Guru Besar Institut Pertanian Bogor (IPB) University, Firdaus menyoroti harga gabah petani yang masih dibeli di bawah harga yang ditetapkan oleh pemerintah, yaitu Rp 6.500 per kilogram.
Menurut Firdaus, anjloknya harga gabah terjadi karena kondisi di beberapa daerah hanya terdapat penggilingan kecil sehingga tidak mampu bersaing dengan daerah yang memiliki struktur pasar besar dan sudah kompetitif.
“Harga gabah yang di bawah HPP 6.500 itu memang pada beberapa tempat yang mungkin di situ hanya terdapat penggilingan kecil atau kondisi pembeli gabah itu sifatnya monopsoni atau oligopsoni,” kata dia.
Meski demikian, Firdaus mengatakan bahwa saat ini juga terdapat daerah tertentu yang kondisi gabahnya sudah sesuai dengan HPP pemerintah.
“Nah pada daerah tertentu seperti kasus di Banyuwangi seperti banyak penggilingan besar yang memang strukturnya itu bersaing atau kompetitif maka harga gabah di sana sebetulnya sudah di atas Rp 6.500–Rp 6.700 per kilogram,” katanya.
Untuk itu, Firdaus menambahkan bahwa yang harus dilakukan Bulog saat ini adalah segera memprioritaskan serapan gabahnya ke sejumlah daerah yang hanya memiliki penggilingan kecil.
“Memang prioritasnya harus disitu sehingga tujuan untuk bisa mengoptimalkan harga gabah di petani untuk menjaga keseimbangan produksi bisa tercapai,” tutur Firdaus.
Selama lima tahun terakhir (2020-2024), harga Gabah Kering Panen (GKP) dari bulan Januari hingga April cenderung turun, kecuali pada Januari 2024 yang mencatatkan kenaikan. Namun, pada bulan April di tahun yang sama, harga kembali turun secara drastis.





























