BIO SOLAR B-50 SENJATA EKONOMI, SIAPA YANG UNTUNG ???

0
sampel bahan bakar Biodiesel 50 Persen (B50)
Ilustrasi sampel bahan bakar Biodiesel 50 Persen (B50) yang digunakan dalam pengujian. Dok: BPDP

Kolom
Memet Hakim
Senior Agronomist, Pengamat Sosial

Pada hari Kamis, 9 Juli 2026, Presiden Prabowo resmi meluncurkan Biosolar B50 menggantikan B40, langkah ini merupakan keberanian politik dan konsisten memperkuat ketahanan energi. Sayangnya kemampuan suplai bahan baku sampai saat ini belum berubah, produktivitas minyak sawit masih sangat rendah, hanya sekitar 30 % dari potensinya.

Setiap penambahan campuran biosolar sebesar 10 % memerlukan tambahan minyak sawit sebesar 4 juta ton minyak sawit/tahun, jadi total kebutuhan biosolar untuk menjadi B50 dibutuhkan 19-20 juta ton. Celakanya produksi minyak nasional masih tetap berada di sekitar 50-51 juta ton, kebutuhan dalam negeri lainnya untuk konsumsi dan barang industri berkisar 10 juta ton, sehingga CPO atau turunannya tersisa 20-21 juta ton untuk di ekspor. Kondisi saat ini bisa membuat B90, tetapi tidak ada yang dapat diekspor, artinya negara produsen minyak sawit lain yang menikmati hasilnya.

Dengan perubahan menjadi B50, impor minyak solar sebanyak 19 juta ton dapat dihentikan, artinya ada penghematan sebesar Rp 157 trilyun, akan tetapi ada kehilangan devisa dari minyak sawit tersebut sebesar Rp 397 triyun. Perhitungan ekonomi ini tidak menjadi penting tatkala menyangkut kepentingan dan kebanggaan nasional serta kedaulatan ekonomi. Itulah harga yang harus kita raih, tidak ada pengorbanan sia-sia.

Ingat sekitar 20 % pangsa pasar CPO ke Eropa Barat pernah diboikot oleh EUDR (Eropean Union Deforestation Regulation), tahun 2022 yl, dengan alasan deforestasi dan merusak lingkungan. Keputusan membuat Bio Solar untuk menyerap kelebihan minyak sawit yang tidak dapat diekspor adalah keputusan terbaik, sehingga kelebihan pasokan dapat diserap dengan baik di dalam negeri. Akibatnya harga minyak sawit kembali stabil. Kini Eropa barat sudah mencabut boikot itu, bahkan memerlukan minyak sawit Indonesia. Ya Indonesia telah menggunakan minyak sawit sebagai alat diplomasi dan memperkuat daya tawar.

Indonesia adalah negara pertama yang menggunakan B-50 dan merupakan negara pertama juga yang dapat menggunakan minyak sawit menjadi Bensa (Bensin Sawit). Indonesia adalah pionir dalam penggunaan energi terbarukan di dunia. Brazil memang sudah lama menggunakan bio etanol dari tanaman tebu, tetapi untuk kelapa sawit adalah Indonesia pionirnya. Apabila disiapkan pupuk bersubsidi, tentu produksi minyak sawit akan meningkat, katakanlah menjadi 70 juta ton minyak sawit/tahun, sehingga ada 20 juta ton lagi untuk menjadi campuran bensin. Kelak Indonesia benar-benar dapat menghentikan impor bensin juga.
Ada perbedaan harga (setelah pajak dan Pungutan ekspor) yang mencolok antara harga minyak sawit dalam negeri dan luar negeri misal : July 2026 : di Dalam Negeri (KPBN) : Rp 16.036, Harga Kuala Lumpur sekitar Rp 16.011 tetapi di Rotterdam sekitar Rp 23.346. Jika kita konversi ke TBS, maka harganya menjadi Rp 3.980, Rp 3.975 dan Rp 5.662 per kg Tbs, sedang realita di lapangan sekitar Rp 3.800. Semoga PT Danantara Sumberdaya Indonesia sebagai pemegang mandat satu-satunya untuk ekspor sawit dapat memperbaiki nasib petani dan pengusaha sawit.

Sebenarnya ekspor CPO sangat rendah jumlahnya, hampir seluruhnya yang diekspor adalah bentuk olahan yang sudah barang tentu harganya lebih tinggi dari CPO itu sendiri. Jadi perhitungan devisa yang 397 trilyun dapat bertambah besar lagi. Pajak minyak sawit di Dalam Negeri hanya dihitung PPN sebesar 11 %, ekspor menurut BK & PE ke KL dan Rotterdam masing-masing 23,48 % & 17.39 %. Pendapatan negara dalam bentuk pajak ini dapat bertambah jika produktivitas sawit berhasil ditingkatkan.

Petani kaya, rakyat sehat, negara kuat, perlu dukungan menteri pertanian dan DPR untuk memberikan fasilitas pupuk subsidi bagi seluruh komoditi perkebunan, agar ada peningkatan, sehingga uang yang masuk ke kas negara juga semakin besar. Selain itu tersedia rekayasa teknik agronomi yang disebut Production Force management dapat meningkatkan produktivitasnya antara 30-80 %.

Harga Solar fosil dan bio solar relatif seimbang. Kita hitung dengan asumsi harga crude oil : 70 usd/barrel setelah dikonversi dan ditambah biaya angkut, olah & distribusi menjadi Rp12.000-13.000/liter, sedang harga bio solar sekitar Rp 14.015-14.562/liter.

Malaysia adalah negara penghasil dan pengekpor minyak sawit, akan tetapi tercatat ada impor sekitar 1.5 juta ton dari Indonesia. Produksi nasional Malaysia sendiri sekitar 20 juta ton, (40 % dari Indonesia), sedang kebutuhan dalam negerinya hanya 3 juta ton, jadi Malaysia mengekpor minyak sawitnya sebanyak 18.5 juta ton, hampir seimbang dengan ekspor Indonesia sebanyak 21 juta ton.

Data ini menunjukkan bahwa Malaysia mendapatakan keuntungan dari kelapa sawit Indonesia. Mungkin juga kebun sawit perusahaan Malaysia yang ada di Indonesia merupakan cabang produksi mereka. “Indonesia tidak mendapat manfaat apa-apa” selain pajak berupa BK dan PE, jadi merupakan investasi hasil konspirasi atara pejabat Indonesia dengan pengusaha Malaysia yang merugikan.

Oleh karena itu, seluruh kebun sawit asing, harus membayar royalty yang wajar kepada pemerintah Indonesia, agar ada pembagian keuntungan yang berimbang, misalnya 50:50. Jika dilaksanakan setidaknya ada tambahan sekitar 450 trilyun masuk kas negara dari sektor PNBP.

Bandung, 12 July 2026

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini