
Badan Pangan Nasional (Bapanas) memastikan tingginya harga cabai rawit keriting bukan disebabkan oleh kurangnya produksi. Kenaikan harga lebih dipicu oleh kendala panen di tengah cuaca ekstrem dan faktor tenaga kerja.
Hal tersebut disampaikan Deputi Bidang Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Badan Pangan Nasional (Bapanas), I Gusti Ketut Astawa usai melakukan inspeksi mendadak (sidak) di tiga pasar di Jakarta, yakni Pasar Induk Kramat Jati, Pasar Kramat Jati, dan Pasar Minggu pada Jumat (16/2).
Ketua Pelakasana Satuan Tugas Sapu Bersih (Satgas Saber) Pelanggaran Harga, Keamanan, dan Mutu Pangan mengatakan telah menggelar rapat bersama Bareskrim Polri dan para champion komoditas untuk membahas persoalan tersebut. Dari hasil pembahasan, terdapat dua persoalan utama.
Dia menjelaskan, pada prinsipnya pasokan dan produksi cabai rawit keriting dalam kondisi tinggi dan mencukupi. Namun saat curah hujan meningkat, tenaga kerja enggan melakukan pemetikan karena khawatir cabai cepat busuk.
“Pertama adalah secara prinsip pasokan atau stok itu tinggi, cukup, produksinya tinggi, tapi problemnya adalah petik. Pada saat hujannya tinggi, tenaga kerja yang memetik tidak ada. Tidak berani, karena akan cepat busuk,” jelas dia.
Selain faktor cuaca, sambung dia, periode liburan juga memengaruhi ketersediaan tenaga kerja pemetik. Akibatnya, distribusi cabai ke Pasar Induk Kramat Jati sedikit terkoreksi meskipun produksi di sentra tetap tinggi.
“Tapi secara produksi sangat cukup. Jadi, itu bedanya ya, produksinya sangat cukup, metiknya yang takut karena hujan dan lain sebagainya, mereka tidak berani metik karena akan langsung busuk gitu,” ujar Ketut.
Ketut yang juga Ketua Pelaksana Satgas Saber Pelanggaran Harga, Keamanan, dan Mutu Pangan menegaskan, kenaikan harga tersebut tidak berkaitan dengan praktik penimbunan atau permainan harga oleh pelaku usaha.
“Sebagaimana arahan Bapak Kepala Badan, tentu tegas kita, tidak boleh ada penimbunan, tidak boleh ada kenaikan harga yang tidak wajar,” tegas Ketut.
Berdasarkan hasil pemantauan di Pasar Induk Kramat Jati, harga cabai rawit merah berada di kisaran Rp 80.000 per kilogram, lebih rendah dibandingkan sepekan sebelumnya yang sempat mencapai Rp 90.000 per kg hingga Rp 100.000 per kg.
Ketut berharap dalam dua minggu ke depan harga cabai rawit keriting mulai turun seiring berkurangnya hujan dan normalnya panen.
“Kita dalam dua minggu ke depan mudah-mudahan cuaca sudah mulai, hujannya sudah mulai agak berhenti ya, sehingga kembali normal ya mungkin turunnya bergerak turun seperti itu,” imbuh dia.





























