Pemerintah Argentina membuka pasar selebar-lebarnya bagi produk pertanian Indonesia sebagai bagian dari upaya memperkuat hubungan dagang antara kedua negara.
Hal ini disampaikan Wakil Menteri Pertanian Argentina, Agustin Tejeda Rodriguez setelah bertemu dengan Wakil Menteri Pertanian (Wamentan), Sudaryono di Kantor Pusat Kementerian Pertanian (Kementan), Jakarta, Rabu (14/5).
Agustin menyebut hubungan antara Indonesia dan Argentina memiliki potensi yang sangat besar, tidak hanya dalam bidang perdagangan, tetapi juga investasi dan kerja sama perusahaan internasional.
“Hubungan Indonesia dan Argentina itu bukan hanya dalam hubungan komersial, tapi juga bisa dalam hubungan investasi dan negara,” kata Agustin.
Dia menyebut, kunjungan ini bertujuan untuk mengeksplorasi berbagai kemungkinan kerja sama di sektor pertanian. Salah satu topik utama dalam pertemuan tersebut adalah peluang masuknya daging Argentina ke pasar Indonesia.
“Untuk itu, tadi kita juga mendiskusikan tentang kepentingan Indonesia, apa saja yang Indonesia bisa datangkan ke Argentina, di mana pemerintah Argentina sudah membuka pasar dan kami juga akan membuka pasar untuk produk Indonesia di Argentina,” kata dia.
Sebagai penutup, Agustin menyampaikan harapannya agar kerja sama antara kedua negara terus berlanjut dan semakin erat.
“Kami akan terus bekerja sama dengan baik dan saya harap saya bisa menerima Pak Wakil Menteri dan delegasinya di Buenos Aires,” imbuh dia.
Di tempat yang sama, Sudaryono mengatakan, salah satu agenda utama dalam pertemuan tersebut adalah membahas proposal dari pihak Argentina terkait ekspor produk daging sapi dan bakalan sapi hidup ke Indonesia.
“Kedatangan beliau ke sini salah satu agendanya adalah bagaimana proposal mereka dari Argentina untuk bisa mengekspor produk daging sapi dan juga bakalan sapi hidup ke Indonesia,” jelas Sudaryono.
Menurut dia, Pemerintah Indonesia menanggapi proposal tersebut dengan mempertimbangkan tiga aspek utama. Pertama, terkait kecocokan harga, mengingat jarak geografis antara Argentina dan Indonesia yang sangat jauh.
“Ini negara kan ada di-opposite side of our country kan, ada di balik negara kita, jadi jaraknya jauh sekali bagaimana kesesuaian harga,” jelas Amran.
Aspek kedua adalah prinsip resiprokal dalam hubungan dagang. Pemerintah Indonesia mendorong agar ekspor dari negara mitra juga dibarengi dengan terbukanya peluang bagi produk Indonesia untuk masuk ke pasar negara tersebut.
“Jadi, kalau ada barang yang diekspor dari negara lain ke Indonesia, maka kita ingin sebagai gantinya, kita juga ingin mengekspor barang-barang kita yang dibutuhkan oleh negara tujuan itu,” kata Sudaryono.
Dia menambahkan, Indonesia saat ini mengalami oversupply untuk daging ayam dan produk olahannya, sehingga pihaknya juga mengusulkan agar produk unggas Indonesia dapat masuk ke pasar Argentina sebagai bagian dari kerja sama timbal balik.
Aspek ketiga yang ditekankan Indonesia adalah pentingnya sertifikasi halal. Selain memenuhi standar kesehatan hewan, produk impor yang masuk ke pasar Indonesia harus memiliki sertifikasi halal mengingat mayoritas penduduk Indonesia beragama Islam.
“Sertifikasi halal ini sangat penting bagi kami, baik untuk produk makanan mentah maupun makanan olahan. Ini menjadi salah satu isu utama dalam konsumsi masyarakat Indonesia,” tegas dia.






























