kerja di industri kelapa sawit. Lulusan pendidikan vokasi tidak cukup hanya mengandalkan keterampilan teknis, tetapi dituntut mampu beradaptasi dan memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan produktivitas.
Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah IV, Dr. Lukman, S.T., M.Hum., mengatakan teknologi semestinya tidak dipandang sebagai ancaman terhadap tenaga kerja. Menurut dia, perkembangan teknologi justru harus menjadi instrumen untuk memperkuat kemampuan manusia di dunia kerja.
“Kehadiran teknologi bukanlah untuk menggantikan pekerjaan manusia, melainkan untuk melipatgandakan produktivitas,” kata Lukman dalam sambutannya pada Wisuda Sarjana Terapan ke-IV dan Ahli Madya ke-XVIII Politeknik Kelapa Sawit (PKS) Citra Widya Edukasi (CWE), Minggu, 27 September 2026.
Lukman menyampaikan sambutan secara virtual dalam Sidang Terbuka Senat yang berlangsung di Harris Convention Hall, Bekasi, Jawa Barat. Ia berhalangan hadir secara langsung karena bertepatan dengan agenda kedinasan lain.
Menurut Lukman, perubahan teknologi membuat perguruan tinggi, khususnya pendidikan vokasi, harus terus menyesuaikan diri dengan kebutuhan dunia usaha dan dunia industri. Lulusan tidak cukup hanya memiliki ijazah dan kemampuan akademik, tetapi juga harus memiliki kemampuan untuk belajar dan beradaptasi sepanjang karier.
Pesan itu disampaikan kepada 248 wisudawan Poltek Sawit CWE yang berasal dari lima program studi. Mereka terdiri atas 69 lulusan D3 Budidaya Perkebunan Kelapa Sawit, 69 lulusan D3 Pengolahan Hasil Perkebunan Kelapa Sawit, 70 lulusan D3 Manajemen Logistik, 38 lulusan D4 Teknologi Produksi Tanaman Perkebunan, serta dua lulusan D4 Teknologi Rekayasa Perangkat Lunak.
Komposisi program studi tersebut menunjukkan bahwa kebutuhan industri sawit telah berkembang melampaui pekerjaan teknis di kebun. Rantai industri membutuhkan tenaga profesional di bidang budidaya, pengolahan, logistik, teknologi produksi, hingga teknologi informasi.
Lukman juga memastikan proses penyelenggaraan pendidikan hingga kelulusan di Poltek Sawit CWE telah berjalan sesuai dengan ketentuan dan standar regulasi yang berlaku. Ia mengapresiasi keterhubungan pendidikan yang dikembangkan kampus tersebut dengan kebutuhan industri.
Hubungan itu antara lain terlihat dari penyerapan lulusan. Direktur Poltek Sawit CWE, Ir. St. Nugroho Kristono, M.T., mengatakan 86 orang atau sekitar 34 persen dari total wisudawan telah diterima bekerja sebelum prosesi wisuda berlangsung.
Para lulusan tersebut direkrut sejumlah perusahaan perkebunan dan industri terkait, antara lain Wilmar Group, PT Triputra Agro Persada, PT Ciliandry Anky Abadi, PT Sumber Tani Agung, Hartono Plantation Indonesia (HPI) Agro Group, PT Eagle High Plantations, PT Hamparan Sentosa, Widya Corporation, Julong Group Indonesia, TSH Resources Berhad, PT Surya Sawit Sejati yang merupakan bagian dari United Plantations Berhad, serta ION Network.
Sementara Best Agro International, Citra Borneo Indah Group, dan Harmoni Group masih melakukan proses rekrutmen terhadap sejumlah lulusan.
Nugroho mengatakan tingginya penyerapan tersebut menunjukkan pentingnya keterkaitan antara pendidikan vokasi dan kebutuhan industri. Menurut dia, mahasiswa tidak hanya disiapkan dengan teori, tetapi juga keterampilan yang memungkinkan mereka bekerja dan mengambil keputusan di lapangan.
Namun, kemampuan teknis saja dinilai tidak cukup. Perubahan teknologi dan tuntutan industri membuat lulusan harus memiliki kemampuan beradaptasi.
“Gelar akademis bukanlah akhir dari proses belajar, melainkan awal dari tanggung jawab sosial dan profesional yang lebih besar di tengah masyarakat dan dunia kerja,” ujar Nugroho.
Poltek Sawit CWE sendiri memosisikan diri sebagai pusat pendidikan dan pelatihan sawit terpadu atau One Stop Palm Oil Education and Training Centre. Pendidikan diarahkan untuk menghasilkan sumber daya manusia yang dapat mengisi kebutuhan industri dari sektor hulu hingga hilir.
Di tengah perubahan industri, kebutuhan tersebut semakin beragam. Pengelolaan perkebunan kini bersinggungan dengan mekanisasi, digitalisasi, pengolahan data, efisiensi rantai pasok, serta teknologi produksi. Karena itu, tenaga kerja perkebunan dituntut memahami bidangnya sekaligus mampu mengikuti perkembangan teknologi.
Ketua Badan Pengurus Yayasan Citra Widya Edukasi, Mayjen TNI (Purn.) Dr. E. Djanadi Bimo Prakoso, MPA., M.Sc., menekankan sisi lain yang tidak kalah penting, yakni karakter.
Menurut Bimo, tenaga profesional perkebunan harus memiliki kemampuan teknis yang dibarengi integritas, ketahanan mental, kemampuan bekerja dalam tim, serta kemauan untuk terus belajar.
Ia memperkenalkan formula kesuksesan yang terdiri atas 50 persen pengabdian, kerja keras, integritas, kerja tim, antikorupsi, dan pembelajaran berkelanjutan; 30 persen kepandaian yang berlandaskan etika moral Pancasila dan UUD 1945; serta 20 persen kesemaptaan jasmani.
Poltek Sawit CWE juga membekali para lulusan dengan tiga karakter yang disebut sebagai identitas planters muda, yakni tanggap, tanggon, dan trengginas.
Tanggap berarti mampu berpikir tajam dan membaca situasi dengan cepat. Tanggon merujuk pada ketahanan mental, integritas, dan keteguhan menghadapi tekanan. Sedangkan trengginas berarti memiliki ketangkasan fisik dan kecepatan bertindak.
Bagi para wisudawan, tantangan setelah meninggalkan kampus tidak lagi berada di ruang kelas. Mereka harus berhadapan dengan target produksi, persoalan lapangan, dinamika organisasi, perkembangan teknologi, dan tuntutan efisiensi industri.
Perwakilan wisudawan, Ariska dari Program Studi D3 Budidaya Perkebunan Kelapa Sawit, mengatakan kelulusan merupakan awal perjalanan baru. Ia menyampaikan apresiasi kepada orang tua yang terus memberikan dukungan dan doa selama masa pendidikan, serta kepada Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) dan perusahaan mitra yang memberikan dukungan beasiswa.
“Hari ini toga telah kita kenakan dan tali kuncir telah dipindahkan. Namun ingat, ini bukanlah garis akhir, melainkan garis awal petualangan sesungguhnya,” ujar Ariska.
Pesan Lukman tentang teknologi menjadi relevan bagi para lulusan yang segera memasuki industri. Perubahan teknologi tidak hanya mengubah cara pekerjaan dilakukan, tetapi juga mengubah kompetensi yang dibutuhkan perusahaan.
Karena itu, kemampuan untuk terus belajar menjadi bagian penting dari perjalanan mereka setelah wisuda. Teknologi dapat mempercepat pekerjaan, meningkatkan akurasi, dan mendorong produktivitas, tetapi manfaatnya bergantung pada kemampuan manusia dalam menguasai dan menggunakannya.
Sebanyak 248 lulusan Poltek Sawit CWE kini memasuki dunia profesional dengan latar pendidikan yang berbeda. Sebagian bahkan telah memperoleh pekerjaan sebelum mengenakan toga.
Bagi mereka, pesan Lukman bukan sekadar nasihat menjelang memasuki dunia kerja. Ia menjadi pengingat bahwa gelar dan keterampilan yang diperoleh di kampus harus terus berkembang mengikuti perubahan industri.
“Jadilah lulusan yang adaptif, bijak, dan senantiasa menjaga nama baik almamater di mana pun kalian berada,” kata Lukman.






























